Meskipun adopsi AI di Indonesia mencapai angka 96%, data dari Kementerian Komunikasi dan Digital menunjukkan bahwa hanya 12% yang berhasil menghasilkan dampak bisnis nyata.
Menanggapi kesenjangan ini, BytePlus memperkenalkan BytePlus ModelArk, sebuah platform terpadu untuk Large Language Models (LLM), serta rangkaian model Seed yang mencakup Dola Seed 2.0 untuk penalaran, Dreamina Seedance 2.0 untuk pembuatan video dinamis, dan Dola Seedream 5.0 untuk penghasil gambar berbasis bahasa alami.
Leon Chen, Regional Lead BytePlus untuk Indonesia dan Malaysia, menyatakan bahwa AI adalah katalis utama bagi pertumbuhan berkelanjutan. Solusi ini memungkinkan perusahaan meningkatkan pengalaman pelanggan dan mempercepat inovasi di pasar yang dinamis.
Dampak nyata teknologi ini telah dirasakan oleh Transjakarta. Dengan mengintegrasikan chatbot AI BytePlus ke aplikasi TJ, penumpang dapat mengakses rute dan jadwal secara real-time melalui interaksi bahasa alami.
Kinerja sistem ini mampu mengurangi waktu penanganan pertanyaan pelanggan hingga 93,82%. Raditya Maulana Rusdi, Direktur Sistem Teknologi Informasi dan Pelayanan Transjakarta, menekankan bahwa skalabilitas ini memastikan komuter menerima informasi akurat tanpa delay, bahkan pada jam sibuk.
Keberhasilan serupa dialami oleh Volantis Technology. Perusahaan pengelola data ini menggunakan model Seed 1.8 Pro untuk menyatukan data yang terfragmentasi. Integrasi ini memberikan efisiensi biaya operasional sebesar 40-50% dengan tingkat akurasi respons di atas 95%. Efisiensi tersebut memungkinkan Volantis berekspansi ke pasar B2C melalui asisten AI bernama Sophia.
BytePlus, sebagai bagian dari ByteDance, terus memposisikan diri sebagai mitra strategis dalam agenda pemerintah untuk meningkatkan produktivitas nasional dan memperkuat ekosistem digital Indonesia yang tangguh. Melalui solusi AI dan cloud yang skalabel, BytePlus berharap lebih banyak perusahaan dapat mendorong transformasi digital yang berdampak luas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News