BRIN kembangkan AI untuk prediksi badai matahari
BRIN kembangkan AI untuk prediksi badai matahari

BRIN Kembangkan AI untuk Prediksi Badai Matahari

Mohamad Mamduh • 29 Juni 2026 12:11
Ringkasnya gini..
  • Untuk menjawab tantangan tersebut, tim peneliti BRIN menggabungkan Drag-Based Model (DBM) dengan algoritma Random Forest AI.
  • BRIN menargetkan pengembangan kerangka kerja Research in AI for Space yang berfungsi sebagai sistem peringatan dini cuaca antariksa.
  • Ini juga menjadi perlindungan terhadap infrastruktur vital yang menopang kehidupan sehari-hari masyarakat.
Jakarta: Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengumumkan terobosan baru dalam pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk memprediksi badai Matahari. Inovasi ini diharapkan mampu memberikan peringatan dini yang lebih akurat bagi satelit, sistem komunikasi, dan infrastruktur penting di Bumi.
 
Badai Matahari, yang dipicu oleh lontaran plasma dan medan magnet besar dari Matahari atau Coronal Mass Ejection (CME), dapat menimbulkan gangguan serius pada sistem navigasi, komunikasi radio, hingga jaringan listrik. Selama ini, model fisika konvensional kesulitan memprediksi waktu kedatangan CME karena harus menembus angin surya yang dinamis.
 
Untuk menjawab tantangan tersebut, tim peneliti BRIN menggabungkan Drag-Based Model (DBM) dengan algoritma Random Forest AI. Model ini dilatih menggunakan data historis dari dua siklus aktivitas Matahari. Hasilnya, sistem hibrida fisika-AI ini mampu memprediksi waktu tempuh CME dengan rata-rata kesalahan sekitar 8,7 jam, lebih akurat dibandingkan model DBM standar.

Dr. Rhorom Priyatikanto, peneliti BRIN menjelaskan, “Dengan pendekatan hibrida ini, kami bisa memberikan alarm dini yang lebih tepat waktu. Operator satelit dan pengelola infrastruktur kritis dapat mengambil langkah antisipasi sebelum badai Matahari benar-benar tiba.”
 
Selain itu, BRIN menargetkan pengembangan kerangka kerja Research in AI for Space yang berfungsi sebagai sistem peringatan dini cuaca antariksa. Sistem ini diharapkan mampu berdiri secara mandiri, tangguh, dan berkelanjutan, sehingga Indonesia tidak hanya bergantung pada data internasional.
 
Menurut Dr. Rhorom, langkah ini juga menegaskan komitmen Indonesia dalam memperkuat ekosistem riset antariksa berbasis AI. “Kami ingin Indonesia memiliki sistem peringatan dini cuaca antariksa yang bisa diandalkan, sekaligus menjadi bagian dari kontribusi global dalam mitigasi risiko badai Matahari,” ujarnya.
 
BRIN menekankan bahwa riset ini bukan hanya soal prediksi ilmiah. Ini juga menjadi perlindungan terhadap infrastruktur vital yang menopang kehidupan sehari-hari masyarakat.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA