Made mengatakan, saat ini, lembaga pendidikan sudah dapat menggunakan teknologi untuk keperluan administrasi mereka, tetapi teknologi belum digunakan untuk pada proses belajar mengajar. Made percaya bahwa penggunaan teknologi dapat membuat proses belajar mengajar menjadi lebih efektif.
Untuk masuk ke dalam dunia pendidikan, Fujitsu menawarkan beberapa solusi yang berbeda. Salah satunya adalah Student Portfolio System. Dengan menggunakan sistem ini, sebuah institusi pendidikan dapat mengetahui data siswa mereka secara lengkap.
Sistem ini juga dapat membantu pihak sekolah/universitas untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan dari para siswanya. Dengan begitu, diharapkan lembaga pendidikan dapat memberikan pendekatakan pembelajaran yang sesuai dengan sifat murid.
Solusi lainnya yang ditawarkan Fujitsu adalah Learning Management System. Sistem ini memungkinkan lembaga pendidikan untuk menganalisis perilaku siswanya. Dengan begitu, diharapkan jika performa seorang murid mulai menurun, maka hal ini dapat dengan cepat terdeteksi dan diatasi.
Fujitsu berharap solusi seperti ini dapat diterapkan baik di jenjang SD, SMP dan Universitas. Made mengatakan, salah satu cara untuk memanfaatkan teknologi di sekolah adalah dengan memberikan tablet pada siswa.
Hal ini diharapkan akan dapat meningkatkan interaksi antar-murid dan guru melalui tablet tersebut. Untuk mencegah tablet siswa disalahgunakan, tablet tersebut seharusnya terlindungi oleh password.
"Sehingga tablet tersebut hanya dapat digunakan untuk kegiatan pembelajaran saja," kata Made.
Dia menmabhkan, penggunaan teknologi dalam proses pembelajaran ini juga tak lepas dengan peran para pengajar sebagai pengawas. Guru harus dapat memastikan bahwa para muridnya menggunakan teknologi yang diberikan dengan sesuai. Karena itulah, seorang guru harus sudah memenuhi kualifikasi tertentu.
"Harus lulus S1, misalnya," kata Made."Selain itu, mereka juga sudah harus melek teknologi."
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News