Facebook bisa terkena denda jika tak penuhi permintaan Prancis. (AFP PHOTO / Lionel BONAVENTURE)
Facebook bisa terkena denda jika tak penuhi permintaan Prancis. (AFP PHOTO / Lionel BONAVENTURE)

Prancis Ingin Denda Facebook Soal Ujaran Kebencian

Teknologi media sosial facebook
Ellavie Ichlasa Amalia • 06 Juli 2019 12:51
Jakarta:Regulator Prancis menyetujui peraturan yang akan memaksa perusahaan teknologi seperti Facebook dan Google untuk menghapus konten yang dianggap sebagai "ujaran kebencian" oleh pemerintah Prancis.
 
Hal ini disampaikan oleh Associate Press. Ini adalah bagian dari regulasi internet yang diadopsi oleh Majelis Rendah dari Parlemen Prancis.
 
Jika regulasi ini sepenuhnya diimplementasikan, ia akan memaksa perusahaan jejaring sosial untuk menghapus konten kebencian dalam waktu 24 jam setelah konten itu ditandai. Menurut New York Times, regulasi ini kini akan dibahas dibahas oleh Senat.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dalam peraturan ini, perusahaan teknologi harus menghapus konten yang mendorong kekerasan atau diskriminasi berdasarkan ras atau agama seseorang. Selain itu, konten lain yang harus dihapus adalah pornografi anak.
 
Jika platform tidak menghapuskan konten tersebut dalam waktu yang telah ditentukan, mereka bisa dikenakan denda sebesar EUR1,25 juta, menurut laporan The Verge.
 
Peraturan ini diajukan oleh Presiden Prancis, Emmanuel Macron pada tahun ini. Alasannya karena dia menyadari adanya peningkatan dalam serangan pada bangsa Yahudi dan bahasa serta perlakuan ekstrem di dunia maya.
 
Namun, regulator Prancis masih belum bisa menentukan definisi dari ujaran kebencian dalam peraturan ini.
 
Pada 2018, Jerman menyetujui peraturan serupa yang aktif pada 1 Januari lalu. Regulasi tersebut memaksa jejaring sosial untuk menghapus konten ilegal menurut hukum Jerman dalam waktu 24 jam. Denda yang dikenakan Jerman lebih besar, mencapai EUR50 juta.
 
Platform media sosial didorong untuk menghapus konten kebencian setelah terjadinya tragedi di Christchurch, Selandia Baru.
 
Ketika itu, pelaku penembakan massal menyiarkan ketika dia menembaki orang-orang yang ada di masjid. Dia juga menyebarkan propaganda superioritas kulit putih di media sosial.
 

(MMI)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif