Ada Bahaya di Balik Perkembangan Pesat Kecerdasan Buatan

Lufthi Anggraeni 08 Juni 2018 11:33 WIB
huaweikecerdasan buatan
Ada Bahaya di Balik Perkembangan Pesat Kecerdasan Buatan
Teknologi kecerdasan buatan dinilai masih memiliki potensi kerentanan yang besar dan berbahaya.
Jakarta: Teknologi kecerdasan buatan (AI) menjadi teknologi dengan pertumbuhan yang dinilai sejumlah pihak pesat. Namun pertumbuhan pesat tersebut juga disertai dengan bahaya yang hanya dimiliki oleh teknologi ini.

Salah satu contoh kerentanan pada teknologi AI dialami oleh produsen mobil Tesla. Model S buatannya mengalami kecelakaan saat dalam mode pengemudian otomatis. Hal ini mendorong sejumlah pihak menuntut ketersediaan regulasi yang mengatur teknologi ini.

"AI belum ada ketika pemerintah membuat aturan. Menurut saya, harus dibuat regulasinya, peraturan baru, untuk mengatur dan mengetahui pihak yang bertanggung jawab saat kejadian seperti kecelakaan Tesla terjadi pada perangkat berteknologi AI," ujar CTO Huawei EBG Industry Solution Joe So.


Sebagai informasi, Tesla model S mengalami serangkaian kecelakaan saat tengah menguji mode pengemudian otomatis di wilayah Amerika Serikat. Salah satunya terjadi di Utah, saat Tesla Model S menabrak truk yang berhenti di depannya ketika lampu lalu lintas berubah menjadi merah.

Selain itu, Jo menekankan pentingnya riset mendalam sebelum menciptakan regulasi terkait dengan teknologi ini. Sebab menurutnya, teknologi AI juga memiliki kerentanan yang berpotensi menciptakan masalah di kemudian hari.

Memiliki kendali atas teknologi AI serta memastikan AI aman dari serangan siber merupakan prioritas yang harus dipahami dan dilakukan oleh pihak yang menggunakan teknologi ini, seperti yang disampaikan konsultan Roland Berger Strategy Consultants Low John.

John juga mengatakan, salah satu masalah yang kerap dialami oleh pengguna teknologi AI adalah keterlambatan untuk menyadari betapa pentingnya melindungi AI dari serangan siber. John menyebut, pengguna harus memiliki kendali penuh sehingga tidak membiarkan teknologi ini mengendalikan mereka.

Di tengah penjelasan sisi negatif dari AI yang disampaikannya, John menyebut teknologi AI memiliki sisi positif yang memiliki manfaat tinggi, terutama untuk bisnis. Berbagai manfaat yang diusung oleh teknologi ini turut membantu pengguna dalam memangkas biaya pengeluaran, membuat bisnis lebih efisien, dan meningkatkan kualitas pelayanan pada pelanggan.



(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Medcom.id

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-8700K, AMD Ryzen 7 2700X
  • Motherboard: ASUS PRIME Z370-A, MSI X470 Gaming Plus
  • VGA: Colorful iGame GTX 1070 X-TOP-8G, ASUS Strix Vega 64
  • RAM: Apacer Panther RAGE 2400MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Apacer Panther AS340 240GB + Seagate Barracuda 8TB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Mouse: Logitech G903, Logitech G603
  • Keyboard: Logitech G610 Orion, Logitech G613
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark, CineBench R15 Gaming (PC): The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity - Escalation, Far Cry 5 Gaming (Mobile): PUBG Mobile

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak untuk benchmark, kami hanya memilih dua berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.