Google Ditekan Demi Berhenti Kerja Sama dengan Huawei
Badan legislatif Amerika Serikat mendorong Alphabet dan Google untuk mempertimbangkan kerja samanya dengan Huawei.
Jakarta: Badan legislatif Amerika Serikat mendorong induk perusahaan Google, Alphabet, untuk mempertimbangkan kembali kerja samanya dengan perusahaan teknologi asal Tiongkok, Huawei.

Dorongan tersebut didukung alasan terkait risiko serius yang dapat dihadirkannya untuk keamanan nasional Amerika Serikat.

Dalam surat yang diajukan kepada CEO Google Sundar Pichai Rabu lalu, baik anggota badan legislatif dari partai Republik dan Demokrat menyebut mereka mengkhawatirkan kerja sama strategis antara Google dan Huawei. Keduanya memiliki riwayat kerja sama jangka panjang.


Saat ini, Huawei yang merupakan produsen smartphone terbesar ketiga di dunia berdasarkan pangsa pasar, menggunakan sistem operasi mobile Android karya Google pada perangkatnya.

Pada bulan Januari, keduanya menjalin kerja sama untuk mengembangkan standar baru terkait dengan layanan pesan di ponsel mobile.

Selain smartphone, Huawei merupakan perusahaan teknologi yang memproduksi perangkat elektronik konsumer, serta peralatan telekomunikasi sebagai bisnis utamanya.

Anggota badan legislatif dinilai tidak menyetujui keputusan Google melanjutkan kerja samanya dengan Huawei, setelah pada awal bulan Juni, memutuskan kerja sama dengan pemerintah Amerika Serikat pada proyek bernama Project Maven.

Proyek ini direncanakan untuk memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) Google menganalisis hasil foto drone guna meningkatkan ketepatan penargetan drone. Banyak pegawai mengutarakan kemarahannya terkait keputusan Google bekerja sama dengan pihak militer.

Google belum memberikan tanggapan resmi terkait dengan permintaan badan legislatif Amerika Serikat tersebut. Demikian juga dengan Huawei, yang belum memberikan tanggapan resmi terkait dengan permintaan badan legislatif Amerika Serikat kepada Google ini.

Ketegangan antara Tiongkok dan Amerika Serikat meningkat dalam beberapa minggu terakhir sebagai dampak peningkatan ketegangan terkait perdagangan antara kedua negara tersebut. Perusahaan teknologi lain yang juga dipermasalahkan oleh Amerika Serikat yaitu ZTE.



(MMI)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Medcom.id

Hardware

  • Prosesor : Intel Core i7-8700K, AMD Ryzen 7 2700X
  • Motherboard : ASUS Z370-A Prime, MSI X470 Gaming Plus
  • RAM : Apacer Panther RAGE 2400 MHz (2x 8GB)
  • VGA : Colorful GTX 1070 X-Top-8G, ASUS ROG Strix RX Vega 64 8G
  • Pendingin : Noctua NH-U21S
  • Storage : Apacer Panther AS340 240GB, Seagate Barracuda 8TB
  • PSU : Corsair RM 850X
  • Monitor : ASUS PB287Q 4K, ASUS MZ27AQ
  • Mouse : Corsair Dark Core SE, Corsair Scimitar Pro
  • Mousepad : Corsair MM1000 Qi, Corsair MM800 Polaris
  • Keyboard : Corsair K63 Wireless, Corsair K70 RGB MK.2 SE
  • Headset : Corsair HS60, Corsair HS70

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark, CineBench R15 Gaming (PC): The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity - Escalation, Far Cry 5 Gaming (Mobile): PUBG Mobile

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak untuk benchmark, kami hanya memilih dua berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.