Ilustrasi
Ilustrasi

Asia Pasifik Untung Besar dari Industri 4.0

Teknologi teknologi cyber security kaspersky
Cahyandaru Kuncorojati • 06 November 2020 10:19
Jakarta: Seiring perkembangan yang terjadi di Asia, terdapat Industri 4.0, yang juga dikenal sebagai digitalisasi industri.
 
Mengalihkan bisnis dan perusahaan ke ruang virtual yang cerdas dan terhubung bukan lagi menjadi pilihan, melainkan kebutuhan untuk bertahan hidup, terutama ditambah akibat tekanan yang ditimbulkan oleh pandemi.
 
Sebuah studi baru oleh Deloitte menunjukkan tren ini dengan sebagian besar (96 persen) perusahaan dari Asia Pasifik (APAC) mengungkapkan bahwa mereka telah melakukan audit untuk menemukan peluang dalam Industri 4.0. Persentase ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata global, sebesar 51 persen.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Tingkat digitalisasi Asia Pasifik masih berada dalam tahap awal hingga akhirnya pandemi memaksa semua orang untuk mempertimbangkan kembali praktik operasional mereka. Kehadiran Industri 4.0 ini merupakan sebuah revolusi yang mengutamakan konsumen sebagai pilar pentingnya. Bersama terobosan seperti Big Data, Internet of Things (IoT), 5G, Industri 4.0 hadir untuk menciptakan masa depan sesuai dengan apa yang kita kehendaki,” komentar Stephan Neumeier, Managing Director untuk Asia Pasifik di Kaspersky.
 
Masa depan yang dikehendaki (Customised future) berarti produk dan layanan diciptakan berdasarkan preferensi konsumen. Ini juga dikenal sebagai "personalisasi", sebuah tren yang diperkenalkan oleh ultra-broadband seluler 4G, yang menghadirkan kekuatan pada ujung jari manusia untuk memanggil taksi saat mereka membutuhkannya, mengalirkan lagu atau konten yang diinginkan, dan banyak lagi.
 
Dengan meningkatnya kemajuan teknologi, mayoritas konsumen (83 persen) menghargai pengalaman yang dipersonalisasi terbukti dengan kesediaan mereka untuk memberikan data demi mewujudkannya. Faktanya, konsumen secara tidak sadar memberikan lebih banyak data daripada yang mereka pikir sebelumnya.
 
Misalnya, sesederhana pilihan lagu yang dibuat beberapa kali dan kemudian dianalisis dapat memungkinkan perusahaan streaming memprediksi suasana hati pengguna pada waktu dan lokasi tertentu. Hal yang sama juga berlaku untuk aplikasi kencan yang dapat mengetahui apakah seseorang dalam keadaan sedih dan rentan, pada jam berapa, hanya berdasarkan jumlah swipe konsumen dari kiri ke kanan.
 
Dalam hal pelacakan lokasi, para konsumen telah membagikan lokasi mereka secara real-time, bahkan sebelum pandemi terjadi.
 
Dengan konsumen menggunakan peta virtual untuk menemukan jalan atau mengetahui situasi lalu lintas, secara langsung juga memberdayakan aplikasi tersebut dalam mengumpulkan sejumlah besar data, sehingga memungkinkannya untuk memprediksi pola perilaku dan fisik mereka. Data tersebut menjadi berisiko apabila akhirnya berada di tangan yang salah.
 
Dengan jumlah informasi tersebut, masa depan yang dikehendaki sangat mungkin terjadi karena banyak perusahaan sekarang mengenal konsumen mereka lebih baik daripada konsumen itu sendiri.
 
Beberapa startup menyadari permintaan tersebut, dan akhirnya mengeksekusi kustomisasi massal mereka. Para pelanggan kini dapat memiliki nama mereka sendiri di sol sepatu mereka, mendapatkan kalung pesanan, serta implan tubuh dan dosis obat yang disesuaikan, dan banyak lagi.
 
Meskipun fenomena tersebut adalah bukti kekuatan teknologi saat dimanfaatkan dengan tepat, namun proses manufaktur yang fleksibel dan sangat terhubung ini juga membuka permukaan serangan yang lebih luas bagi para pelaku kejahatan siber. 
 
Kawasan Asia memperoleh empat dari lima posisi teratas sebagai wilayah berdasarkan persentase komputer sistem kontrol industri (Industrial Control Systems /ICS) yang hampir terinfeksi pada paruh pertama tahun ini. Dalam hal ransomware, wilayah di Asia masih memimpin dengan margin yang mencolok di peringkat regional. Lebih dari separuh negara dalam peringkat 15 teratas berasal dari Asia Pasifik.
 
Contoh penerapan Industri 4.0 yang aman dan menguntungkan telah dilakukan oleh Kaspersky bersama Siemens dalam budidaya ikan terapung cerdas pertama di Singapore Aquaculture Technologies (SAT).
 
Pertama di Singapura dan diharapkan dapat menghasilkan sebanyak 350 ton ikan setiap tahunnya, fasilitas akuakultur senilai SGD4 juta ini disiapkan untuk memenuhi kebutuhan warga Singapura akan ikan berkualitas sembari mengatasi tantangan perubahan iklim yang telah mengakibatkan penurunan populasi ikan.
 
(MMI)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif