F5 Networks merilis laporan menyoal perlindungan data konsumen dari responden di Asia Pasifik.
F5 Networks merilis laporan menyoal perlindungan data konsumen dari responden di Asia Pasifik.

F5 Networks Merilis Laporan Soal Perlindungan Data

Teknologi teknologi f5 networks
Lufthi Anggraeni • 15 Agustus 2020 12:03
Jakarta: F5 merilis laporan bertajuk Curve of Convenience 2020: The Privacy-Convenience Paradox. Laporan ini mengungkap bahwa sebanyak 43 persen konsumen Asia Pasifik berharap perusahaan melindungi data mereka.
 
Selain itu, laporan ini juga menyebut bahwa sebanyak 32 persen responden dari survei yang digunakan sebagai dasar laporan ini meyakini bahwa perlindungan data mereka sebagai konsumen merupakan tanggung jawab pemerintah.
 
Dan lebih dari sembilan dari sepuluh orang atau sekitar 96 persen mengaku lebih memilih kenyamanan dan pengalaman pengguna yang mulus dan tanpa gangguan ketimbang keamanan. Hal ini disebut F5 mengungkap beratnya upaya yang harus dilakukan untuk menemukan keseimbangan antara keamanan dan kenyamanan yang dipikul oleh perusahaan dan pemerintah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pada masa pandemi ini, perusahaan dan pemerintah juga disebut F5 menghadapi tekanan untuk memperkuat kerangka keamanan serta memperketat regulasi serta kepatuhan terhadap kebijakan, mengingat banyak sistem dan penggunanya terekspos akibat mengikuti perubahan kebiasaan digital.
 
Selain itu, agar terus bisa kompetitif dalam kondisi seperti ini, berbagai perusahaan harus terus menyediakan pengalaman digital yang unik, berperforma tinggi, dan aman secara konsisten sembari memenuhi persyaratan dan kewajiban keamanan yang rumit.
 
Laporan Curve of Convenience 2020 juga menunjukkan bahwa 27 persen responden bahkan tidak menyadari pembobolan yang terjadi pada situs pemerintah atau aplikasi yang banyak digunakan. Sehingga, F5 menekankan pentingnya memperlakukan pelanggan seperti sekutu dalam mencapai tujuan bersama untuk pengalaman digital menyenangkan dan aman.
 
“Untuk mengintegrasikan kenyamanan dan keamanan, perusahaan-perusahaan harus melibatkan pelanggan secara proaktif di semua tahap pengembangan aplikasi, bukan hanya pada akhirnya saja,” ujar Senior Vice President Asia Pasifik, China, dan Jepang F5 Adam Judd.
 
Laporan ini juga secara spesifik menyebut bahwa responden dari Indonesia sebesar 79 persen, Tiongkok sebesar 82 persen, dan India sebesar 79 persen, tercatat sebagai responden paling rela berbagai data.
 
Sedangkan responden Jepang sebesar 43 persen, Australia 50 persen, dan Singapura 58 persen adalah pihak dengan tingkat ketidakrelaan mengorbankan data demi pengalaman penggunaan mulus paling rendah.
 
Namun hanya sebesar empat persen responden Asia Pasifik, termasuk Indonesia, berhenti menggunakan aplikasi setelah terjadi pembobolan. Meskipun demikian, laporan ini menggarisbawahi penurunan kepercayaan terhadap perusahaan, dengan perusahaan media sosial mengalami penurunan terbanyak yaitu 19 poin persentase.
 
(MMI)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif