Hidup Pintar Bukan Cuma Otomasi
Pengadopsian smart living di Indonesia masih menghadapi tantangan dan permasalahan tersendiri.
Jakarta: Kemajuan teknologi termasuk dalam hal jaringan telekomunikasi dan internet turut mendorong berbagai kemudahan bagi masyarakat, juga berkenaan dengan gaya hidup cerdas via bantuan teknologi, disebut sebagai smart living.

Smart living dapat dilihat dari sudut pandang bisnis dan konsumen. Dari segi user, smart living mencakup semua aktivitas kehidupan yang bisa dinikmati. Bukan sekadar home automation, tapi setiap aktivitas dalam keseharian, dari rumah, kendaraan, kantor dan smart city,” ujar IT & Electronic Group Head Samsung Indonesia Roy Nugroho, di ajang Disrupto 2018.

Selain itu, untuk dapat menghadirkan pengalaman secara menyeluruh, Roy juga menyebut smart living juga membutuhkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk mendukungnya.


Tidak hanya AI, Roy juga menyebut smart living turut membutuhkan dukungan dari teknologi dengan kecepatan tinggi seperti 5G, guna menciptakan konektivitas yang mulus.

Menjanjikan kemudahan dan kenyamanan, pengadopsian smart living di Indonesia masih menghadapi tantangan. Di Indonesia, smart living dinilai masih berada di level gengsi dan sebagai medium untuk pamer, sehingga masih menjadi kebutuhan tersier dan konsumen masih enggan mengeluarkan banyak dana untuk memperoleh perangkat pendukung.

Hal tersebut dinilai Roy menjadi menjadi penyebab proses adopsi smart living di Indonesia menjadi sulit. Saat ini, pengadopsian smart living masih dalam tahap awal, dan disebut juga akibat kendala infrastruktur serta tingkat literasi yang masih belum memadai.

Smart living juga dinilai Roy memiliki potensi besar di masa depan, meski membutuhkan dukungan dari berbagai pihak dan edukasi pasar agar dapat memanfaatkan teknologi pendukung smart living dengan baik.

Selain itu, meski smart living bertujuan mengefisiensikan aktivitas yang berulang, namun dinilai tidak boleh menjadikan penggunanya menjadi pemalas.

Roy menyebut smart living bertugas mengurangi konsumsi waktu sehingga pengguna bisa memiliki waktu luang untuk aktivitas lain termasuk olahraga.



(MMI)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Medcom.id

Hardware

  • Prosesor : Intel Core i7-8700K, AMD Ryzen 7 2700X
  • Motherboard : ASUS Z370-A Prime, MSI X470 Gaming Plus
  • RAM : Apacer Panther RAGE 2400 MHz (2x 8GB)
  • VGA : Colorful GTX 1070 X-Top-8G, ASUS ROG Strix RX Vega 64 8G
  • Pendingin : Noctua NH-U21S
  • Storage : Apacer Panther AS340 240GB, Seagate Barracuda 8TB
  • PSU : Corsair RM 850X
  • Monitor : ASUS PB287Q 4K, ASUS MZ27AQ
  • Mouse : Corsair Dark Core SE, Corsair Scimitar Pro
  • Mousepad : Corsair MM1000 Qi, Corsair MM800 Polaris
  • Keyboard : Corsair K63 Wireless, Corsair K70 RGB MK.2 SE
  • Headset : Corsair HS60, Corsair HS70

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark, CineBench R15 Gaming (PC): The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity - Escalation, Far Cry 5 Gaming (Mobile): PUBG Mobile

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak untuk benchmark, kami hanya memilih dua berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.