Pengadopsian smart living di Indonesia masih menghadapi tantangan dan permasalahan tersendiri.
Pengadopsian smart living di Indonesia masih menghadapi tantangan dan permasalahan tersendiri.

Hidup Pintar Bukan Cuma Otomasi

Teknologi teknologi
Lufthi Anggraeni • 24 November 2018 13:23
Jakarta: Kemajuan teknologi termasuk dalam hal jaringan telekomunikasi dan internet turut mendorong berbagai kemudahan bagi masyarakat, juga berkenaan dengan gaya hidup cerdas via bantuan teknologi, disebut sebagai smart living.
 
Smart living dapat dilihat dari sudut pandang bisnis dan konsumen. Dari segi user, smart living mencakup semua aktivitas kehidupan yang bisa dinikmati. Bukan sekadar home automation, tapi setiap aktivitas dalam keseharian, dari rumah, kendaraan, kantor dan smart city,” ujar IT & Electronic Group Head Samsung Indonesia Roy Nugroho, di ajang Disrupto 2018.
 
Selain itu, untuk dapat menghadirkan pengalaman secara menyeluruh, Roy juga menyebut smart living juga membutuhkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk mendukungnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Tidak hanya AI, Roy juga menyebut smart living turut membutuhkan dukungan dari teknologi dengan kecepatan tinggi seperti 5G, guna menciptakan konektivitas yang mulus.
 
Menjanjikan kemudahan dan kenyamanan, pengadopsian smart living di Indonesia masih menghadapi tantangan. Di Indonesia, smart living dinilai masih berada di level gengsi dan sebagai medium untuk pamer, sehingga masih menjadi kebutuhan tersier dan konsumen masih enggan mengeluarkan banyak dana untuk memperoleh perangkat pendukung.
 
Hal tersebut dinilai Roy menjadi menjadi penyebab proses adopsi smart living di Indonesia menjadi sulit. Saat ini, pengadopsian smart living masih dalam tahap awal, dan disebut juga akibat kendala infrastruktur serta tingkat literasi yang masih belum memadai.
 
Smart living juga dinilai Roy memiliki potensi besar di masa depan, meski membutuhkan dukungan dari berbagai pihak dan edukasi pasar agar dapat memanfaatkan teknologi pendukung smart living dengan baik.
 
Selain itu, meski smart living bertujuan mengefisiensikan aktivitas yang berulang, namun dinilai tidak boleh menjadikan penggunanya menjadi pemalas.
 
Roy menyebut smart living bertugas mengurangi konsumsi waktu sehingga pengguna bisa memiliki waktu luang untuk aktivitas lain termasuk olahraga.
 

(MMI)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif