Informasi tersebut berasal dari laporan Mark Gurman, yang dikenal sebagai salah satu pengamat Apple. Menurut laporan tersebut, iPhone Ultra 3 yang diperkirakan meluncur pada musim gugur 2028 akan membawa layar lebih besar dibandingkan generasi sebelumnya.
Mengutip Phone Arena, rencana tersebut mengindikasikan Apple telah melihat perangkat foldable sebagai bagian penting dari portofolio iPhone dalam beberapa tahun mendatang. Jika rumor itu akurat, model foldable 2027 berpotensi tidak membawa perubahan besar dari perangkat generasi pertama yang diperkirakan meluncur pada tahun 2026.
Namun, langkah memperbesar layar dinilai belum tentu menjadi faktor utama untuk membuat iPhone foldable lebih populer. Persoalan harga justru dipandang sebagai hambatan terbesar bagi adopsi smartphone layar lipat.
Layar Lebih Besar Belum Tentu Menarik
Ukuran layar memang menjadi salah satu aspek penting dalam persaingan smartphone. Sebagai pengingat, Apple memiliki pengalaman bahwa konsumen cenderung tertarik pada perangkat berukuran besar.Model iPhone Pro Max, misalnya, disebut memiliki performa penjualan lebih baik dibandingkan dengan model iPhone berukuran kecil seperti iPhone 12 mini dan iPhone 13 mini. Meski demikian, ukuran layar bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan sebuah produk.
Apple sebelumnya juga menghadirkan iPhone 14 Plus dan penerusnya dengan layar lebih besar, tetapi model tersebut tidak memperoleh respons pasar sekuat lini Pro Max. Kondisi tersebut menunjukkan konsumen tidak sekadar mencari smartphone dengan layar terbesar.
Konsumen juga mempertimbangkan nilai serta fitur yang ditawarkan dibandingkan harga perangkat. Pertimbangan tersebut menjadi lebih penting pada kategori foldable. Smartphone layar lipat secara umum masih berada di segmen premium dengan harga jauh lebih tinggi dibandingkan dengan smartphone flagship konvensional.
Apple diperkirakan akan menempatkan iPhone foldable pertamanya di kelas premium. Sejumlah laporan sebelumnya menyebut perangkat ini berpotensi memiliki layar internal sekitar 7,8 inci dan layar eksternal sekitar 5,5 inci, dan dikabarkan mengusung desain lipat bergaya buku.
Dengan konfigurasi tersebut, Apple sudah menawarkan area layar besar sejak generasi pertama. Karena itu, memperbesar layar pada generasi berikutnya belum tentu memberikan alasan kuat bagi konsumen untuk beralih.
Harga Jadi Tantangan Utama Foldable
Sejumlah pihak menilai harga masih menjadi salah satu alasan utama smartphone foldable belum menjadi produk mainstream. Perangkat dengan mekanisme layar lipat membutuhkan teknologi serta komponen khusus, sehingga biaya produksinya lebih tinggi dibandingkan dengan smartphone konvensional.Perangkat foldable bergaya buku juga umumnya dijual sebagai smartphone premium dengan harga sekitar dua kali lipat dari sejumlah flagship konvensional. Kondisi tersebut membuat kategori ini masih sulit dijangkau sebagian besar konsumen.
Situasi pasar smartphone secara keseluruhan turut memperkuat persoalan tersebut. Data Omdia dalam laporan yang dikutip PhoneArena memperkirakan harga jual rata-rata smartphone pada 2026 meningkat 21% secara tahunan, dari USD467 (Rp8,3 juta) pada tahun 2025 menjadi USD565 (Rp10,1 juta).
Pada periode sama, pengiriman smartphone global diproyeksikan turun 12,2%. Kenaikan harga tersebut tidak sepenuhnya berkaitan dengan perangkat foldable karena dipengaruhi berbagai kondisi industri, termasuk berkurangnya perangkat murah serta kenaikan harga pada segmen menengah.
Namun, tren tersebut memperlihatkan hubungan antara harga dan permintaan di pasar smartphone. Dalam konteks iPhone Ultra, tantangannya bahkan lebih besar. Jika Apple mempertahankan harga sangat tinggi, layar lebih besar berpotensi hanya menjadi peningkatan tambahan, bukan faktor utama untuk memperluas pasar.
Apple Perlu Tekan Biaya Produksi
Sejumlah pihak menilai Apple justru perlu memprioritaskan penurunan biaya produksi jika ingin iPhone Ultra menjadi produk foldable lebih populer. Harga jual lebih rendah dinilai dapat memberikan dampak lebih besar terhadap permintaan dibandingkan sekadar meningkatkan ukuran layar atau menambahkan fitur baru.Namun, upaya tersebut tidak mudah dilakukan. Produksi smartphone foldable membutuhkan komponen khusus seperti layar fleksibel dan mekanisme engsel. Apple juga harus menjaga standar kualitas sekaligus mempertahankan margin keuntungan.
Tekanan dari sisi rantai pasok turut menjadi tantangan. PhoneArena menilai kondisi industri, termasuk persoalan pasokan memori dan kenaikan biaya komponen elektronik, berpotensi membuat upaya menekan harga menjadi semakin sulit.
Di sisi lain, Apple dilaporkan terus mengembangkan teknologi foldable. Rumor mengenai iPhone Ultra generasi pertama menyebut perusahaan berupaya menghasilkan desain tipis dengan layar lipat yang memiliki lipatan lebih minim.
Perangkat tersebut juga diperkirakan menggunakan Touch ID yang terintegrasi pada tombol samping sebagai pengganti Face ID, meski seluruh detail ini masih sebatas laporan dan rumor. Dengan demikian, rencana memperbesar layar iPhone Ultra 3 pada 2028 menunjukkan Apple masih melihat ruang untuk mengembangkan format foldable.
Namun, keberhasilan perangkat tersebut di pasar kemungkinan tidak hanya ditentukan oleh luas layar. Jika Apple ingin menjadikan iPhone foldable sebagai produk mainstream, harga, ketahanan, pengalaman penggunaan, serta manfaat layar lipat akan menjadi faktor penting.
Sampai Apple memberikan konfirmasi resmi, informasi mengenai iPhone Ultra 3 maupun strategi foldable Apple tetap perlu dipandang sebagai rumor.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda