Ilustrasi: SUSE
Ilustrasi: SUSE

SUSE Luncurkan Alat Penilaian Mandiri Kedaulatan Cloud untuk Sovereign AI

Mohamad Mamduh • 12 Februari 2026 16:39
Ringkasnya gini..
  • Peluncuran ini bertepatan dengan momentum penting bagi perusahaan di APAC.
  • Seluruh proses penilaian otomatis ini dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari 20 menit.
  • Organisasi di kawasan Asia Pasifik dapat mengakses alat penilaian mandiri ini melalui tautan yang disediakan oleh SUSE.
Jakarta: SUSE resmi mengumumkan peluncuran Cloud Sovereignty Framework Self Assessment Tool. Alat berbasis web ini dirancang untuk menjadi panduan bagi organisasi, khususnya di kawasan Asia-Pasifik (APAC), dalam mengidentifikasi kesenjangan strategis digital mereka, sekaligus menyiapkan roadmap teknologi yang solid menuju Sovereign AI.
 
Peluncuran ini bertepatan dengan momentum penting bagi perusahaan di APAC. Kedaulatan digital dan adopsi AI sedang mendorong kembali pertumbuhan cloud, yang menurut prediksi Forrester pada tahun 2026, akan menyaksikan pertumbuhan tahunan yang berlipat ganda.
 
Dalam lanskap yang dinamis ini, organisasi menghadapi risiko operasional yang signifikan jika mereka tidak memiliki kontrol yang terbukti dan terlokalisasi atas keseluruhan tumpukan teknologi AI, terutama karena semakin banyak kerangka kerja kedaulatan digital yang diperkenalkan oleh berbagai negara.

Cloud Sovereignty Framework Self Assessment dari SUSE menawarkan solusi untuk menyederhanakan proses yang sebelumnya kompleks dan sering dilakukan secara manual. Alat ini menjadi acuan awal bagi perusahaan di Asia Pasifik yang ingin memahami tingkat kesiapan Kedaulatan Digital mereka di tengah regulasi yang terus berkembang.
 
Seluruh proses penilaian otomatis ini dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari 20 menit, dan hasilnya akan memberikan skor objektif yang disebut Sovereignty Effective Assurance Level (SEAL). Skor SEAL ini berfungsi untuk mengukur strategi AI organisasi berdasarkan delapan tujuan kedaulatan (sovereignty objectives) yang dianggap krusial.
 
Andreas Prins, Head of Global Sovereign Solutions, SUSE, menekankan bahwa Cloud Sovereignty merupakan fondasi yang tidak dapat dipisahkan dari Sovereign AI. Ia menjelaskan, model AI baru dapat disebut benar-benar otonom jika infrastruktur cloud di belakangnya mampu menjamin residensi data yang terlokalisasi dan kontrol operasional yang memadai.
 
Menurutnya, tanpa tumpukan cloud yang berdaulat, organisasi berisiko mengalami masalah 'black box,' di mana model AI dan data mereka tetap berada di bawah yurisdiksi eksternal, menimbulkan ketergantungan pada satu vendor, dan kerentanan dalam rantai pasok.
 
Dengan meningkatnya perhatian pemerintah dan pemangku kepentingan di APAC terhadap isu Kedaulatan Digital, membangun fondasi yang tepat sejak sekarang akan menjadi kunci bagi perusahaan untuk mengoptimalkan roadmap teknologi agar tetap kompetitif secara global.
Alat penilaian ini juga dilengkapi dengan fitur-fitur utama yang ditujukan untuk perusahaan di APAC.
 
Fitur Benchmark SEAL memetakan infrastruktur AI ke dalam lima tingkat (SEAL 0-4), memungkinkan perusahaan menyelaraskan diri dengan persyaratan sektor publik internasional, misalnya ketika kontrak global mensyaratkan tingkat SEAL-3. Selain itu, Targeted Risk Analysis mengevaluasi delapan tujuan kedaulatan (SOVs), dengan penekanan pada keamanan rantai pasok (20%) dan otonomi operasional (15%).
 
Komitmen pada privasi juga menjadi prioritas. Hasil penilaian disimpan hanya di browser pengguna (Privacy-First and Secure), memastikan organisasi dengan tingkat keamanan tinggi dapat berpartisipasi tanpa khawatir kebocoran data.
 
Hasil penilaian ini kemudian diubah menjadi Strategic Roadmap—sebuah rencana peningkatan yang konkret dan dapat diunduh dalam format PDF—sebagai panduan bagi investasi TI di masa mendatang. Organisasi di kawasan Asia Pasifik dapat mengakses alat penilaian mandiri ini melalui tautan yang disediakan oleh SUSE.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA