Melalui whitepaper terbaru bertajuk “A Business-Centric Framework for Enterprise Cyber-Resilience”, Indosat Business menyoroti kondisi “resilience gap”, yakni ketika laju digitalisasi perusahaan berkembang jauh lebih cepat dibanding kesiapan sistem keamanan sibernya.
Fenomena ini dinilai semakin berbahaya karena ancaman siber modern kini mulai memanfaatkan AI untuk melakukan penipuan identitas, manipulasi suara, hingga serangan digital yang lebih sulit dideteksi.
Dalam whitepaper tersebut, Indosat Business mencatat peningkatan AI-related fraud hingga 1.550 persen di sektor fintech Indonesia. Bentuk ancamannya meliputi deepfake dan AI voice impersonation yang dipakai untuk penipuan berbasis identitas digital.
Ancaman ini muncul seiring makin luasnya penggunaan AI di berbagai sektor bisnis dan layanan digital.
Selain AI fraud, serangan ransomware terhadap institusi strategis nasional juga disebut terus meningkat. Salah satu kasus yang disorot adalah serangan terhadap pusat data nasional Indonesia pada 2024 yang mengganggu lebih dari 200 layanan publik.
Indosat Business juga menyoroti rendahnya kesiapan perusahaan dalam menghadapi ancaman keamanan siber modern.
Mengacu pada Cisco Cybersecurity Readiness Index 2025, hanya sekitar 11 persen organisasi di Indonesia yang dinilai siap menghadapi ancaman siber terkini. Sementara rata-rata kerugian akibat kebocoran data di Indonesia disebut dapat mencapai sekitar Rp15 miliar.
Situasi ini dinilai semakin penting karena perusahaan kini juga harus memenuhi kewajiban dalam Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP), termasuk kemampuan monitoring keamanan siber dan pelaporan insiden maksimal 72 jam.
Indosat: Cyber Resilience Kini Jadi Fondasi Bisnis
Director & Chief Business Officer Indosat Ooredoo Hutchison, Muhammad Buldansyah, mengatakan keamanan siber kini bukan lagi sekadar isu teknologi.“Indonesia sedang memasuki fase baru ekonomi digital, namun pertumbuhan digital juga harus diiringi dengan ketahanan siber yang memadai. Hari ini, cyber resilience bukan lagi isu teknologi semata, tetapi fondasi kepercayaan dan keberlangsungan bisnis,” ujar Muhammad Buldansyah.
Ia menambahkan perusahaan kini membutuhkan pendekatan keamanan siber yang lebih strategis dan adaptif karena ancaman digital berkembang semakin kompleks.
Pakar cybersecurity Dr. Ir. Charles Lim yang terlibat dalam whitepaper tersebut menyebut ancaman siber berbasis AI kini berkembang jauh lebih cepat dibanding sistem pertahanannya.
“Ancaman siber berkembang jauh lebih cepat dan semakin sulit dideteksi, terutama dengan munculnya AI-enabled fraud dan deepfake. Organisasi perlu beralih dari pendekatan yang reaktif menuju cyber resilience yang lebih adaptif dan berkelanjutan,” jelasnya.
Karena itu, Indosat Business mendorong perusahaan mulai membangun cyber resilience melalui pendekatan seperti Zero Trust Architecture, Human Firewall, monitoring keamanan real-time, dan integrasi sistem keamanan digital yang lebih adaptif.
Indosat Business mencatat ekonomi digital Indonesia diproyeksikan mencapai USD 340 miliar pada 2030, didorong oleh perkembangan AI, cloud, IoT, fintech, dan digitalisasi lintas industri.
Namun perusahaan menilai pertumbuhan tersebut harus dibarengi kesiapan keamanan siber yang lebih matang agar transformasi digital tidak justru membuka risiko baru bagi bisnis dan layanan publik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News