Earphone Bluetooth. Foto: istimewa.
Earphone Bluetooth. Foto: istimewa.

Apakah Headphone Bluetooth Berbahaya bagi Otak?

Arif Wicaksono • 24 April 2026 18:34
Jakarta: Penggunaan headphone bluetooth kini semakin melekat dalam gaya hidup modern, terutama untuk mendengarkan musik, bekerja, hingga olahraga. 
 
Namun, di balik kenyamanan tersebut, muncul kembali perdebatan mengenai dampaknya terhadap kesehatan, mulai dari gangguan pendengaran hingga kekhawatiran paparan radiasi elektromagnetik.
 
Baca juga:  Gak Cuma realme 16, TWS realme Buds Clip dan Buds Air8 Juga Rilis di Indonesia

Menurut dr. Alvin Nursalim dari KlikDokter, risiko utama dari penggunaan headphone bluetooth bukan berasal dari teknologi nirkabelnya, melainkan dari kebiasaan pengguna dalam mengatur volume suara. Mendengarkan musik terlalu keras dalam durasi panjang dapat meningkatkan risiko kerusakan gendang telinga dan gangguan pendengaran secara bertahap.
 
Di sisi lain, sejumlah ilmuwan internasional pernah menyampaikan kekhawatiran terkait paparan medan elektromagnetik (PME) dari perangkat nirkabel, termasuk headphone bluetooth. Ratusan peneliti dari berbagai negara bahkan pernah meminta perhatian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan PBB agar memperketat regulasi terkait paparan gelombang elektromagnetik.

Sejumlah publikasi kesehatan, termasuk Healthline, mencatat bahwa sebagian penelitian mengaitkan paparan jangka panjang radiasi frekuensi radio (RFR) dengan berbagai potensi risiko, seperti gangguan neurologis, penurunan fungsi memori, hingga kemungkinan kanker.
 
Namun, temuan ini masih menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan. Pada 2011, International Agency for Research on Cancer (IARC) mengklasifikasikan RFR sebagai “kemungkinan karsinogenik bagi manusia”, terutama berdasarkan studi penggunaan ponsel dan risiko glioma atau kanker otak. Sementara itu, National Toxicology Program (NTP) juga menemukan adanya indikasi kanker pada hewan uji dengan paparan RFR intensitas tinggi.
 
Meski demikian, para peneliti menegaskan temuan tersebut belum dapat secara langsung dikaitkan dengan penggunaan headphone bluetooth pada manusia, terutama pada level paparan yang jauh lebih rendah.
 
Joel M. Moskowitz dari University of California, Berkeley, menyebut meskipun radiasi dari headphone bluetooth lebih rendah dibandingkan ponsel, jaraknya yang sangat dekat dengan kepala tetap menjadi perhatian dalam kajian risiko jangka panjang, terutama jika digunakan dalam durasi lama setiap hari.
 
Namun, pandangan berbeda disampaikan oleh kalangan medis di Indonesia. dr Widya Eka Nugraha, MSiMed, dosen biomedik sel dan molekuler, menegaskan hingga saat ini belum ada bukti ilmiah kuat yang menunjukkan penggunaan headphone bluetooth dapat merusak otak manusia.
 
Ia menjelaskan bahwa gelombang radio yang dipancarkan perangkat tersebut termasuk radiasi non-ionisasi, yang tidak memiliki energi cukup untuk merusak DNA seperti sinar X atau sinar gamma. Efek yang mungkin terjadi hanya berupa pemanasan jaringan dalam skala sangat kecil dan masih berada dalam batas aman standar internasional.
 
Sejumlah tinjauan ilmiah juga menunjukkan bahwa penggunaan perangkat nirkabel, termasuk headphone bluetooth, dalam batas wajar tidak terbukti meningkatkan risiko kanker otak secara signifikan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun menyatakan belum ada bukti konsisten terkait dampak kesehatan serius dari paparan radiofrekuensi di bawah ambang batas aman.

Faktor Kebiasaan Pengguna

Menurut Widya, risiko kesehatan yang lebih sering ditemui justru berasal dari kebiasaan penggunaan headphone bluetooth yang kurang tepat. Contohnya, volume suara terlalu tinggi, penggunaan tanpa jeda dalam waktu lama, serta kebersihan perangkat yang tidak terjaga.
 
Selain gangguan pendengaran, penggunaan headphone bluetooth dalam jangka panjang juga dapat memicu iritasi telinga, infeksi akibat kelembapan, hingga gangguan fokus karena berkurangnya kewaspadaan terhadap lingkungan sekitar. Dalam beberapa kasus, postur tubuh yang buruk saat penggunaan juga dapat menyebabkan nyeri otot dan leher.
 
Terkait sejumlah studi yang mencoba mengaitkan headphone bluetooth dengan kondisi kesehatan tertentu, dr Widya menilai sebagian besar masih memiliki keterbatasan metodologi sehingga belum dapat dijadikan dasar hubungan sebab-akibat yang kuat.
 
Sebagai langkah pencegahan, ia menyarankan pengguna untuk mengatur volume pada tingkat aman, membatasi durasi pemakaian, serta rutin membersihkan perangkat. Jika muncul keluhan seperti nyeri telinga, gangguan pendengaran, atau cairan keluar dari telinga, pengguna disarankan segera memeriksakan diri ke tenaga medis.
 
Untuk alternatif, teknologi headphone dengan konduksi tulang (bone conduction) dapat menjadi pilihan, terutama bagi pengguna yang aktif berolahraga atau sering beraktivitas di ruang publik.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)




TERKAIT

BERITA LAINNYA