Namun di balik tingginya penggunaan AI dalam pekerjaan sehari-hari, masih ada masalah besar yang dinilai belum terselesaikan: minimnya pelatihan yang memadai dari perusahaan.
Temuan tersebut terungkap dalam laporan Deloitte 2026 Gen Z and Millennial Survey yang melibatkan lebih dari 22.500 responden dari 44 negara, termasuk lebih dari 500 Gen Z dan milenial di Indonesia.
Hasil riset menunjukkan tingkat adopsi AI pekerja muda Indonesia jauh melampaui rata-rata global. Sebanyak 87 persen Gen Z dan 88 persen milenial di Indonesia mengaku sudah menggunakan AI dalam pekerjaan sehari-hari.
Angka tersebut berada jauh di atas rata-rata global yang berada di level 74 persen untuk kedua generasi tersebut.
Tidak hanya memakai AI untuk pekerjaan operasional, responden Indonesia juga disebut mulai memanfaatkan AI untuk pengembangan karier jangka panjang, termasuk mencari peluang belajar, mendapatkan saran karier, hingga membantu mengelola stres kerja.
Pekerja Muda Indonesia Disebut Lebih Siap Hadapi AI
Dalam laporan tersebut, Deloitte menilai pekerja muda Indonesia tampil lebih percaya diri dalam penggunaan AI dibanding banyak negara lain.Responden asal Indonesia juga disebut lebih aktif mencari pelatihan baru untuk mengikuti perkembangan teknologi AI yang bergerak cepat. Namun ironisnya, kesempatan pelatihan yang tersedia justru dinilai belum cukup memadai.
Gen Z di Indonesia menyebut kurangnya akses pelatihan efektif sebagai hambatan terbesar dalam penggunaan AI di tempat kerja. Sementara kalangan milenial menganggap minimnya pengalaman dan pengetahuan sebagai tantangan utama mereka.
Selain itu, aturan kepatuhan atau compliance di perusahaan juga dinilai menjadi faktor lain yang membatasi pemanfaatan AI secara lebih luas.
Di sisi lain, literasi digital dan kemampuan menggunakan perangkat otomatisasi berbasis AI menjadi keterampilan yang paling ingin dikembangkan responden Indonesia.
Andika Yalasena, Organization & Transformation Director Deloitte Indonesia, mengatakan antusiasme pekerja muda Indonesia terhadap AI sebenarnya sudah menjadi modal kompetitif yang besar.
“Tenaga kerja muda Indonesia terbukti selangkah lebih maju dibandingkan tren global dalam hal penguasaan AI. Antusiasme mereka untuk meningkatkan keterampilan (upskilling) juga sangat tinggi, yang pada akhirnya menjadi keunggulan kompetitif yang nyata bagi Indonesia,” ujar Andika Yalasena.
Namun menurutnya, talenta digital Indonesia berisiko tertinggal jika perusahaan tidak ikut berinvestasi dalam program pembelajaran yang berkelanjutan.
“Perusahaan yang mau berinvestasi pada program pembelajaran yang terstruktur dan berkelanjutan akan mampu menarik serta mempertahankan talenta-talenta unggul, yang nantinya akan menjadi ujung tombak ekonomi digital Indonesia,” lanjutnya.
Makna Bekerja Kini Lebih Penting untuk Gen Z dan Milenial
Selain soal AI, laporan Deloitte juga menyoroti perubahan cara pandang generasi muda terhadap dunia kerja.Sebanyak 99 persen Gen Z dan 100 persen milenial di Indonesia menyatakan bahwa pekerjaan yang memiliki tujuan atau makna (sense of purpose) menjadi faktor penting bagi kepuasan kerja mereka.
Bahkan, 44 persen Gen Z dan 38 persen milenial di Indonesia mengaku pernah menolak tugas atau tawaran pekerjaan karena tidak sesuai dengan nilai dan prinsip pribadi mereka.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa generasi muda kini tidak hanya mempertimbangkan gaji saat memilih pekerjaan, tetapi juga melihat apakah perusahaan memiliki nilai yang sejalan dengan pandangan pribadi mereka.
Riset ini juga menemukan hubungan sosial di kantor masih memegang peranan penting. Sebanyak 75 persen Gen Z dan 88 persen milenial di Indonesia mengatakan mereka memiliki rekan kerja yang sudah dianggap sebagai teman dekat.
Banyak yang Ingin Jadi Pemimpin, Tapi Takut Burnout
Menariknya, minat terhadap posisi kepemimpinan di Indonesia tergolong tinggi. Sebanyak 85 persen Gen Z dan 81 persen milenial di Indonesia mengaku tertarik menduduki posisi kepemimpinan dalam karir mereka. Angka ini lebih tinggi dibanding rata-rata global yang berada di level 76 persen dan 67 persen.Indonesia juga tercatat cukup menonjol dalam pengalaman memimpin tim. Deloitte mencatat 59 persen Gen Z dan 79 persen milenial di Indonesia sudah pernah mengelola atau mengawasi tim kerja.
Namun meski tertarik memimpin, hanya sedikit yang benar-benar menjadikan posisi kepemimpinan sebagai target karir utama. Saat ini hanya 3 persen Gen Z dan 2 persen milenial yang menjadikan jabatan pemimpin sebagai tujuan utama mereka.
Sebaliknya, kemandirian finansial justru menjadi prioritas terbesar. Gen Z Indonesia lebih banyak mengejar stabilitas keuangan dan menjadi ahli di bidang tertentu, sementara milenial lebih memprioritaskan keseimbangan hidup dan kerja atau work-life balance.
Deloitte menilai keraguan mengambil posisi pemimpin dipengaruhi kekhawatiran terhadap stres, burnout, dan terganggunya work-life balance.
Korupsi Jadi Kekhawatiran Utama Generasi Muda Indonesia
Berbeda dengan banyak negara lain yang lebih mengkhawatirkan biaya hidup, responden Indonesia justru menempatkan korupsi dalam bisnis dan politik sebagai isu sosial utama.Sebanyak 34 persen Gen Z dan 41 persen milenial menyebut isu tersebut sebagai kekhawatiran terbesar mereka. Selain itu, isu perubahan iklim dan lingkungan juga masuk dalam daftar perhatian utama generasi muda Indonesia.
Di saat yang sama, tekanan ekonomi tetap menjadi masalah penting. Deloitte mencatat 54 persen Gen Z dan 43 persen milenial di Indonesia menunda keputusan besar dalam hidup, seperti menikah, melanjutkan pendidikan, atau memulai bisnis karena kondisi finansial.
Masalah harga rumah yang semakin sulit dijangkau juga disebut memengaruhi keputusan karir bagi sebagian besar responden muda di Indonesia.
Iwan Atmawidjaja, Technology & Transformation Leader Deloitte Indonesia, mengatakan generasi muda kini menuntut perusahaan memiliki integritas dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan.
“Gen Z dan milenial secara tegas menuntut perusahaan maupun institusi untuk menjunjung tinggi standar integritas,” ujar Iwan Atmawidjaja.
Menurutnya, perusahaan yang mampu bertahan adalah yang dapat berkembang bersama perubahan generasi muda dan menjadikan adaptasi sebagai proses berkelanjutan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News