Ilustrasi
Ilustrasi

Membebaskan Perusahaan dari 'Dead Zone'

Teknologi teknologi transformasi digital opini teknologi
Cahyandaru Kuncorojati • 14 Januari 2020 16:19
Jakarta: Bayangkan bisnis Anda jatuh ke area yang tak punya apapun kecuali perjuangan, penderitaan, dan pertarungan untuk bertahan hidup. Terlihat seberkas cahaya di horizon tapi untuk mencapainya terasa sulit. Dalam dunia bisnis, inilah yang disebut 'dead zone'.
 
‘Dead zone’ adalah pembunuh banyak mimpi orang, terutama mereka yang terjun ke dunia kewirausahaan. Di 'dead zone' mereka akan mengalami bisnis yang terasa stagnan atau malah cenderung mengalami penurunan dari waktu ke waktu.
 
Mari ambil contoh di dunia startup. Di Indonesia, setidaknya sampai Oktober lalu, ada lebih dari 1.000 startup. Tapi menurut Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), tingkat keberhasilan startup hanya 10-30 persen.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut catatan Bekraf, kebanyakan startup kurang menghasilkan solusi dan produk yang dibutuhkan pasar. Di sisi lain, mereka kurang fokus pada profit sehingga tak dapat bertahan saat bersaing dengan usaha maupun startup lain.
 
Ketika anda mulai merasakan ‘dead zone’, sebenarnya itu adalah tanda-tanda bahwa Anda harus mengubah cara berbisnis. Di era digital ini, ‘dead zone’ banyak dialami oleh bisnis atau perusahaan yang terdisrupsi oleh teknologi.
 
Mereka kalah cepat dalam mengidentifikasi kebutuhan market, kalah cepat menghasilkan produk-produk baru yang inovatif dan dibutuhkan konsumen.
 
Saya teringat akan perkataan Charles Darwin, “Bukanlah spesies terkuat yang bertahan hidup, atau yang paling cerdas yang dapat bertahan hidup. Spesies yang paling mampu beradaptasi, itulah yang akan bertahan hidup.”
 
Akan tetapi, mengadopsi teknologi ke dalam seluruh operasional perusahaan juga perlu strategi. Transformasi digital harus diadopsi secara efisien sebab kadang-kadang perangkat dan solusi teknologi bisa jadi sangat mahal harganya.
 
Tulang punggung sebuah digitalisasi adalah konektivitas internet. Dan untuk mengakses Internet, Anda butuh jaringan, entah itu nirkabel atau pun jaringan kabel. Untuk membangun jaringan tentu harus ada infrastrukturnya.
 
Solusi selayaknya bekerja pada model infrastruktur yang benar-benar serverless atau tanpa server, menggunakan FaaS yang bekerja dalam kecepatan mikrodetik dan punya skalabilitas yang sudah terbukti.
 
Ia juga harus mendukung AI, tak punya batasan untuk berapa banyak perangkat yang akan dikelola per site dan tetap menyajikan kinerja yang tinggi dan dapat diandalkan meski pada saat jumlah perangkat maksimal sudah dicapai.
 
Menurut data Bank Indonesia, uang elektronik yang dikembangkan oleh perusahaan startup di Indonesia telah berkontribusi sampai 69,5 persen dari total sirkulasi instrumen uang elektronik di Indonesia. Market uang elektronik telah dikuasai oleh institusi non-bank.
 
Oleh sebab itu, keamanan jaringan Internet menjadi sangat krusial. Di tengah kekhawatiran tentang kerentanan jaringan Wi-Fi publik, solusi harus menawarkan proteksi keamanan melalui sistem autentifikasi dua faktor untuk melindungi data pengguna, untuk melengkapi infrastruktur cloud Multi-Tenant yang dapat memproteksi data pengguna dan manajemen dengan lebih baik lagi.
 
Pada akhirnya, keandalan jaringan nirkabel memang bukanlah satu-satunya solusi untuk lolos dari ‘dead zone’ di dalam bisnis Anda. Tapi setidaknya, Anda sudah tidak perlu mengkhawatirkan keandalan dan keamanan jaringan nirkabel yang Anda utilisasi ketika perusahaan Anda memutuskan untuk mentransformasi cara berbisnis dengan mengadopsi teknologi digital.
 
(Lawrence Lim, Regional GM, APAC & Middle East, EnGenius Networks)
 

(MMI)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif