Kombinasi ini membuat dampaknya bukan hanya soal file yang terkunci, tetapi juga potensi pengintaian dan pencurian data pribadi dari perangkat korban.
Tim riset zLabs Zimperium menyebut Mantax Otax berkaitan dengan aktor ancaman yang menargetkan pengguna di Indonesia. Malware ini dapat mengambil informasi sensitif, memantau aktivitas perangkat, hingga mengenkripsi file pada perangkat Android versi lama.
Apa Bedanya Ransomware dan Spyware?
Ransomware pada dasarnya adalah malware yang membuat data atau perangkat tidak bisa digunakan, lalu pelaku meminta tebusan agar korban mendapatkan kembali aksesnya.Pada Mantax Otax, mekanisme tersebut terlihat ketika malware mengenkripsi file menggunakan algoritma AES dan mengganti file asli dengan versi terenkripsi berakhiran .enc.
Sementara spyware bekerja dengan cara berbeda. Tujuannya adalah memata-matai korban dan mengambil informasi tanpa sepengetahuan pengguna.
Mantax Otax menggabungkan keduanya. Jadi, korban bisa menghadapi situasi ketika datanya diam-diam dikumpulkan sekaligus dibuat tidak dapat diakses.
Seberapa Berbahaya Mantax Otax?
Kemampuan malware ini cukup luas. Zimperium menemukan Mantax Otax dapat mengambil daftar kontak, riwayat panggilan, SMS, riwayat browser, lokasi, informasi perangkat, hingga file yang tersimpan di ponsel.Malware juga dapat mengambil informasi dari WhatsApp dan Telegram menggunakan layanan Accessibility. Bahkan, pesan SMS yang masuk dapat dipantau, termasuk data sensitif seperti kode OTP.
Ancaman privasi semakin besar karena malware mampu memantau layar secara langsung, mengambil screenshot, merekam aktivitas layar dalam format video, dan melakukan streaming tampilan perangkat hampir secara real-time. Mantax Otax juga dapat menggunakan kamera depan maupun belakang untuk mengambil foto tanpa interaksi pengguna yang terlihat.
Artinya, perangkat yang terinfeksi berpotensi menjadi sumber informasi yang sangat kaya bagi penyerang. Data komunikasi, aktivitas aplikasi, isi layar, sampai informasi yang sedang dilihat pengguna dapat terekspos.
File Android Lama Lebih Rentan Terkena Dampak
Kemampuan ransomware Mantax Otax juga berbeda tergantung versi Android. Pada perangkat yang masih menjalankan Android 9 atau lebih lama, malware dapat menelusuri penyimpanan eksternal secara lebih dalam dan menargetkan sebagian besar data pengguna.Pada perangkat Android 10 ke atas, mekanisme Scoped Storage membatasi akses malware sehingga ruang lingkup file yang bisa dijangkau menjadi jauh lebih kecil.
Setelah proses enkripsi, Mantax Otax dapat menampilkan antarmuka komunikasi langsung dengan pelaku untuk menuntut pembayaran.
Pada versi yang lebih baru, malware bahkan memiliki kemampuan mengunci layar, memblokir aplikasi, menghalangi input sentuhan, serta mengganggu pengguna dengan dialog dan tampilan yang muncul terus-menerus.
Bagaimana Mantax Otax Masuk ke Ponsel?
Salah satu jalur yang ditemukan Zimperium adalah sideloading, yakni pengguna memasang file APK secara manual dari luar toko aplikasi resmi.Sampel Mantax Otax ditemukan di layanan berbagi file pihak ketiga dan berpotensi disebarkan melalui tautan, aplikasi pesan, phishing, maupun rekayasa sosial.
Karena itu, langkah pencegahan paling mendasar adalah tidak sembarangan memasang APK dari tautan yang diterima melalui pesan atau sumber yang tidak dikenal.
Pengguna juga perlu berhati-hati ketika sebuah aplikasi meminta hak akses sangat luas, khususnya izin administrator perangkat dan Accessibility yang dapat memberikan kontrol besar terhadap fungsi Android.
Untuk organisasi, Zimperium menyatakan solusi Mobile Threat Defense (MTD) dan Runtime Application Protection (zDefend) dapat mendeteksi Mantax Otax, sementara penyaringan konten web juga dapat membantu memblokir situs yang mengantarkan malware.
Kasus Mantax Otax menunjukkan bahwa ransomware di perangkat mobile tidak lagi identik dengan sekadar “file dikunci lalu diminta tebusan”. Ketika fungsi ransomware digabung dengan spyware, risiko utamanya meluas menjadi kehilangan akses sekaligus kehilangan privasi.