Berbeda dari kata pada umumnya, “67” hanya berupa angka. Namun, penggunaannya meluas sebagai bagian dari komunikasi sehari-hari di internet, khususnya di kalangan generasi muda seperti gen Alpha.
Apa Itu 67?
Menurut Dictionary.com, “67” merupakan bentuk slang dalam komunikasi digital yang tidak memiliki arti tunggal. Istilah ini lebih sering digunakan sebagai ekspresi spontan dibandingkan kata dengan definisi baku.
Dalam percakapan di media sosial, “67” kerap dipakai untuk merespons situasi secara santai, menunjukkan ketidakpedulian, atau menandakan tidak ingin memperpanjang pembahasan.
Karena sifatnya yang fleksibel, makna “67” bisa berubah tergantung konteks percakapan.
Asal-usul Istilah “67"
Asal-usul istilah ini tidak berasal dari satu sumber, melainkan berkembang dari kombinasi musik, konten viral, dan budaya internet.
Salah satu pemicunya adalah lagu “Doot Doot (6 7)” yang dibawakan oleh Skrilla dan dirilis pada akhir 2024. Dalam lagu tersebut, frasa “six-seven” diulang secara berulang. Pemilihan angka itu disebut tidak memiliki makna khusus, melainkan karena terdengar menarik saat diucapkan.
Tren ini kemudian meluas lewat video viral di TikTok. Salah satu yang paling dikenal adalah kemunculan “6-7 Kid”, seorang anak yang meneriakkan “six-seven!” sambil menggerakkan tangannya secara ritmis. Gaya tersebut kemudian ditiru oleh banyak pengguna dan menjadi ciri khas tren ini.
Sebagian warganet juga mengaitkan angka “67” dengan tinggi badan pemain basket seperti LaMelo Ball yang memiliki tinggi sekitar 6 kaki 7 inci. Namun, kaitan ini lebih dianggap sebagai interpretasi tambahan.
Seiring waktu, berbagai elemen tersebut berpadu dan membuat “67” berkembang menjadi bagian dari bahasa gaul di media sosial.
Makna dan Penggunaan
Kekuatan utama “67” justru terletak pada ketidakjelasan maknanya. Istilah ini sering digunakan sebagai respons singkat tanpa perlu penjelasan panjang.
Dalam praktiknya, “67” dapat berfungsi sebagai ekspresi spontan, respons netral, atau bagian dari humor dalam komunitas digital.
Penggunaannya yang fleksibel membuat istilah ini mudah menyebar dan digunakan dalam berbagai konteks.
Fenomena Bahasa di Era Digital
Penetapan “67” sebagai Word of the Year 2025 oleh Dictionary.com menunjukkan bagaimana bahasa terus berkembang di era digital.
Istilah yang tidak memiliki makna pasti justru bisa menjadi populer karena sifatnya yang fleksibel dan mudah digunakan. Hal ini mencerminkan pola komunikasi baru di media sosial yang cenderung singkat, spontan, dan kontekstual.
(Sheva Asyraful Fali)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News