Jakarta: Laporan Economic Impact Report of the Video Game Industry in Southeast Asia yang dirilis oleh Access Partnership bersama Tencent terbaru memproyeksikan bahwa dengan dukungan kebijakan yang tepat, sektor ini mampu menyumbang hingga USD14,2 miliar (sekitar Rp256,2 triliun) terhadap PDB regional dan menciptakan jutaan lapangan kerja.
Lebih dari itu, pertumbuhan ini bisa menjadi senjata utama untuk menghentikan fenomena brain drain atau larinya talenta pengembang lokal ke luar negeri. Fakta ini terungkap di sela-sela The 5th World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026.
Direktur dan Deputi Kepala Strategi Ekonomi Access Partnership, Cheng Wei Swee, memaparkan bahwa di lima negara utama Asia Tenggara—Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand—industri game saat ini telah menyumbang USD8,2 miliar atau sekitar Rp 127,1 triliun dan menyerap 640.000 pekerja.
"Jika pemerintah di lima negara ini memberikan penekanan dan dukungan lebih, kontribusinya bisa melonjak hingga 1,16 juta pekerjaan dalam beberapa tahun ke depan," ujar Cheng saat mempresentasikan skenario pertumbuhan yang diakselerasi. Sebaliknya, jika tidak ada kebijakan baru yang diterapkan, proyeksi pertumbuhannya hanya akan tertahan di angka USD12,2 miliar (sekitar Rp 189,1 triliun).
Lebih jauh, Cheng menyoroti bahwa terbentuknya industri bernilai ratusan triliun rupiah di kawasan ini membawa implikasi penting terhadap migrasi keahlian. Selama ini, banyak pengembang game atau developer berbakat di Asia Tenggara yang mencari peluang karir di pasar tradisional yang lebih mapan seperti Amerika Serikat. Dengan valuasi ekosistem lokal yang semakin raksasa, talenta-talenta ini kini memiliki opsi peluang ekonomi yang menjanjikan di rumah sendiri tanpa harus bermigrasi.
Cheng mencontohkan bagaimana Selandia Baru nyaris kehilangan sumber daya manusianya karena banyak studio lokal pindah ke Australia yang menawarkan skema insentif lebih menggiurkan. Untuk mencegah hal itu, pemerintah Selandia Baru akhirnya harus merilis kebijakan rabat 25%. Hal ini menggarisbawahi urgensi co-regulation dan insentif di kawasan Asia Tenggara untuk mempertahankan talenta lokal.
Menanggapi peluang dan tantangan tersebut, pemerintah Indonesia telah mengambil langkah antisipatif. Direktur Game Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, Luat Sihombing, menegaskan bahwa pemerintah mengawal ekosistem ini lewat Peraturan Presiden Nomor 19 Tahun 2024 tentang Percepatan Pengembangan Industri Gim Nasional.
Salah satu terobosan krusialnya adalah implementasi regulasi yang memungkinkan Kekayaan Intelektual (IP) dijadikan agunan untuk mengakses pinjaman perbankan. "Kami mencoba mendata apa saja kebutuhan industri, lalu memberikan solusinya," ungkap Luat.
Namun, pemerintah tidak bergerak sendiri. Dukungan raksasa teknologi global turut berperan vital mencegah brain drain lewat transfer pengetahuan dan modal. Monrawee Ampolpittayanant, Director of Global Public Affairs, Asia Pacific, Tencent, menyatakan komitmennya dalam mendukung pasar Asia Tenggara.
Tencent mengaku secara aktif membantu kreator lokal mengubah ide menjadi prototipe komersial, membuka akses pasar internasional, dan memberikan insentif hingga pendanaan ekosistem yang bernilai jutaan dolar.
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan