Jakarta: Riset terbaru dari Cisco bertajuk Relentless Defense Report mengungkapkan bahwa lebih dari 50% serangan siber yang dialami organisasi di Indonesia kini telah memanfaatkan teknologi Kecerdasan Buatan (AI). Pemanfaatan AI oleh para pelaku kejahatan siber terbukti mempercepat eskalasi risiko, di mana sebanyak 95% organisasi di Indonesia tercatat mengalami insiden siber berdampak signifikan yang mengganggu operasional bisnis mereka dalam 12 bulan terakhir.
Meskipun AI meningkatkan kompleksitas ancaman, laporan tersebut menunjukkan bahwa tantangan terbesar yang dihadapi organisasi bukanlah keterbatasan teknis semata, melainkan hambatan operasional dan struktur organisasi internal. Birokrasi proses persetujuan yang lambat, keberadaan data terisolasi atau data silo, serta tim IT dan keamanan yang berjalan sendiri-sendiri menjadi faktor utama yang memperlambat respons lini pertahanan.
Secara keseluruhan, skor rata-rata ketahanan siber organisasi di Indonesia mencapai 72 dari 100. Menariknya, sebanyak 29% organisasi di Indonesia berhasil masuk ke dalam kelompok berkinerja terbaik yang disebut Relentless Defenders, jauh melampaui proporsi tingkat global yang hanya mencapai 8%. Namun, tantangan terbesarnya adalah mempertahankan performa tersebut di tengah laju ancaman otonom berbasis AI yang bergerak dalam hitungan detik.
Cin Cin Go, Managing Director Cisco Indonesia, menegaskan bahwa kecepatan pertahanan di era AI sangat ditentukan oleh kelincahan operasional. Menurutnya, organisasi harus mengintegrasikan keamanan secara langsung ke dalam operasional harian—bukan sekadar pemenuhan formalitas kepatuhan—serta meruntuhkan silo operasional agar pengambilan keputusan yang tepat dapat dilakukan secara cepat dan responsif.
Laporan Cisco mengidentifikasi sejumlah titik gesekan operasional yang sering menghambat keefektifan pertahanan siber di Indonesia. Masalah koordinasi menjadi salah satu aspek krusial, mengingat hanya 63% organisasi di Indonesia yang menyebutkan bahwa tim keamanan, jaringan, dan IT beroperasi sebagai satu kesatuan dengan visibilitas serta perangkat yang sama.
Dari sisi komunikasi eksekutif, sebanyak 43% praktisi menilai metrik keamanan masih terlalu teknis untuk meyakinkan jajaran pimpinan, sementara 26% sama sekali tidak memiliki cara yang konsisten untuk mengukur kinerja keamanan. Selain itu, akses dan fragmentasi data juga menyita waktu, di mana 38% organisasi menghabiskan waktu lebih lama untuk mengumpulkan data antar sistem alih-alih mengatasi ancaman nyata, dan 46% melewatkan wawasan penting akibat data yang tidak terjangkau.
Meskipun adopsi AI terbukti meningkatkan kemampuan deteksi dan respons minimal 25%, sebanyak 40% organisasi di Indonesia belum menerapkan agen AI secara luas untuk operasional keamanan karena kekhawatiran terkait kebocoran data dan penanganan pihak ketiga.
Sebaliknya, kelompok Relentless Defenders unggul karena memadukan kerja tim yang terkoordinasi dan kontrol ketat terhadap sistem AI. Sebanyak 83% dari kelompok ini beroperasi sebagai satu tim yang padu, dan 86% menerapkan kontrol konsisten terhadap agen AI.
Hasilnya, saat menambah anggaran keamanan, kelompok Relentless Defenders hampir dua kali lipat lebih berpeluang mencatatkan penurunan insiden siber dibandingkan organisasi lainnya.
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan