Foto: Dale Carnegie
Foto: Dale Carnegie

Kepemimpinan Humanis Kunci Sukses Transformasi AI

Mohamad Mamduh • 04 Februari 2026 19:05
Ringkasnya gini..
  • Adanya kesenjangan persepsi yang mendasar antara pimpinan puncak dan staf terkait integrasi AI.
  • Kerangka Take Command sebagai panduan kepemimpinan yang relevan di era AI.
  • ​Selama 50 tahun hadir di Indonesia, Dale Carnegie telah memberdayakan lebih dari 300.000 pemimpin lintas industri.
Jakarta: Di tengah derasnya arus adopsi Kecerdasan Buatan (AI), keberhasilan organisasi ternyata tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, melainkan oleh kualitas kepemimpinan yang berpusat pada manusia (human-centric).
 
Dale Carnegie Indonesia, yang merayakan usia emas 50 tahun kehadirannya, menegaskan peran krusial ini melalui forum bertajuk "Take Command: Leading People Transformation in the Age of AI". Paul J. Siregar, M.Sc. C.Eng., President Director Dale Carnegie Indonesia, menjelaskan bahwa perayaan ini merupakan momentum untuk menegaskan kembali esensi kepemimpinan—keberanian memimpin manusia di tengah perubahan.
 
Laporan terbaru State of Organizational Health 2025 dari Dale Carnegie mengungkap adanya kesenjangan persepsi yang mendasar antara pimpinan puncak dan staf terkait integrasi AI.

Sebanyak 54,2% responden di jenjang pimpinan puncak menganggap integrasi teknologi dan AI efektif atau transformatif, namun hanya 11,2% responden di jenjang staf yang berpendapat serupa. Hal ini menunjukkan bahwa integrasi AI tidak dikomunikasikan dengan baik, padahal staf adalah pihak yang paling terdampak oleh kehadirannya.
 
Presiden & CEO Dale Carnegie Global, Joe Hart, menyoroti bahwa di era akselerasi teknologi, peran kepemimpinan justru menjadi semakin krusial. Ia menegaskan, AI memang dapat meningkatkan efisiensi, tetapi manusialah yang menentukan bagaimana keputusan diambil, kepercayaan dibangun, dan organisasi bergerak maju.
 
Laporan tersebut juga mencatat perlunya kesiapan kepemimpinan manusia secara global, di mana hanya 42% responden yang melaporkan budaya komunikasi yang kuat, 17% yang dinilai memiliki budaya empati yang mendalam, dan 15% yang merasakan psychological safety yang memberdayakan.
 
Kondisi di kawasan Asia-Pasifik (APAC) menunjukkan paradoks yang lebih nyata, di mana hanya 18% responden yang melaporkan budaya komunikasi sangat efektif dan 49% menilai empati di tempat kerja masih berada pada tahap emerging. Selain itu, hanya 10% responden di Asia-Pasifik yang merasa benar-benar memiliki psychological safety yang memberdayakan.
 
Dampaknya terlihat pada tingkat keterlibatan karyawan, dengan hanya 20% responden APAC yang tergolong deeply engaged. Temuan ini memperkuat keyakinan bahwa transformasi teknologi tanpa kepemimpinan yang kuat berisiko menciptakan kelelahan organisasi, menurunnya engagement, dan berkurangnya kepercayaan dalam jangka panjang.
 
Menjawab tantangan tersebut, Dale Carnegie memperkenalkan kerangka Take Command sebagai panduan kepemimpinan yang relevan di era AI. Kerangka ini dibangun di atas tiga pilar utama: Mindset untuk membantu pemimpin bertindak dengan kejelasan dan kepercayaan diri; Relationships untuk membangun kepercayaan dan memperkuat kolaborasi; serta Future untuk merancang strategi jangka panjang yang menyatukan kekuatan manusia dan teknologi secara terencana.
 
Paul J. Siregar menilai temuan Asia Pacific sangat relevan dengan kondisi organisasi di Indonesia, karena tantangan kepemimpinan muncul pada aspek komunikasi, empati, dan rasa aman psikologis di dalam tim.
 
Selama 50 tahun hadir di Indonesia, Dale Carnegie telah memberdayakan lebih dari 300.000 pemimpin lintas industri, menegaskan bahwa perubahan perilaku manusia tetap menjadi fondasi kepemimpinan yang relevan, bahkan di tengah percepatan AI.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA