Startup Ini Ingin Cetak Rumah dengan Harga Rp137 Juta

Ellavie Ichlasa Amalia 13 Maret 2018 11:40 WIB
teknologi
Startup Ini Ingin Cetak Rumah dengan Harga Rp137 Juta
Rumah yang ingin dibangun ICON dengan 3D printer.
Jakarta: Sandang, pangan dan papan adalah kebutuhan dasar manusia. Namun, menurut laporan Ross Center for Sustainable Cities milik World Resources Institute, ada 1,2 miliar orang yang tidak memiliki tempat tinggal yang memadai.

Dalam acara SXSW, startup asal Austin, Amerika Serikat memamerkan bagaimana mereka bisa membantu orang-orang yang tidak punya rumah menggunakan 3D printer untuk membangun rumah dengan harga terjangkau. 

Startup ICON telah mengembangkan metode mencetak rumah satu lantai dengan luas 650 kaki kuadrat dari semen dalam waktu 12 sampai 24 jam, jauh lebih singkat dari proses konstruksi tradisional.


Jika tidak ada masalah, mereka akan membangun sebuah komunitas di El Salvador berisi 100 rumah tahun depan. ICON bekerja sama dengan New Story, lembaga nirlaba yang berusaha untuk menyelesaikan masalah tunawisma. 

"Kami telah membangun rumah untuk orang-orang di Haiti, El Salvador, dan Bolivia," kata Alexandria Lafci, salah satu pendiri New Story, pada The Verge



Salah satu pendiri ICON, Jason Ballard berkata bahwa dia akan mencoba model rumah yang akan dibangun sebagai kantor dengan tujuan menguji fungsi dari rumah tersebut.

"Kami akan memasang sensor pemantau kualitas air. Bagaimana tampilan rumah ini, dan apakah ia berbau tidak sedap?" ujar Ballard. 

Menggunakan printer Vulcan, ICON dapat membuat sebuah rumah dengan biaya USD10 ribu (Rp137 juta). Mereka berencana untuk menekan harga per rumah menjadi USD4 ribu (Rp55 juta).

"Ini jauh lebih murah dari rumah biasa di AS," kata Ballard. Printer ini dapat membuat rumah dengan luas 800 kaki kuadrat, lebih besar dari rumah dalam program rumah kecil, yang hanya memiliki luas 400 kaki kuadrat. 

Rumah ini dilengkapi dengan ruang keluarga, ruang tidur, ruang mandi dan beranda. "Ada beberapa perusahaan lain yang telah mencetak rumah dan bangunan lain," kata Ballard. "Tapi bangunan-bangunan itu dicetak di sebuah gudang atau terlihat seperti gubuk. Agar program ini sukses, rumah yang dibangun harus baik."



(MMI)

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Medcom.id

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-8700K, AMD Ryzen 7 2700X
  • Motherboard: ASUS PRIME Z370-A, MSI X470 Gaming Plus
  • VGA: Colorful iGame GTX 1070 X-TOP-8G, ASUS Strix Vega 64
  • RAM: Apacer Panther RAGE 2400MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Apacer Panther AS340 240GB + Seagate Barracuda 8TB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Mouse: Logitech G903, Logitech G603
  • Keyboard: Logitech G610 Orion, Logitech G613
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark, CineBench R15 Gaming (PC): The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity - Escalation, Far Cry 5 Gaming (Mobile): PUBG Mobile

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak untuk benchmark, kami hanya memilih dua berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.