Robot otonom CARRIE buatan BRIN
Robot otonom CARRIE buatan BRIN

CARRIE, Robot Otonom Garapan BRIN Pengantar Barang di Industri Kompleks

Mohamad Mamduh • 26 Januari 2026 13:06
Jakarta: Proses pengantaran dan pemindahan barang masih menjadi tantangan utama di berbagai industri lokal. Hal ini karena tingginya ketergantungan pada tenaga manusia, terutama di area kerja dengan medan tidak rata, ruang sempit, dan lalu lintas padat. Kondisi tersebut tidak hanya memengaruhi efisiensi operasional, tetapi juga meningkatkan risiko keselamatan kerja.
 
Menjawab tantangan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan CARRIE (Collaborative Autonomous Robot for Rugged Industrial Environment), sebuah robot pengantaran barang yang dirancang mampu beroperasi secara otonom dan kolaboratif di lingkungan industri yang kompleks.
 
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Mekatronika Cerdas (PRMC) BRIN, Roni Permana Saputra, menyampaikan bahwa sebagai autonomous mobile robot, CARRIE dilengkapi dengan platform mekanik adaptif yang memungkinkan penyesuaian terhadap permukaan jalan tidak rata dan berbagai rintangan. “Hal ini bertujuan meningkatkan efisiensi operasional, mengurangi beban kerja manusia, serta meningkatkan keselamatan kerja,” katanya, dalam wawancara dengan Humas BRIN Kawasan Bandung, Kamis (22/1).

Ia menjelaskan tantangan dalam operasional pengantaran barang di lingkungan industri tidak hanya bersifat statis, tetapi juga dinamis dan sulit diprediksi.
 
“Tantangan tersebut meliputi keberadaan rintangan seperti bidang miring, gundukan, perbedaan ketinggian, transisi antar permukaan jalan yang tidak rata, hingga perubahan tata letak di area produksi maupun pergudangan. Kondisi ini kerap menyulitkan sistem pengantaran konvensional untuk beroperasi secara optimal,” tutur Roni.
 
Ia menambahkan, banyak sistem transportasi material berbasis robotik masih mengandalkan guided vehicle yang bergerak mengikuti jalur tetap di lantai industri, sehingga kurang fleksibel dan memerlukan penyesuaian ulang ketika terjadi perubahan layout, yang berdampak pada waktu, biaya, dan operasional.
 
“CARRIE dirancang sebagai solusi yang lebih adaptif dan otonom,” tambah Roni.
 
Dengan memanfaatkan pemetaan lingkungan dan navigasi otonom, CARRIE tidak bergantung pada jalur fisik dan mampu menyesuaikan jalur operasinya terhadap perubahan kondisi lapangan. “Selain itu, CARRIE juga dirancang untuk menghadapi medan industri yang tidak rata, seperti perbedaan ketinggian, tanjakan, hingga speed bump, melalui desain mekanik dan platform adaptif agar tetap stabil dan aman saat membawa muatan,” imbuhnya.
 
Dalam mendukung kemampuan operasional, CARRIE mengintegrasikan desain mekanik adaptif dengan sistem otomasi cerdas. Dari sisi mekanik, robot ini menggunakan mekanisme swing arm yang menggabungkan dua platform dengan free rotation joint. Sehingga, setiap bagian dapat menyesuaikan diri mengikuti kontur permukaan.
 
Desain ini membuat CARRIE tetap stabil saat melintasi medan miring, gundukan, maupun permukaan tidak rata yang umum dijumpai di lingkungan industri. Sementara itu, dari sisi kecerdasan sistem, CARRIE memanfaatkan algoritma optimasi perencanaan jalur untuk menentukan rute paling aman dan efisien berdasarkan peta lingkungan.
 
“Persepsi lingkungan secara real-time didukung oleh sensor LiDAR yang memungkinkan robot mendeteksi rintangan dan menyesuaikan pergerakan selama beroperasi. Sistem navigasi dan kontrol bekerja secara simultan untuk menjaga keseimbangan, mengatur kecepatan, serta merespons perubahan kondisi medan secara dinamis,” tuturnya.
 
Dalam konteks kolaborasi, CARRIE dirancang sebagai asisten otonom yang dapat bekerja berdampingan dengan manusia maupun terintegrasi dengan sistem otomasi lain, seperti conveyor belt, untuk mengambil alih tugas pengantaran material, dan mengurangi beban kerja serta risiko.
 
“Keunggulan CARRIE terletak pada kemampuannya beradaptasi terhadap lingkungan industri yang dinamis tanpa bergantung pada jalur fisik, sehingga berpotensi diterapkan di sektor manufaktur, pergudangan, dan logistik,” ucap Roni.
 
Uji coba yang telah lakukan di sejumlah fasilitas BRIN menunjukkan CARRIE mampu beroperasi di medan menantang. Sebagai Ketua Tim riset, Roni menyebut CARRIE diproyeksikan sebagai platform autonomous mobile robot yang adaptif, kolaboratif, dan siap dihilirkan untuk memperkuat kemandirian teknologi robotika dan otomasi industri Indonesia.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan