Peluncuran tersebut berlangsung di Jakarta pada 6 Oktober 2026, bertepatan dengan perayaan 80 tahun JBL. Perubahan ini menjadi kelanjutan dari kampanye “Dare to Listen” yang digunakan JBL selama tujuh tahun, dengan pendekatan baru yang lebih menyoroti kreativitas, keberagaman suara, dan komunitas.
Dari Mendengarkan ke Berani Bersuara
Jika “Dare to Listen” mengajak konsumen keluar dari batas dan berani menantang ekspektasi, “Made to Be Heard” membawa gagasan tersebut ke arah yang lebih luas. JBL kini ingin menempatkan pembuat karya sebagai bagian penting dari cerita merek.Perubahan tersebut cukup relevan dengan perkembangan ekosistem kreatif di Asia Pasifik. Gaming, musik independen, street sports, hingga aktivitas pembuatan konten berkembang bersamaan dengan komunitas digital yang semakin terhubung.
Dalam situasi ini, perangkat audio tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk menikmati konten, tetapi juga menjadi bagian dari cara seseorang menunjukkan identitasnya.
Grace Koh, General Manager and Vice President, Consumer Audio, HARMAN Asia Pacific, mengatakan “Made to Be Heard” merepresentasikan evolusi JBL sebagai merek yang dibangun dari keberanian dan kreativitas.
“Made to Be Heard mewakili evolusi JBL selanjutnya sebagai sebuah merek yang dibangun di atas ide-ide berani, kreativitas tanpa batas, dan ekspresi diri yang autentik,” ujar Grace Koh.
Menurutnya, konsumen di Asia Pasifik semakin menemukan cara baru untuk terhubung dan mengekspresikan diri melalui audio. Karena itu, JBL ingin mempertahankan inovasi dan performa produknya sekaligus mendorong konsumen untuk menunjukkan karakter mereka.
“Kami ingin setiap interaksi dengan JBL mampu memberdayakan setiap orang untuk menunjukkan siapa diri mereka, karena setiap suara berhak untuk didengar,” tuturnya.
AI Mulai Masuk ke Ekosistem Kreator JBL
Pergeseran identitas tersebut juga berjalan beriringan dengan pengembangan teknologi audio JBL. Perusahaan menyebut ekosistem produknya kini mencakup speaker portabel, headphone, dan soundbar, sekaligus solusi audio pintar berbasis kecerdasan buatan.Salah satu contohnya adalah JBL EasySing, mikrofon yang menggunakan AI untuk menghilangkan vokal secara real-time. JBL juga memperkenalkan seri smart amplifier JBL BandBox yang memiliki kemampuan memisahkan instrumen dan vokal secara langsung melalui fitur stem isolation.
Kehadiran fitur tersebut menunjukkan bahwa arah inovasi JBL tidak hanya berhenti pada peningkatan kualitas suara untuk konsumsi. Teknologi audio mulai ditempatkan sebagai perangkat yang bisa membantu pengguna menghasilkan dan mengolah karya.
Pendekatan ini kemudian diperluas melalui JBL Music Academy. Program tersebut memberikan akses perangkat, teknologi, dan bimbingan kepada musisi, produser, serta pencipta lagu pendatang baru agar mereka memiliki ruang untuk mengembangkan karya dan memperkenalkan suaranya kepada publik.
Selama delapan dekade, JBL telah membangun reputasi di industri audio dan terlibat dalam bidang sinema, penyiaran, serta sound engineering. Perusahaan juga menyebut inovasinya telah mendapat pengakuan melalui penghargaan seperti Grammy dan Academy Awards.
Kini, “Made to Be Heard” menjadi penanda bahwa perjalanan JBL tidak hanya berkaitan dengan bagaimana suara terdengar, tetapi juga siapa yang membuatnya dan cerita apa yang ingin disampaikan melalui suara tersebut.
Bagi Asia Pasifik, pendekatan ini berpotensi membuat strategi JBL semakin dekat dengan ekosistem kreator, gaming, musik, dan komunitas anak muda yang menjadikan audio sebagai bagian dari ekspresi sehari-hari.