Tantangan UKM di Indonesia soal AI kini bukan lagi soal kesadaran, tapi kesiapan. Karyawan di banyak usaha kecil dan menengah sudah lebih dulu mencoba berbagai AI tools untuk merangkum rapat, menyusun respons ke pelanggan, membuat konten, hingga menganalisis data.
Namun ada jarak yang makin terlihat antara eksperimen memakai AI dan kemampuan menskalakan AI secara aman di seluruh organisasi, dan jarak itu bukan cuma soal software, melainkan soal infrastruktur perangkat yang menopangnya.
Skala UMKM di Indonesia membuat isu ini sulit diabaikan. Berdasarkan data Kementerian UMKM per akhir 2025, jumlah pelaku UMKM di Indonesia mencapai sekitar 59,5 juta unit. Dengan usaha mikro mendominasi hingga 99,7% dari total tersebut.
Sektor ini menyumbang lebih dari 60% produk domestik bruto nasional dan menyerap sekitar 119 juta tenaga kerja, menjadikannya tulang punggung ekonomi sekaligus penyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia. Dengan populasi sebesar itu, gap kesiapan AI di level UMKM bukan sekadar masalah teknis segelintir pelaku usaha, melainkan isu yang berdampak luas. Khususnya pada produktivitas ekonomi nasional secara keseluruhan.
Peran PC Lebih dari Sekadar Alat Produktivitas
Di titik inilah PC, termasuk laptop, desktop dan all-in-one berperan lebih besar dari sekadar alat produktivitas. PC kini menjadi platform AI, perangkat yang ikut menentukan seberapa aman, efisien, dan konsisten pekerjaan berbasis AI bisa berjalan sehari hari.“Banyak pemilik UKM berpikir kesiapan AI itu soal software atau langganan aplikasi tertentu, padahal fondasinya ada di perangkat yang dipakai karyawan setiap hari. Kalau PC-nya tidak dirancang untuk beban kerja AI yang berjalan terus menerus di latar belakang, produktivitas yang dijanjikan AI justru tidak akan terasa,” kata Kevin Hu, Commercial Country Product Manager, SMB Notebook, Asus Indonesia.
Kerja berbasis AI memang berbeda karakternya dibanding beban kerja kantor tradisional. AI dapat berjalan lebih kontinu, merangkum informasi, mendukung rapat, membuat konten, hingga membantu pengambilan keputusan sepanjang hari, dan ini berimplikasi langsung pada performa, daya tahan baterai, desain termal, keamanan, hingga kemudahan pengelolaan perangkat oleh tim IT yang di UKM biasanya sangat terbatas jumlahnya.
Namun ada satu variabel yang sering terlewat dalam percakapan soal AI readiness, yaitu durability. UKM umumnya tidak punya siklus penggantian perangkat sesingkat perusahaan besar.

Satu unit laptop bisa dipakai bertahun tahun oleh karyawan yang sama, sering berpindah tempat kerja, dan jarang mendapat perawatan khusus dari tim IT internal. Artinya, perangkat yang menjalankan AI secara berkelanjutan juga harus cukup tangguh untuk bertahan dalam pemakaian jangka panjang tanpa performa AI-nya menurun.
“Kami sering menemukan mispersepsi bahwa laptop AI itu identik dengan perangkat premium yang rapuh. Justru sebaliknya, laptop yang menjalankan AI secara terus menerus butuh keandalan fisik yang lebih tinggi, karena bebannya bukan cuma prosesor yang bekerja lebih sering, tapi juga baterai, sistem pendingin, dan komponen lain yang harus tetap stabil dalam pemakaian harian yang intens,” ujar Kevin.
Menjawab kebutuhan ini, laptop modern yang benar-benar siap AI dibangun di atas heterogeneous computing, di mana CPU, GPU, dan NPU masing masing mengambil peran sesuai jenis beban kerja, dari produktivitas umum hingga pemrosesan AI lokal. Pemrosesan AI lokal penting untuk responsivitas dan privasi, sekaligus menjaga data sensitif tetap berada di perangkat, krusial bagi UKM dengan sumber daya keamanan siber terbatas.
Tiga Faktor Kritikal AI untuk UMKM
Ada tiga pertanyaan infrastruktur praktis yang bisa jadi titik awal bagi UKM. Pertama, apakah armada perangkat saat ini mampu menjalankan beban kerja AI tanpa kendala responsivitas atau baterai boros.Kedua, apakah karyawan bisa memakai AI secara aman, mengingat adopsi AI di UKM sering dimulai informal sebelum kebijakan dan infrastruktur keamanannya matang. Ketiga, apakah tim IT yang ramping bisa mengelola perangkat berbasis AI ini secara efisien tanpa menambah beban operasional.
“Ketiga pertanyaan itu pada akhirnya kembali ke satu hal, yaitu total cost of ownership. Perangkat yang tangguh dan mudah dikelola akan menekan biaya perbaikan dan penggantian dalam jangka panjang, sementara performa AI yang konsisten membantu tim kerja lebih produktif tanpa menambah beban tim IT yang terbatas,” kata Kevin.
Kesiapan AI juga tidak berarti membelikan setiap karyawan perangkat kelas atas yang sama, melainkan menyesuaikan perangkat dengan pola kerja nyata. Profesional mobile butuh perangkat ringan dengan baterai tahan lama dan performa AI andal. Power user seperti analis dan engineer butuh sistem yang sanggup menangani beban kerja berkelanjutan dan dataset besar. Tim back office lebih mengutamakan durability, kemudahan pengelolaan, dan total cost of ownership yang efisien.
Di sinilah portofolio Asus Expert Series, mulai dari Asus ExpertBook hingga ExpertCenter, menawarkan pendekatan praktis bagi UKM untuk menyelaraskan setiap peran kerja dengan kombinasi mobilitas, performa AI, keamanan, durability, dan fleksibilitas deployment yang sesuai kebutuhan masing masing tim.
Bagi sebagian besar UKM, kesiapan AI tidak menuntut penggantian seluruh armada PC sekaligus. Pendekatan bertahap jauh lebih realistis, dimulai dari menilai perangkat mana yang mendekati akhir masa pakainya, tim mana yang sudah memakai AI tools, dan peran mana yang paling diuntungkan dari kemampuan AI lokal, keamanan, atau durability yang lebih baik.
“Tujuan kami bukan mengejar setiap tren AI terbaru, tapi membuat AI benar benar praktis, aman, dan tangguh dipakai sesuai cara kerja tim UKM sehari hari. Kalau perangkatnya bisa diandalkan bertahun tahun sekaligus menjalankan AI dengan mulus, di situlah kolaborasi manusia dan AI benar benar bisa berkembang,” tutup Kevin.