Microsoft menekankan pentingnya SDM di era digital. (Photo by Lionel BONAVENTURE / AFP)
Microsoft menekankan pentingnya SDM di era digital. (Photo by Lionel BONAVENTURE / AFP)

Pentingnya Talenta Digital di Era Digital Indonesia

Teknologi microsoft corporate transformasi digital
M Studio • 22 Maret 2019 10:29
Jakarta: Transformasi digital terus digencarkan sebagai cara agar perusahaan atau organisasi dapat bertahan bahkan bersaing di era digital. Edukasi mengenai transformasi digital juga sudah sangat kuat dilakukan di Indonesia sejak beberapa tahun belakangan.
 
Puncaknya adalah saat ini Indonesia sudah berada di era digital, bukan di tahap awal atau baru memasuki era baru ini. Seluruh bisnis dan organisasi melakukan digitalisasi baik dari segi operasional, produk yang ditawarkan hingga cara berkomunikasi dengan konsumen.
 
Namun satu hal yang harus diingat, transformasi digital harus dibarengi dengan transformasi sumber daya manusianya. Sebuah studi yang dilakukan Microsoft bersama IDC di 2018 menyebut digital talent adalah salah satu kunci penting transformasi digital.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Salah satu fakta dari studi tersebut menyebutkan terhambatnya transformasi digital di Indonesia adalah kurangnya digital talent. Menurut data IMD tahun 2018, Indonesia berada di peringkat ke-62 dalam daya saing digital talenta di kancah global.
 
Digital talent di sini diartikan sebagai sumber daya manusia dengan kemampuan menguasai teknologi digital. Presiden Direktur Microsoft Indonesia, Haris Izmee, membeberkan alasan mengapa digital talent sangat dibutuhkan Indonesia ke depannya.
 
"Dari sudut pandang ekonomi, studi Microsoft memprediksi pada tahun 2022, 61 persen PDB (Produk Domestik Bruto) Indonesia didapatkan dari layanan jasa dan produk digital. Angka ini mengalami pertumbuhan jika dibandingkan dengan tahun 2017 karena banyak perusahaan yang melakukan transformasi digital," tutur Haris. Dari fakta tersebut Haris menegaskan bahwa digital talent akan sangat dibutuhkan.
 
Studi Microsoft dan IDC pada Februari 2018 juga menunjukkan bahwa 93 persen pekerjaan dalam tiga tahun kedepan akan mengalami transformasi digital. 68 persen pekerjaan akan dialihfungsikan ke posisi-posisi baru yang memerlukan pelatihan ulang agar siap menghadapi transformasi digital.
 
Haris juga sependapat dengan temuan riset IDC yang menyebutkan core technology yang akan mendorong transformasi digital dan membutuhkan digital talent adalah Artificial Intelligence (AI) dan cloud computing atau komputasi awan.
 
"Dua core technology tersebut juga mendorong pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia. Kalau penggunaan teknologi cloud di Indonesia sudah mulai dua hingga tiga tahun belakangan," tutur Head of Operation, IDC Indonesia, Mevira Munindra.
 
"Sementara itu, saat ini, AI sudah banyak mulai dieksplor perusahaan atau organisasi dalam beragam operasional dan bisnisnya," imbuhnya. Teknologi cloud dan AI bukan hal baru di Indonesia menurut Haris.
 
"Dalam kehidupan sehari-hari dua teknologi ini sudah digunakan lewat aplikasi smartphone. Kami juga terus berinovasi agar layanan kami mampu mengakomodasi solusi dua teknologi tersebut melalui Microsoft Azure. Kami telah berkolaborasi dengan layanan transportasi online untuk menyediakan fitur keamanan. Selain itu, solusi cloud juga digunakan selama perhelatan Asian Games 2018, untuk menyediakan data yang dapat diakses dan diolah kembali oleh publik," jelas Izmee.
 
Apakah Indonesia sudah mampu menyiapkan digital talent yang dibutuhkan? Menurut Mevira, Indonesia belum sepenuhnya siap. Tidak mengherankan bila banyak perusahaan yang memilih mencari digital talent dari luar negeri. Microsoft sebagai perusahaan teknologi menyadari hal tersebut lebih dulu.
 
"Di akhir tahun 2018 Micorsoft dan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menggelar Digital Talent Scholarship. Dalam program ini, kami mendukung upaya pemerintah untuk melatih 1.000 pemuda selama delapan minggu untuk memiliki wawasan dan keterampilan digital seperti Cybersecurity, Big Data Analytics, AI, Komputasi Awan dan Digital Business.
 
Setelah menyelesaikan program tersebut, para ‘lulusan’ juga mendapatkan sertifikasi kompetensi yang dapat digunakan untuk melamar kerja. Tahun ini, kami juga akan kembali mendukung program Digital Talent Scholarship dengan target 20.000 lulusan." tutup Haris.
 

(MMI)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Medcom.id

Hardware

  • Prosesor : Intel Core i7-8700K, AMD Ryzen 7 2700X
  • Motherboard : ASUS Z370-A Prime, MSI X470 Gaming Plus
  • RAM : Apacer Panther RAGE 2400 MHz (2x 8GB)
  • VGA : Colorful GTX 1070 X-Top-8G, ASUS ROG Strix RX Vega 64 8G
  • Pendingin : Noctua NH-U21S
  • Storage : Apacer Panther AS340 240GB, Seagate Barracuda 8TB
  • PSU : Corsair RM 850X
  • Monitor : ASUS PB287Q 4K, ASUS MZ27AQ
  • Mouse : Corsair Dark Core SE, Corsair Scimitar Pro
  • Mousepad : Corsair MM1000 Qi, Corsair MM800 Polaris
  • Keyboard : Corsair K63 Wireless, Corsair K70 RGB MK.2 SE
  • Headset : Corsair HS60, Corsair HS70

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark, CineBench R15 Gaming (PC): The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity - Escalation, Far Cry 5 Gaming (Mobile): PUBG Mobile

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak untuk benchmark, kami hanya memilih dua berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif