Ilustrasi.
Ilustrasi.

Transaksi Digital via Internet Banking di Hari Libur Ternyata Bisa Berbahaya, Ini Alasannya

Cahyandaru Kuncorojati • 23 Februari 2026 11:09
Ringkasnya gini..
  • Pakar keamanan siber Vaksincom Alfons Tanujaya mengingatkan transaksi internet banking saat akhir pekan berisiko jadi target kejagatan digital
  • Pengguna diminta waspada terhadap situs phishing dari hasil pencarian Google serta tidak pernah membagikan kode OTP kepada siapapun.
  • Untuk meningkatkan keamanan, pengguna disarankan memakai antivirus dan memastikan alamat situs bank resmi.
Jakarta: Transaksi digital melalui internet banking kini menjadi salah satu metode pembayaran yang paling banyak digunakan masyarakat. Namun di balik kemudahannya, pengguna tetap perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kejahatan siber yang bisa menargetkan transaksi perbankan online.
 
Pakar keamanan siber dari Vaksincom, Alfons Tanujaya, mengingatkan bahwa ada sejumlah kebiasaan pengguna yang berpotensi meningkatkan risiko kejahatan digital, salah satunya melakukan transaksi dalam jumlah besar saat akhir pekan atau hari libur.
 
Menurut Alfons, waktu tersebut sering dimanfaatkan pelaku kejahatan karena sistem respons bank tidak secepat pada hari kerja.

“Hati-hati bertransaksi besar pada saat weekend karena kejahatan digital umumnya dilakukan saat weekend dan kantor bank tutup. Jadi kalau melakukan pembayaran usahakan hari kerja dan besoknya tidak libur atau hari besar,” ujar Alfons Tanujaya.
 
Ia juga menyoroti kebiasaan pengguna yang terlalu mengandalkan mesin pencari ketika mengakses layanan perbankan online. Hal ini dinilai berbahaya karena banyak tautan palsu atau situs phishing yang dapat muncul di hasil pencarian.
 
“Jangan percaya dengan hasil Google Search. Karena terbukti banyak hasil Google Search dan iklan Google yang mengarahkan ke situs phishing,” jelas Alfons.
 
Selain itu, pengguna juga disarankan memastikan perangkat yang digunakan untuk mengakses internet banking dalam kondisi aman. Penggunaan antivirus menjadi salah satu langkah penting untuk mencegah malware yang bisa mengalihkan akses ke situs palsu.
 
Alfons menegaskan bahwa keamanan digital tidak bersifat statis dan harus terus diperbarui mengikuti perkembangan ancaman.
 
“Security is a process. Perlindungan yang hari ini aman tidak menjamin aman besok atau bulan depan. Selalu waspada dan jangan pernah over confidence dengan security,” tegasnya.
 
Pengguna internet banking juga harus memastikan alamat situs yang diakses benar-benar resmi milik bank, bukan halaman tiruan yang dirancang untuk mencuri data login atau informasi transaksi.
 
Selain itu, Alfons mengingatkan agar masyarakat tidak mudah percaya pada pihak yang mengaku sebagai petugas bank dan meminta kode verifikasi.
 
“Jangan mudah percaya kalau Anda dihubungi oleh siapapun yang mengaku CS bank atau kepala cabang bank sekalipun. Apalagi jika meminta OTP. Jangankan kepala cabang, Donald Trump sekalipun yang minta jangan Anda berikan,” ujarnya.
 
Sebagai langkah tambahan, Alfons menyarankan pengguna menyimpan alamat resmi internet banking di fitur favorites atau bookmark pada browser agar tidak perlu mencarinya melalui mesin pencari. 
 
Pengguna juga sebaiknya memastikan tidak ada add-on atau ekstensi browser yang tidak dikenal terpasang pada perangkat yang digunakan untuk transaksi keuangan.
 
Dengan meningkatnya aktivitas digital banking, kewaspadaan pengguna menjadi salah satu faktor utama untuk mencegah pencurian data maupun penyalahgunaan rekening.
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA