Temuan terbaru dalam laporan State of Application Strategy (SOAS) 2026 dari F5, perusahaan keamanan jaringan, menunjukkan bahwa AI kini telah menjadi bagian dari operasional inti bisnis, dengan mayoritas organisasi mulai menjalankan proses AI secara langsung dalam lingkungan produksi.
Dalam laporan tersebut, F5 mengungkapkan bahwa 78% organisasi secara global kini menjalankan AI inference secara mandiri.
AI inference merupakan proses menjalankan model AI yang telah dilatih untuk menghasilkan output atau keputusan dalam operasional sehari-hari. Angka tersebut menunjukkan bahwa perusahaan kini lebih mengutamakan kendali terhadap sistem AI dibanding sekadar mengandalkan layanan publik berbasis cloud.
Temuan itu diperoleh dari survei terhadap ratusan pemimpin TI dan keamanan siber perusahaan di berbagai negara.
Menurut F5, perubahan ini menandai pergeseran besar dalam pemanfaatan AI, dari tahap eksperimen menuju beban kerja produksi yang memerlukan pengelolaan, keamanan, dan tata kelola yang setara dengan sistem bisnis kritikal lainnya.
“AI telah berubah dari tahap eksperimentasi ke tahap operasional. Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah perusahaan akan menggunakan AI, melainkan apakah mereka dapat menjalankannya secara andal, aman, dan dalam skala besar,” kata Kunal Anand, Chief Product Officer F5.
Menurut laporan tersebut, organisasi saat ini mengelola rata-rata tujuh model AI yang sudah berada dalam tahap produksi. Sebanyak 77% responden menyebut aktivitas inference sebagai penggunaan AI yang paling dominan, melampaui aktivitas pengembangan maupun pelatihan model AI.
Di kawasan Asia Pasifik, China, dan Jepang (APCJ), perusahaan rata-rata mengoperasikan tiga hingga empat model AI dalam produksi, sementara 65% di antaranya memanfaatkan AI untuk otomatisasi operasional secara real-time.
Hybrid Multicloud Jadi Standar Baru
F5 juga mencatat bahwa perkembangan AI berjalan beriringan dengan meningkatnya penggunaan lingkungan hybrid multicloud.Sebanyak 93% organisasi global kini beroperasi di lingkungan multicloud, sementara 86% menjalankan aplikasi di kombinasi infrastruktur on-premises, public cloud, dan colocation.
Kondisi tersebut membuat kebutuhan akan sistem routing, mekanisme fallback, dan pengelolaan kebijakan yang konsisten menjadi semakin penting untuk memastikan aplikasi dan layanan AI dapat berjalan optimal.
Laporan itu menyebut bahwa strategi AI yang hanya mengandalkan layanan publik mulai ditinggalkan. Hanya 8% organisasi yang masih sepenuhnya bergantung pada layanan AI publik, sementara mayoritas perusahaan mulai membangun portofolio model AI yang lebih beragam sesuai kebutuhan bisnis mereka.
Keamanan AI Menjadi Prioritas
Seiring semakin luasnya implementasi AI dalam operasional bisnis, aspek keamanan juga menjadi perhatian utama.F5 menemukan bahwa 88% organisasi telah menghadapi tantangan keamanan yang berkaitan dengan AI. Selain itu, 98% responden menyatakan sedang mempersiapkan adopsi agentic AI, yakni sistem AI otonom yang mampu mengambil tindakan sendiri dan membutuhkan identitas, hak akses, serta pengamanan layaknya pengguna manusia.
Menurut Surung Sinamo, Country Manager F5 Indonesia, tantangan utama saat ini tidak lagi sebatas menjalankan model AI, melainkan mengamankan lalu lintas AI inference, mengelola identitas agen AI, serta menerapkan kebijakan keamanan yang konsisten di seluruh lingkungan hybrid multicloud.
“Tantangan saat ini bukan lagi sekadar menjalankan AI model, melainkan juga mengamankan lalu lintas AI inference, mengelola identitas agen AI yang semakin banyak, dan menegakkan policy keamanan yang konsisten di seluruh lingkungan hybrid multicloud tanpa menimbulkan area blind spot dalam operasional,” ujar Surung.
Ia menambahkan bahwa keamanan AI kini bergeser ke lapisan yang lebih dalam, termasuk prompt, token, API, dan identitas digital. Karena itu, organisasi membutuhkan visibilitas yang terpadu serta tata kelola yang kuat agar implementasi AI tetap aman dan sesuai dengan kebutuhan regulasi yang terus berkembang.
Prompt dan Token Jadi Titik Kendali Baru
Laporan SOAS 2026 juga menyoroti munculnya prompt dan token sebagai lapisan kendali baru dalam operasional AI.Sebanyak 29% organisasi global mengidentifikasi layer prompt sebagai mekanisme utama dalam penyediaan layanan AI, sementara 23% lainnya menempatkan layer token sebagai prioritas utama untuk kebutuhan penyediaan dan keamanan.
Temuan ini menunjukkan bahwa fokus pengelolaan AI tidak lagi hanya berada pada infrastruktur, tetapi juga pada bagaimana permintaan, identitas, dan akses terhadap model AI dikontrol secara efektif.
Menurut F5, organisasi yang mampu membangun observabilitas, autentikasi, dan kontrol terpadu di seluruh lingkungan AI akan memiliki peluang lebih besar untuk mengubah investasi AI menjadi nilai bisnis yang berkelanjutan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News