Perdebatan antara AI buatan IBM dan Natarajan.
Perdebatan antara AI buatan IBM dan Natarajan.

Kecerdasan Buatan IBM Bisa Ikut Debat

Teknologi kecerdasan buatan
Ellavie Ichlasa Amalia • 12 Februari 2019 14:17
Jakarta:Kecerdasan buatan dari IBM menunjukkan bahwa AI kini juga bisa membuat argumen yang kompleks dalam debat dengan manusia.
 
Pada hari Senin, finalis Kejuaraan Debat Dunia 2016, Haris Natarajan, melawan Project Debater milik IBM, yang diklaim sebagai AI pertama yang dibuat untuk berdebat dengan manusia. Pada akhirnya, Natarajan menang, tapi AI itu berhasil memberikan argumen yang kompleks.
 
IBM mulai membuat Project Debater pada 2012, menurut laporan CNN. AI ini didesain untuk memberikan pidato yang tidak hanya koheren tapi juga persuasif.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pada saat yang sama, ia juga harus memperhitungkan argumen musuhnya dan memberikan membalas argumen itu. AI ini bahkan bisa memberikan argumen penutup.
 
Project Debater mendasarkan argumennya berdasarkan artikel majalah dan koran dalam dabatase miliknya. Selain itu, AI ini juga memerhatikan gaya debat lawannya. Namun, AI tersebut tidak terhubung ke internet dan tidak bisa membuat argumen dari situs seperti Wikipedia.
 
Dalam debat ini, masing-masing peserta memberikan pidato pembuka selama empat menit. Setelah itu, mereka memiliki waktu empat menit untuk membantah argumen lawan.
 
Pada akhirnya, mereka mendapatkan waktu dua menit untuk memberikan argumen penutup. Para penonton kemudian diminta untuk memberikan suara pada salah satu peserta sebelum dan sesudah debat.
 
Topik yang diangkat adalah tentang apakah sekolah TK harus disubsidi. Sebelum debat, 79 persen penonton percaya bahwa TK seharusnya mendapatkan subsidi, sementara 13 persen sisanya tidak setuju.
 
Pada akhir debat, sebanyak 62 persen penonton setuju dengan Project Debater bahwa TK harus disubsidi dan 30 persen tidak setuju.
 
Karena pemenang debat ini didasarkan pada berapa banyak persentase penonton yang bisa peserta yakinkan, maka Natarajan keluar sebagai pemenang.
 
Dia mengatakan bahwa Project Debater menarik karena ia dapat mengerti konteks dari informasi dan melakukan riset yang detail. Jika kemampuan AI ini digabungkan dengan manusia, menurut Natarajan, itu bisa menjadi sesuatu yang sangat hebat.
 

(MMI)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Medcom.id

Hardware

  • Prosesor : Intel Core i7-8700K, AMD Ryzen 7 2700X
  • Motherboard : ASUS Z370-A Prime, MSI X470 Gaming Plus
  • RAM : Apacer Panther RAGE 2400 MHz (2x 8GB)
  • VGA : Colorful GTX 1070 X-Top-8G, ASUS ROG Strix RX Vega 64 8G
  • Pendingin : Noctua NH-U21S
  • Storage : Apacer Panther AS340 240GB, Seagate Barracuda 8TB
  • PSU : Corsair RM 850X
  • Monitor : ASUS PB287Q 4K, ASUS MZ27AQ
  • Mouse : Corsair Dark Core SE, Corsair Scimitar Pro
  • Mousepad : Corsair MM1000 Qi, Corsair MM800 Polaris
  • Keyboard : Corsair K63 Wireless, Corsair K70 RGB MK.2 SE
  • Headset : Corsair HS60, Corsair HS70

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark, CineBench R15 Gaming (PC): The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity - Escalation, Far Cry 5 Gaming (Mobile): PUBG Mobile

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak untuk benchmark, kami hanya memilih dua berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi