Facebook, Google, dan Twitter Bantu Pemerintah Blokir Radikalisme

Lufthi Anggraeni 15 Mei 2018 18:24 WIB
kominfo
Facebook, Google, dan Twitter Bantu Pemerintah Blokir Radikalisme
Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menyebut platform media sosial kooperatif terkait akun berkonten negatif.
Jakarta: Terkait insiden terorisme dan maraknya pembagian konten terkait, Kementerian Komunikasi dan Informatika mengadakan pertemuan dengan media sosial yang beroperasi di Indonesia seperti Facebook, Google, YouTube, Telegram, dan Twitter guna membahas langkah penanganan peredaran konten di layanan.

"Hingga saat ini, teman-teman di platform media sosial telah melakukan pemantauan, dan manakala dirasakan sudah confirm, dilakukan takedown dari akun atau konten di media sosial atau file sharing. Saat ini sudah teridentifikasi ribuan akun yang confirm sudah di-takedown, dan ada yang belum," ujar Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara saat ditemui setelah pertemuan usai.

Rudiantara juga menyebut telah bekerja sama dengan badan hukum, dalam hal ini adalah Kepolisian dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).


Rudiantara menjelaskan, setelah melakukan penyisiran akun yang dicurigai terkait terorisme, akun tersebut akan diserahkan kepada pihak berwenang untuk diselidiki dan ditindaklanjuti.

Penyelidikan yang dilakukan oleh badan hukum tersebut diakui Rudiantara sebagai alasan di balik sejumlah akun yang diduga sebagai medium penyebaran provokasi terorisme belum ditutup atau diblokir.

Sementara itu hingga saat ini, sebanyak 300 akun dari 450 akun berkonten negatif yang ditemukan di Facebook telah ditutup.

Sebanyak 100 dari 250 persen akun yang ditemukan di YouTube juga telah ditutup. Rudiantara menyebut Telegram telah bekerja sama dengan baik, dengan segera menutup akun terkait yang ditemukannya. Telegram melaporkan telah menemukan sebanyak 280 akun dan telah menutup seluruhnya.

Untuk Twitter, Kemkominfo menyebut platform tersebut telah menutup sebanyak separuh dari sekitar 60 hingga 70 akun terkait yang ditemukannya. Sementara itu, akun lain yang belum ditutup di Twitter disebut Rudiantara masih dalam proses pemantauan.

Kemenkominfo mengaku telah mulai melakukan penyisiran akun penyebar konten terkait radikalisme sejak hari Sabtu, menyusul mulai maraknya distribusi konten setelah insiden di Mako Brimop terjadi.

Keempat media sosial ini juga disebut Rudiantara sangat membantu, karena menilai konten tersebut sebagai musuh bersama.

Untuk saat ini, sejak Kemkominfo memanfaatkan mesin crawling untuk menyisir situs berisi konten terkait radikalisme. Mesin crawling tersebut dimanfaatkan sebagai medium untuk menggencarkan pemantauan dan pengaduan masyarakat, yang diperbaharui setiap dua jam sekali. 



(MMI)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Medcom.id

Hardware

  • Prosesor : Intel Core i7-8700K, AMD Ryzen 7 2700X
  • Motherboard : ASUS Z370-A Prime, MSI X470 Gaming Plus
  • RAM : Apacer Panther RAGE 2400 MHz (2x 8GB)
  • VGA : Colorful GTX 1070 X-Top-8G, ASUS ROG Strix RX Vega 64 8G
  • Pendingin : Noctua NH-U21S
  • Storage : Apacer Panther AS340 240GB, Seagate Barracuda 8TB
  • PSU : Corsair RM 850X
  • Monitor : ASUS PB287Q 4K, ASUS MZ27AQ
  • Mouse : Corsair Dark Core SE, Corsair Scimitar Pro
  • Mousepad : Corsair MM1000 Qi, Corsair MM800 Polaris
  • Keyboard : Corsair K63 Wireless, Corsair K70 RGB MK.2 SE
  • Headset : Corsair HS60, Corsair HS70

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark, CineBench R15 Gaming (PC): The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity - Escalation, Far Cry 5 Gaming (Mobile): PUBG Mobile

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak untuk benchmark, kami hanya memilih dua berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.