Kiri: Senior Sales Engineer Cloudera Indonesia, Rudy Tanuwidjaja; Kanan: Country Manager Cloudera Indonesia, Sherlie Karnidta
Kiri: Senior Sales Engineer Cloudera Indonesia, Rudy Tanuwidjaja; Kanan: Country Manager Cloudera Indonesia, Sherlie Karnidta

Adopsi Agentic AI Indonesia Tak Kalah dari Singapura

Mohamad Mamduh • 06 Agustus 2026 14:37
Ringkasnya gini..
  • Eksekusi akhir dalam bisnis tetap memerlukan pemantauan manusia. Interaksi dan umpan balik dari tim operasional sangat krusial.
  • Implementasi AI di Indonesia saat ini telah memasuki pemanfaatan agen otonom yang makin kompleks.
  • Meskipun demikian, dengan tren pertumbuhan bisnis Cloudera mencatatkan kinerja positif double-digit di Indonesia.
Jakarta: Di tengah percepatan adopsi kecerdasan buatan (AI) di kawasan Asia Tenggara, Indonesia dinilai memiliki posisi tawar yang sangat strategis. Meski kerap dipandang menghadapi tantangan infrastruktur, adopsi AI tahap lanjut—khususnya Agentic AI—di tanah air justru menunjukkan akselerasi yang impresif dan mampu bersaing ketat dengan Singapura.
 
Hal tersebut diungkapkan oleh Cloudera Indonesia di sela-sela ajang AWS Summit Jakarta 2026. Country Manager Cloudera Indonesia, Sherlie Karnidta mengatakan perkembangan implementasi AI di Indonesia saat ini telah memasuki pemanfaatan agen otonom yang makin kompleks.
 
"Kalau kita lihat era agentic saat ini, Indonesia sama sekali tidak tertinggal. Keunikan dan variasi sektor industri di Indonesia sangat kaya, sehingga menjadi lahan yang sangat menarik untuk mengeksplorasi berbagai use case AI," ujar Sherlie.

Sherlie menjelaskan bahwa keberagaman lanskap bisnis di tanah air—mulai dari sektor perbankan, ritel, hingga manufaktur—memberikan fleksibilitas bagi perusahaan untuk menguji coba kemampuan Agentic AI.
 
Teknologi ini tidak hanya bertugas merespons perintah teks sederhana, melainkan mampu menganalisis pola perilaku konsumen, profil risiko, hingga preferensi investasi berdasarkan gabungan data riwayat dan preferensi pengguna secara mandiri.
 
Senada dengan hal tersebut, Director of Solutions Engineering, Cloudera Rudy Tanuwidjaja, menekankan bahwa potensi Agentic AI di Indonesia sangat besar berkat tingginya volume data terdistribusi yang dihasilkan oleh ekosistem digital nasional. Namun, Rudy memberikan catatan penting terkait pentingnya peran pengawasan manusia atau human-in-the-loop dalam implementasi agen pintar tersebut.
 
"Meskipun Agentic AI mampu melakukan analisis mendalam dari berbagai variabel foto dan profil risiko secara otomatis, eksekusi akhir dalam bisnis tetap memerlukan pemantauan manusia. Interaksi dan umpan balik dari tim operasional sangat krusial," terang Rudy.
 
Di sisi lain, Cloudera juga menyoroti tantangan mendasar yang masih membayangi laju adopsi kecerdasan buatan di tanah air, yakni kesenjangan keterampilan talenta digital. Untuk mempertahankan momentum akselerasi ini, kesiapan sumber daya manusia yang memahami cara mengoperasikan, mengevaluasi, serta mengamankan arsitektur AI menjadi faktor penentu utama. 
 
Meskipun demikian, dengan tren pertumbuhan bisnis Cloudera mencatatkan kinerja positif double-digit di Indonesia, optimisme terhadap pemanfaatan Agentic AI tetap tinggi. Dukungan arsitektur data yang terintegrasi dan aman diharapkan mampu membawa korporasi di Indonesia menjadi pemain utama dalam peta persaingan kecerdasan buatan di Asia Tenggara.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA