Dua startup asal Singapura, Menlo Research dan The Robot Company, memamerkan inovasi mutakhir mereka di ranah robotika otonom. Meski sama-sama bertumpu pada otomatisasi cerdas, keduanya memilih jalur pendekatan yang berbeda.
Menlo Research
Menlo Research tampil dengan visi menghadirkan robot berbasis agen AI lewat produk unggulannya, Asimov 1. Jia Qi Yip, Senior Research Officer Menlo, menjelaskan bahwa misi utama mereka adalah memberi fisik bagi agen AI agar dapat menjawab situasi dunia nyata yang kompleks dan tidak terduga."Visi kami pada dasarnya adalah menempatkan agen AI untuk mengendalikan robot-robot ini, agar mampu melakukan tugas-tugas yang sebelumnya tidak dapat dilakukan robot konvensional, yakni menghadapi kompleksitas dan variasi dunia nyata," ujar Jia. "Robot dikendalikan sepenuhnya oleh kode. Hari ini kita sudah menggunakan agen AI untuk menulis banyak kode, dan jika agen tersebut mampu menulis kode, kode itu dapat langsung digunakan untuk mengendalikan robot."
Menariknya, Asimov 1 dihadirkan sebagai sebuah DIY kit seharga USD20.000 yang harus dirakit sendiri oleh pembelinya dari nol. Mulai dari rancangan mekanik, elektrikal, firmware, hingga software stack, seluruhnya bersifat sumber terbuka (open-source) dan mendukung fabrikasi lokal berbasis cetak 3D maupun CNC.
Huy (Yuuki) Bui, Member of Technical Staff Customer Relations, Developer, and Engineer Menlo, mengatakan bahwa standarisasi antarmuka dan keterbukaan adalah kunci masa depan industri ini. "Ketika kelak ada 10.000 unit Asimov di luar sana, apa yang sangat kami harapkan adalah satu aplikasi yang dibangun hari ini dapat bertahan melintasi berbagai generasi Asimov di masa depan," tutur Huy.
Saat ini, Menlo Research telah mengantongi sekitar 100 pre-order dari berbagai belahan dunia dan telah mengirimkan 30 unit ke konsumen yang mencakup kalangan akademisi, pengembang AI, hingga sektor hiburan perhotelan.

The Robot Company
Di sudut lain, The Robot Company mengambil filosofi yang sangat pragmatis. Alih-alih merakit robot humanoid sendiri dari awal, startup ini memastikan produk yang siap pakai bagi dunia bisnis."Fokus kami adalah membawa robot langsung ke pelanggan akhir dan menyebarkannya untuk melakukan pekerjaan yang berguna hari ini," ungkap Co-Founder dan COO The Robot Company, Daniel Ng. "Kita semua sering melihat video robot melakukan salto, menari, atau berlari kencang. Pertanyaan yang sebenarnya ditanyakan industri saat ini adalah: lalu apa berikutnya? Bagaimana mengonversi kecanggihan itu untuk pekerjaan nyata?"
The Robot Company menerapkan model bisnis Robots as a Service (RaaS). Mereka tidak menjual perangkat keras robot, melainkan menjual jasa pemenuhan tugas dengan tarif berkisar antara SGD2.500 hingga SGD3.500 per bulan, atau sekitar SGD8 hingga SGD20 per jam kerja operasional. Perangkat lunak yang mereka kembangkan bersifat agnostik, sehingga mampu mengoperasikan beragam jenis robot, mulai dari lengan robotik stasioner seharga ribuan dolar hingga robot bipedal puluhan ribu dolar.
Metode implementasinya bertahap: robot mulanya dikendalikan dari jarak jauh (tele-operation) oleh manusia. Selama proses tersebut, sistem mengumpulkan data operasional harian yang kemudian digunakan untuk melatih model AI hingga sang robot mampu bekerja secara mandiri sepenuhnya.
Di Singapura, solusi ini telah diterapkan di sebuah gerai ritel untuk merapikan inventaris serta menyetrika pakaian, serta di fasilitas pergudangan semikonduktor untuk memindahkan papan sirkuit dan komponen aktuator. Ke depan, The Robot Company bersiap mengekspansi pasar Amerika Serikat dengan menyasar bisnis binatu komersial di New York, seraya melirik potensi industri berisiko tinggi seperti minyak, gas, dan pertambangan.
Menutup penjelasannya, Daniel menaruh optimisme tinggi terhadap ceruk pasar ini dalam jangka panjang. "Saya secara pribadi menilai total pasar yang dapat dijangkau untuk robotika di masa depan akan jauh melampaui internet, menembus angka 30 hingga 40 triliun dolar AS secara global," pungkas Daniel.