Ilustrasi: Splunk
Ilustrasi: Splunk

Mengenal Zero-Day Exploit, Senjata Paling Ditakuti di Dunia Siber

Mohamad Mamduh • 23 Februari 2026 18:06
Ringkasnya gini..
  • Laporan tersebut menjelaskan pola serangan zero-day yang sistematis.
  • Zero-day sering kali menjadi pembuka jalan bagi serangan yang lebih besar, seperti ransomware atau pencurian data massal.
  • Ketajaman analitik data menjadi satu-satunya cara bagi organisasi untuk "membeli waktu" dan mendeteksi ancaman.
Jakarta: Di dunia keamanan siber, tidak ada yang lebih mencemaskan bagi para ahli IT selain istilah Zero-Day. Laporan Top 50 Cybersecurity Threats dari Splunk menyoroti lonjakan eksploitasi celah keamanan yang belum diketahui ini sebagai ancaman tingkat tinggi yang mampu melumpuhkan pertahanan paling canggih sekalipun.
 
Disebut "Zero-Day" karena pengembang perangkat lunak memiliki "nol hari" untuk memperbaiki lubang tersebut sebelum aktor jahat mulai menyerang.
 
Fenomena ini telah berkembang menjadi sebuah industri gelap yang sangat menguntungkan. Tahun 2021 mencatat rekor tertinggi dengan sedikitnya 58 ancaman zero-day baru yang dieksploitasi, sebuah angka yang terus menunjukkan tren meningkat seiring dengan kompleksitas kode perangkat lunak modern.

Laporan tersebut menjelaskan pola serangan zero-day yang sistematis. Semuanya dimulai ketika peretas—sering kali didukung oleh negara atau jaringan kriminal terorganisir—menemukan kelemahan pada kode sumber aplikasi populer seperti sistem operasi, peramban web, atau perangkat lunak perkantoran.
 
Begitu celah ditemukan, peretas membuat kode khusus (eksploitasi) untuk menyusup ke dalam sistem. Karena celah ini belum pernah terdaftar di pangkalan data keamanan mana pun, alat antivirus dan firewall tradisional tidak akan memberikan peringatan.
 
Inilah yang membuat zero-day menjadi senjata pilihan untuk spionase industri dan serangan negara-bangsa (nation-states). Laporan Splunk mencatat bahwa serangan ini sering digunakan untuk memasang spyware canggih pada perangkat target sensitif, seperti jurnalis, aktivis, hingga pejabat tinggi pemerintahan.
 
Salah satu alasan mengapa ancaman ini begitu marak adalah nilai ekonominya yang luar biasa. Di pasar gelap atau melalui broker eksploitasi tertentu, informasi mengenai satu celah zero-day pada sistem operasi populer bisa bernilai jutaan dolar.
 
Laporan tersebut memperingatkan bahwa ledakan penggunaan teknologi telah menciptakan permukaan serangan yang luas. Semakin banyak baris kode yang ditulis untuk aplikasi baru, semakin besar kemungkinan adanya kesalahan manusia yang menciptakan celah. Bagi peretas, ini adalah perlombaan untuk menemukan celah tersebut sebelum para peneliti keamanan atau tim internal perusahaan menemukannya melalui proses audit.
 
Bahaya utama dari zero-day adalah kecepatan penyebarannya. Begitu serangan diluncurkan, pengembang perangkat lunak harus bekerja dalam tekanan luar biasa untuk menciptakan "tambalan" (patch). Selama masa tunggu tersebut—yang bisa memakan waktu berhari-hari hingga berminggu-minggu—jutaan pengguna tetap dalam kondisi rentan tanpa ada perlindungan yang pasti.
 
Laporan Splunk menyebutkan bahwa zero-day sering kali menjadi pembuka jalan bagi serangan yang lebih besar, seperti ransomware atau pencurian data massal. Kerusakan yang ditimbulkan tidak hanya berupa kerugian finansial, tetapi juga hilangnya kepercayaan publik terhadap platform digital yang mereka gunakan setiap hari.
 
Mengingat sifatnya yang tidak terdeteksi oleh metode konvensional, laporan tersebut menyarankan organisasi untuk beralih ke strategi "Defense in Depth":
 
1. Analitik Perilaku (Behavioral Analytics): Karena serangan tidak bisa dideteksi berdasarkan identitas malware, organisasi harus memantau perilaku sistem. Jika sebuah aplikasi tiba-tiba melakukan aktivitas yang tidak lazim, sistem harus segera melakukan karantina secara otomatis.
 
2. Virtual Patching: Menggunakan sistem keamanan jaringan yang dapat memblokir trafik yang mencoba mengeksploitasi celah yang diketahui sebelum patch resmi dari vendor dirilis.
 
3. Program Bug Bounty: Banyak perusahaan besar kini membayar peneliti keamanan independen untuk menemukan dan melaporkan celah sebelum jatuh ke tangan penjahat siber.
 
4. Resiliensi Data: Mengingat serangan zero-day mungkin berhasil menembus pertahanan, memastikan data terenkripsi dan memiliki cadangan yang aman adalah kunci untuk pemulihan cepat.
 
Ketajaman analitik data menjadi satu-satunya cara bagi organisasi untuk "membeli waktu" dan mendeteksi ancaman sebelum pintu pertahanan benar-benar dijebol.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA