Sapna Sumbly, Director-BFSI Business APAC Trend Micro, dan Laksana Budiwiyono, Country Manager Trend Micro Indonesia.
Sapna Sumbly, Director-BFSI Business APAC Trend Micro, dan Laksana Budiwiyono, Country Manager Trend Micro Indonesia.

Perbankan Terancam Deepfake dan Indonesia Paling Lama Tangani Serangan Siber

Cahyandaru Kuncorojati • 04 November 2024 10:03
Jakarta: Perusahaan keamanan siber Trend Micro baru ini menggelar rangkaian konferensi yang membahas tren serangan siber global termasuk di kawasan Asean, terutama di bidang perbankan.
 
Deepfake, salah satu mode kejahatan siber disebut menjadi salah satu ancaman bagi industri perbankan atau finansial. Diakui Deepfake bukan modus kejahatan siber baru, namun dengan sentuhan teknologi AI kini sulit untuk mengenali sebuah konten Deepfake tanpa bantuan keamanan siber.
 
Deepfake adalah modus kejahatan dengan menggunakan wajah orang lain pada sebuah video yang berbeda. Jika sebelumnya Deepfake kerap digunakan pada konten negatif seperti video porno untuk hoax, kini pada industri perbankan modus Deepfake digunakan penjahat siber untuk lolos dari verifikasi nasabah.

Sapna Sumbly, Director-BFSI Business APAC Trend Micro menuturkan, penjahat siber dengan data nasabah yang berhasil dicuri seperti foto paspor dan sejenisnya digunakan sebagai konten Deepfake untuk menutupi wajah asli pelaku ketika proses verifikasi perbankan, seperti sistem Know-Your-Customer (KYC).
 
“Kemudian penjahat siber akan melakukan pencurian uang nasabah, maupun mengajukan pinjaman dari bank dengan mengaku sebagai nasabah yang datanya dicuri. Teknologi AI membuat Depfake semakin meyakinkan, dan sulit dibedakan tanpa bantuan deteksi solusi keamanan siber,” jelas Sapna.
 
Di Indonesia sendiri menurut Sapna topik pembicaraan Deepfake oleh industri perbankan di Tanah Air masih dalam tahap perbincangan dan evaluasi. Mereka masih membutuhkan regulasi yang jelas untuk mengatasi ini.
 
“Perbankan di Indonesia masih mengevaluasi ini (Deepfake), kesadarannya sebenarnya sudah ada. Kami berusaha meningkatkan awareness mereka dengan menyediakan solusi Trend Micro untuk mendeteksi serangan Deepfake,” jelas Sapna.
 
Laksana Budiwiyono, Country Manager Trend Micro Indonesia, menambahkan bahwa meskipun awareness di Indonesia terhadap serangan siber tapi sebagian besar perusahaan di berbagai sektor masih butuh waktu lama dalam menangani serangan siber.
 
Pada data Trend Micro mengenai waktu menangani serangan siber terhitung sejak terdeteksi atau Mean Time To Patch (MTTP) di berbagai benua atau region, Indonesia disebut yang paling lama, yaitu butuh 45 hari sejak serangan siber terdeteksi.
 
Rata-rata MTTP di berbagai wilayah hanya sekitar 23,9 hari. Laksana menunjukan bahwa Eropa hanya per 26,5 hari untuk mencapai status recovery sementara AMEA dan Amerika masing-masing 28,3 hari dan 32,8 hari. Kawasan Jepang yang jadi basis Trend Micro butuh 36,4 hari.
 
“Di ASEAN, MTTP yang dibutuhkan berkisar 30 hari, Indonesia 45 hari. Tandanya Indonesia memerlukan waktu 1,5 kali lebih lama dari mayoritas negara di Asia Tenggara,” tegas Laksana. Bagaimana dengan tingkat keamanan siber di Indonesia?
 
Trend Micro membagi skala tingkat keamanan menjadi tiga level, 0-30 untuk risiko rendah, 31-69 yaitu tingakt medium atau menengah, dan lebih dari 69 artinya tinggi alias berbahaya.
 
Masih dari data Trend Micro, rata-rata tingkat keamanan siber di Asia Tenggara atau ASEAN disebut pada angka 43,2 nilainya namun Indonesia di nilai 44. “Kalau dilihat rata-ratanya Indonesia sedikit lebih tinggi dari Asia Tenggara,” imbuhnya.
 
Trend Micro sendiri bukan pemain baru, mereka sudah ada di Indonesia sejak lama. Sejumlah solusi keamanan siber yang mereka miliki cukup banyak termasuk deteksi Deepfake yang juga mengandalkan AI, penggunanya akan mendapatkan notifikasi dan imbauan langkah yang harus diambil jika Deepfake terbukti positif.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA