Pembukaan HSL 2018. (Medcom.id)
Pembukaan HSL 2018. (Medcom.id)

Turnamen Esport Bisa Jadi Ajang Aktualisasi Diri Siswa SMA

Teknologi games esport
Ellavie Ichlasa Amalia • 13 Desember 2018 16:40
Jakarta:Ikut serta dalam turnamen esport dapat memberikan dampak positif pada remaja, ungkap psikolog anak dan keluarga Nina Anna Surti Ariani.
 
Wanita yang akrab dengan panggilan Nina ini menjelaskan bahwa anak remaja yang bisa memamerkan kemampuannya di panggung di hadapan penonton akan merasa bangga. Dan ini akan memberikan dampak positif pada rasa percaya diri dan pengembangan diri mereka.
 
"Ini menjadi salah satu bentuk pemenuhan akan aktualisasi diri," kata Nina saat ditemui dalam acara final HSL 2018 yang diadakan di Britama Arena.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Meskipun begitu, Nina mengatakan bahwa remaja harus bisa membatasi diri sendiri. Orangtua juga bisa ikut aktif memastikan anak tidak menjadi kecanduan game dengan membuka diskusi dengan anak.
 
"Perlu diingat, anak yang sudah SMA tidak akan bisa disuruh-suruh lagi, karena perkembangan kognitifnya sudah lebih maju. Agar dia bisa membatasi diri, tidak kebablasan, penting diadakan diskusi," kata Nina.
 
Menurutnya, ini akan memberikan dampak yang lebih baik daripada orangtua memaksa untuk melarang anak. Melalui diskusi ini, orangtua juga bisa menetapkan peraturan pada anak.
 
Misalnya, anak hanya bisa bermain sekian jam maksimal dalam sehari atau anak hanya bisa bermain setelah dia menyelesaikan tugasnya.
 
"Perlu juga komunikasi dan diskusi tentang konsekuensi," ujar Nina. Jika sang orangtua sudah berkompromi, tapi anak gagal mencapai memenuhi janjinya -- misalnya untuk mempertahankan nilai di sekolah atau menjaga hubungan pertemanan dengan teman sekolahnya -- maka orangtua bisa memberikan hukuman.
 
Yohannes Siagian, Kepala Sekolah SMA 1 PSKD bercerita bahwa sekolah yang dia pimpin mengadakan pembinaan pada murid yang tertarik dengan esport.
 
Lebih dari ekstrakurikuler, yang biasanya hanya membutuhkan waktu 2-4 jam setiap minggu, program yang dilakukan SMA 1 PKSD menawarkan pembinaan setidaknya 20 jam setiap minggu.
 
"Bentuk dukungan kami berbeda-beda, karena esport memiliki cabang yang banyak," kata Yohannes.
 
"Kami mulai dengan dukungan dan bantuan untuk anak-anak memahami esport dan pembelajaran. Kami percaya bahwa esport adalah alat bantu mengajar yang sangat efektif jika digunakan dengan benar."
 
Yohannes merasa, ada banyak hal yang bisa dipelajari oleh anak dan remaja melalui game dan diterapkan pada dunia nyata. Ini harus dijelaskan pada anak. Contoh pembelajaran dari DOTA 2 misalnya, adalah pelaraj ekonomi dan perencanaan, serta logistik. Anak juga dilatih untuk memecahkan masalah.
 
"Kedua, kami memberikan fasilitas dan lingkungan yang aman, dengan pelatih. Karena masih ada kekhawatiran dari orangtua jika anak menjalankan kegiatan sekolah di iCafe yang tidak memiliki sertifikasi," katanya.
 
Menariknya, ketika dia menerapkan program pembinaan esport ini, dia mengaku tidak mendapatkan protes dari para orangtua murid. Alasannya karena sekolah membuka komunikasi yang terbuka dengan wali murid, berupa grup WhatsApp.
 
"Kami mengadakan diskusi di forum yang terbuka untuk semua. Jadi, ketika kita membuat masukan, walau ada orangtua yang tidak setuju, setidaknya mereka telah melalui semua proses," katanya.
 

(MMI)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif