Google: Ekonomi Digital Masih Punya Pekerjaan Rumah
Pertumbuhan ekonomi digital di Asia Tenggara juga masih memiliki tantangan agar menjadi lebih maju.
Jakarta: Google menyebutkan, perkembangan ekonomi digital yang pesat di Asia Tenggara tidak terlepas dari tantangan dan pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan. Hal ini disampaikan Google dalam penelitiannya bersama dengan Temasek.

Pada penelitian tersebut, Google mengidentifikasi enam tantangan yang perlu diselesaikan selama satu dekade mendatang. Tantangan itu harus diselesaikan untuk memajukan dan memanfaatkan potensi ekonomi digital secara penuh di Asia Tenggara.

“Ada enam tantangan kunci yang kami temukan, dan keenam tantangan ini harus diatasi agar ekonomi digital menjadi maju,” ujar Managing Director Google Indonesia Randy Jusuf.


Keenam tantangan tersebut termasuk peningkatan infrastruktur internet agar dapat menyuguhkan akses internet terjangkau dan andal, meningkatkan kepercayaan konsumen dalam layanan ekonomi digital, serta kemampuan perusahaan ekonomi digital dalam menggandeng profesional bertalenta.

Selain itu, pengembangan jaringan logistik harus mampu menangani prediksi peningkatan pendistribusian e-commerce senebtara solusi pembayaran harus diadopsi lebih banyak untuk memungkinkan pengguna internet di Asia Tenggara agar dapat bertransaksi secara online dan offline dengan nyaman.

Google mengatakan, tantangan lainnya yang perlu diselesaikan untuk memajukan ekonomi digital adalah ketersediaan investasi modal ventura dalam jumlah cukup untuk mendanai perusahaan ekonomi digital dalam memperluas cakupan usaha mereka.

Saat ini, sejumlah tantangan ini sudah mulai terselesaikan, termasuk di bidang infrastruktur internet di Indonesia. Kemajuan dalam mengatasi tantangan di bidang infrastruktur ini salah satunya terlihat pada dukungan pemerintah Indonesia, melalui program Palapa Ring.

DI bidang profesional bertalenta, Google juga menemukan kemajuan. Meskipun begitu, mereka menilai bidang ini masih memiliki peluang untuk dapat berkembang lebih baik lagi. Demikian juga pada bidang logistik, yang dinilai Google masih dapat dikembangkan. Salah satu caranya adalah melalui investasi ke startup terkait.



(ELL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Medcom.id

Hardware

  • Prosesor : Intel Core i7-8700K, AMD Ryzen 7 2700X
  • Motherboard : ASUS Z370-A Prime, MSI X470 Gaming Plus
  • RAM : Apacer Panther RAGE 2400 MHz (2x 8GB)
  • VGA : Colorful GTX 1070 X-Top-8G, ASUS ROG Strix RX Vega 64 8G
  • Pendingin : Noctua NH-U21S
  • Storage : Apacer Panther AS340 240GB, Seagate Barracuda 8TB
  • PSU : Corsair RM 850X
  • Monitor : ASUS PB287Q 4K, ASUS MZ27AQ
  • Mouse : Corsair Dark Core SE, Corsair Scimitar Pro
  • Mousepad : Corsair MM1000 Qi, Corsair MM800 Polaris
  • Keyboard : Corsair K63 Wireless, Corsair K70 RGB MK.2 SE
  • Headset : Corsair HS60, Corsair HS70

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark, CineBench R15 Gaming (PC): The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity - Escalation, Far Cry 5 Gaming (Mobile): PUBG Mobile

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak untuk benchmark, kami hanya memilih dua berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.