AS Kenalkan Hukum Data Aman
Apple sempat beradu dengan FBI di pengadilan. (AFP PHOTO / Don EMMERT)
Jakarta: Regulator Amerika Serikat memperkenalkan Aturan Data Aman, sebuah peraturan baru yang mencegah penegak hukum dan badan intelijen memaksa perusahaan teknologi membuat pintu belakang atau backdoor di produk dan layanan mereka. 

"Badan intelijen dan penegak hukum AS telah meminta, memaksa dan bahkan mencari perintah pengadilan untuk meminta perusahaan dan individual untuk membuat sebuah 'backdoor', memperlemah enkripsi pada produk atau layanan mereka untuk membantu badan penegak hukum dalam melakukan pengawasan digital," kata representatif California dari Partai Demokrat, Zoe Lofgren. 

Digital Trends melaporkan, peraturan ini dianggap diperlukan setelah terjadinya pertarungan hukum antara badan intelijen dan perusahaan teknologi, seperti apa yang terjadi antara FBI dan Apple terkait enkripsi pada iPhone 5C.


FBI mendapatkan ponsel itu dari salah satu pelaku penembakan San Bernardino ada 2015. Namun, mereka tidak bisa membuka ponsel tersebut. Setelah meminta NSA membuka ponsel tersebut dan gagal, FBI kemudian meminta Apple untuk membuat backdoor pada iOS agar FBI bisa menembus sistem keamanan ponsel. Apple menolak. 

"Di tangan yang salah, software ini -- yang saat ini tidak ada -- akan memiliki ponsel untuk membuka semua iPhone yang bisa mereka pegang," kata CEO Apple, Tim Cook.

"FBI mungkin menggunakan nama yang berbeda untuk alat ini, tapi jangan salah: mengembangkan versi iOS yang bisa menembus keamanan sudah pasti akan menciptakan backdoor."

"Pemerintah mungkin akan berkata bahwa ini hanya digunakan dalam kasus ini, tapi tidak ada jaminan bahwa penggunaannya bisa dibatasi."

FBI dan Apple sempat beradu di pengadilan. Pada akhirnya, FBI menarik tuduhannya pada Apple dan meminta hacker untuk membuat tool untuk mengeksploitasi kelemahan yang ada pada iOS. Setelah itu, Apple meminta FBI untuk memberitahu mereka cara badan intelijen itu meretas sistem iOS. 

Lofgren percaya, backdoor pada sebuah produk atau layanan, meski ia dibuat untuk badan intelijen dan penegak hukum tetaplah "kelemahan yang bisa dieksploitasi oleh para hacker."



(MMI)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Medcom.id

Hardware

  • Prosesor : Intel Core i7-8700K, AMD Ryzen 7 2700X
  • Motherboard : ASUS Z370-A Prime, MSI X470 Gaming Plus
  • RAM : Apacer Panther RAGE 2400 MHz (2x 8GB)
  • VGA : Colorful GTX 1070 X-Top-8G, ASUS ROG Strix RX Vega 64 8G
  • Pendingin : Noctua NH-U21S
  • Storage : Apacer Panther AS340 240GB, Seagate Barracuda 8TB
  • PSU : Corsair RM 850X
  • Monitor : ASUS PB287Q 4K, ASUS MZ27AQ
  • Mouse : Corsair Dark Core SE, Corsair Scimitar Pro
  • Mousepad : Corsair MM1000 Qi, Corsair MM800 Polaris
  • Keyboard : Corsair K63 Wireless, Corsair K70 RGB MK.2 SE
  • Headset : Corsair HS60, Corsair HS70

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark, CineBench R15 Gaming (PC): The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity - Escalation, Far Cry 5 Gaming (Mobile): PUBG Mobile

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak untuk benchmark, kami hanya memilih dua berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.