Bagaimana Geopolitik Pengaruhi Dunia Keamanan Siber

Ellavie Ichlasa Amalia 23 September 2018 14:51 WIB
cyber securitykaspersky
Bagaimana Geopolitik Pengaruhi Dunia Keamanan Siber
Tim Kaspersky menjelaskan tentang efek masalah geopolitik pada dunia keamanan siber.
Jakarta: Pemerintah berbagai negara mulai menyadari betapa pentingnya keamanan dunia siber. Karena itulah, pemerintah mulai membuat regulasi terkait perlindungan data, seperti yang dilakukan oleh Uni Eropa dengan GDPR (General Data Protection Regulation). 

Peraturan itu berfungsi untuk melindungi warga mereka dari penyalahgunaan data seperti yang terjadi pada 87 juta pengguna Facebook dalam skandal Cambridge Analytica. Pada saat yang sama, ini memunculkan ketidakpercayaan pada perusahaan teknologi. 

Masalah kepercayaan merupakan salah satu masalah utama yang dihadapi oleh Kaspersky Lab. Karena itulah, mereka membuat Global Tranparancy Initiative. Anton Shingarev, VP of Public Affairs, Kaspersky lab merasa, masalah kepercayaan akan dihadapi oleh semua perusahaan yang bergerak di bidang teknologi. 


"Apakah Anda akan bisa memercayai perusahaan penyedia solusi Anda, perusahaan yang membuat smartphone Anda, jika mereka membuat smartphone di Tiongkok, Jepang atau Korea Selatan? Apa Anda akan bisa memercayai aplikasi yang ada di dalam smartphone Anda?" kata Anton dalam wawancara dengan Medcom. id di Cyber Security Week. 

Principal Security Researcher, Head of Research Center, Asia Pasifik, Kaspersky Lab, Vitaly Kamluk juga mengakui bahwa sekarang, semakin sedikit peneliti keamanan siber dari berbagai negara yang bekerja sama untuk menyelesaikan sebuah masalah.

Ini membuat dunia internet terpecah. Vitaly menyebutkan, internet saat ini layaknya sebuah kawasan yang dijaga ketat oleh pemerintah masing-masing negara, menyaring konten yang masuk ke dalamnya. 


Tim Kaspersky Lab dalam Cyber Security Weekend. 

Masalah geopolitik akan memengaruhi bagaimana para peneliti keamanan siber dari berbagai negara berinteraksi. Sayangnya, masalah ini tidak memengaruhi para kriminal siber.

"Satu-satunya hal yang mereka pedulikan hanya uang. Mereka tidak peduli tentang ras, warna kulit, orientasi seksual," kata Anton. "Jika sesuatu bisa memberikan uang pada mereka, mereka akan melakukan itu."

Anton memberikan hacker Ukraina dan Rusia sebagai contoh. Dia mengatakan, hubungan antara kedua negara itu sedang sangat buruk saat ini. Namun, para kriminal siber tidak peduli dengan masalah itu. Mereka tetap membantu satu sama lain. Ini akan menciptakan masalah dalam dunia keamanan siber. 

"Kriminal siber Ukraina bisa menyerang bank Rusia dan sebaliknya. Mereka bisa mencuri uang dan mereka tidak akan mendapatkan hukuman. Karena polisi dari dua negara itu tidak saling berkomunikasi," kata Anton. 

Dengan semakin berkembangnya teknologi, peperangan siber menjadi hal yang nyata. Lalu, bagaimana pemerintah bisa melindungi negara dan masyarakatnya dari dampak perang siber?

"Sayangnya, negara dan masyarakat biasanya tidak peduli sampai sesuatu telah terjadi," kata Anton.

Dia menjadikan senjata nuklir sebagai contoh. Amerika Serikat dan Uni Soviet baru mulai berkomunikasi dan membuat peraturan tentang penggunaan senjata nuklir setelah mereka saling menghancurkan satu sama lain pada tahun 1960-an. 

"Saya rasa, sesuatu yang sangat buruk harus hampir terjadi, sesuatu yang sangat berbahaya, serangan siber yang menyebabkan kekacauan massal misalnya. Setelah itu terjadi, barulah para pemerintah bisa duduk bersama dan membahas tentang peraturan dunia siber."



(MMI)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Medcom.id

Hardware

  • Prosesor : Intel Core i7-8700K, AMD Ryzen 7 2700X
  • Motherboard : ASUS Z370-A Prime, MSI X470 Gaming Plus
  • RAM : Apacer Panther RAGE 2400 MHz (2x 8GB)
  • VGA : Colorful GTX 1070 X-Top-8G, ASUS ROG Strix RX Vega 64 8G
  • Pendingin : Noctua NH-U21S
  • Storage : Apacer Panther AS340 240GB, Seagate Barracuda 8TB
  • PSU : Corsair RM 850X
  • Monitor : ASUS PB287Q 4K, ASUS MZ27AQ
  • Mouse : Corsair Dark Core SE, Corsair Scimitar Pro
  • Mousepad : Corsair MM1000 Qi, Corsair MM800 Polaris
  • Keyboard : Corsair K63 Wireless, Corsair K70 RGB MK.2 SE
  • Headset : Corsair HS60, Corsair HS70

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark, CineBench R15 Gaming (PC): The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity - Escalation, Far Cry 5 Gaming (Mobile): PUBG Mobile

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak untuk benchmark, kami hanya memilih dua berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.