OpenAI menyatakan akan mengikuti program peninjauan AI sukarela dari pemerintah AS setelah Presiden Donald Trump menandatangani perintah eksekutif baru terkait keamanan AI.
OpenAI menyatakan akan mengikuti program peninjauan AI sukarela dari pemerintah AS setelah Presiden Donald Trump menandatangani perintah eksekutif baru terkait keamanan AI.

OpenAI Siap Ikuti Program Peninjauan AI Pemerintah AS di Bawah Perintah Eksekutif Trump

Lufthi Anggraeni • 06 Juni 2026 08:30
Ringkasnya gini..
  • OpenAI menyatakan akan secara sukarela mengikuti program peninjauan model AI yang diperkenalkan melalui perintah eksekutif terbaru Presiden Donald Trump.
  • Kebijakan tersebut memungkinkan pemerintah Amerika Serikat meninjau model AI canggih hingga 30 hari sebelum dirilis ke publik untuk mengidentifikasi potensi risiko keamanan siber.
  • Langkah ini menunjukkan meningkatnya kerja sama antara pemerintah AS dan perusahaan AI dalam menghadapi tantangan keamanan yang muncul dari perkembangan teknologi kecerdasan buatan.
Jakarta: OpenAI mengonfirmasi kesediaannya untuk berpartisipasi dalam program peninjauan sukarela terhadap model kecerdasan buatan (AI) yang diperkenalkan oleh pemerintahan Presiden Donald Trump.
 
Mengutip Engadget, keputusan tersebut menjadikan OpenAI sebagai salah satu perusahaan AI besar yang mendukung pendekatan baru pemerintah Amerika Serikat dalam mengawasi perkembangan model AI generasi terbaru.
 
Pernyataan tersebut muncul beberapa hari setelah Trump menandatangani perintah eksekutif bertajuk Promoting Advanced Artificial Intelligence Innovation and Security. Regulasi baru itu mengundang pengembang AI terdepan untuk memberikan akses kepada pemerintah terhadap sejumlah model AI paling canggih sebelum peluncuran publik.

Menurut OpenAI, keterlibatan pemerintah dalam pengawasan teknologi AI memiliki peran penting untuk memastikan inovasi berjalan seiring dengan aspek keamanan dan kepentingan publik. Perusahaan menilai pendekatan fleksibel akan lebih efektif dibandingkan dengan regulasi yang terlalu kaku dalam menghadapi perkembangan AI yang berlangsung sangat cepat.
 
Melalui perintah eksekutif tersebut, pemerintah Amerika Serikat (AS) meminta perusahaan AI secara sukarela menyerahkan sejumlah model canggih karya mereka untuk diuji hingga 30 hari sebelum dirilis.
 
Selama periode itu, sejumlah lembaga federal, termasuk badan keamanan siber dan keamanan nasional, dapat mengevaluasi kemampuan model AI dalam mengidentifikasi atau mengeksploitasi kerentanan digital yang berpotensi mengancam infrastruktur penting.
 
Fokus utama kebijakan ini adalah mengantisipasi risiko keamanan siber yang mungkin muncul dari model AI generasi terbaru. Pemerintah khawatir bahwa kemampuan AI yang kian maju dapat dimanfaatkan oleh pihak tidak bertanggung jawab untuk melakukan serangan siber, menemukan celah keamanan software, atau mengembangkan metode serangan lebih rumit.
 
Kendati demikian, pemerintah menegaskan bahwa skema tersebut bersifat sukarela dan tidak menciptakan kewajiban lisensi atau izin resmi sebelum suatu model AI dapat diluncurkan ke pasar. Kebijakan terbaru Trump dipandang sebagai upaya mencari titik tengah antara perlindungan keamanan nasional dan keinginan mempertahankan posisi AS sebagai pemimpin global dalam pengembangan AI.
 
Sebelumnya, rancangan awal kebijakan tersebut sempat menuai kritik karena dianggap berpotensi memperlambat inovasi dan mengurangi daya saing industri AI Amerika terhadap Tiongkok. Versi awal bahkan disebut mempertimbangkan masa peninjauan lebih panjang.
 
Namun setelah mendapat masukan dari berbagai pihak di industri teknologi, pemerintah akhirnya menetapkan periode evaluasi maksimal 30 hari agar tidak terlalu membebani perusahaan pengembang AI.
 
Langkah ini mendapatkan respons positif dari sejumlah perusahaan teknologi besar. Selain OpenAI, beberapa perusahaan lain juga dilaporkan mendukung pendekatan kolaboratif antara sektor swasta dan pemerintah dalam mengelola risiko teknologi AI yang kian rumit.
 
Dorongan untuk memperkuat pengawasan muncul setelah berkembangnya sejumlah model AI yang memiliki kemampuan keamanan siber sangat tinggi. Beberapa model terbaru disebut mampu menemukan kerentanan software secara otomatis dan melakukan sejumlah tugas yang sebelumnya membutuhkan keahlian teknis tingkat lanjut.
 
Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa teknologi serupa dapat disalahgunakan oleh pelaku kejahatan siber atau aktor negara. Karena alasan itulah pemerintah AS berupaya membangun mekanisme evaluasi dini untuk memahami kemampuan dan risiko model AI sebelum tersedia secara luas.
 
Pendekatan ini juga dianggap dapat membantu memperkuat pertahanan siber nasional tanpa harus menerapkan regulasi yang terlalu ketat terhadap industri AI. Dengan kesediaan OpenAI untuk berpartisipasi, program tersebut memperoleh dukungan dari salah satu pengembang AI paling berpengaruh di dunia.
 
Langkah ini sekaligus menandai babak baru dalam hubungan antara pemerintah dan industri AI, di mana kolaborasi keamanan menjadi semakin penting seiring meningkatnya kemampuan teknologi kecerdasan buatan.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA