Jakarta: Minat perusahaan-perusahaan di Asia terhadap penerapan Kecerdasan Buatan (AI) kini berada di titik tertinggi. Berdasarkan laporan survei The AI Business Application Readiness and Accessibility Survey yang dirilis oleh Alibaba Cloud bersama NielsenIQ, sebanyak 90% responden di Asia menyatakan sangat optimistis terhadap implementasi AI dalam operasional bisnis mereka.
Antusiasme yang luar biasa ini diiringi dengan komitmen investasi yang nyata. Sebanyak 95% perusahaan yang disurvei berencana menaikkan anggaran untuk produk dan layanan AI. Alokasi anggaran terbesar difokuskan pada penguatan infrastruktur dasar, dengan 69% responden berencana meningkatkan belanja Infrastructure as Service (IaaS) di atas 20%. Selain itu, peningkatan anggaran signifikan juga direncanakan untuk Platform as a Service (PaaS) sebesar 61% dan Model as a Service (MaaS) sebesar 58%.
Indonesia menonjol sebagai negara dengan antusiasme adopsi AI paling masif di Asia. Tercatat seluruh responden (100%) dari Indonesia menyatakan optimisme yang tinggi terhadap pemanfaatan AI di organisasi mereka. Negara ini juga mencatatkan tingkat adopsi cloud tertinggi, di mana 91% responden telah menjalankan sebagian besar atau seluruh sistem TI mereka di lingkungan cloud.
Berbeda dengan adopsi konvensional, 75% perusahaan di Indonesia memandang AI bukan sekadar alat efisiensi. Ia sudah menjadi instrumen strategis untuk memicu inovasi serta menciptakan peluang bisnis baru.
Dr. Feifei Li, Chief Technology Officer dan President of International Business Alibaba Cloud Intelligence Group, menegaskan bahwa lanskap teknologi kini mulai bertransisi menuju era agentic AI. Alibaba Cloud berkomitmen mendukung pergeseran ini dari pemrosesan model standar menuju penyediaan agentic cloud yang siap pakai melalui penyediaan infrastruktur penting seperti runtime sandbox dan orkestrasi.
Meski akselerasi berjalan cepat, pelaku bisnis masih dihadapkan pada sejumlah tantangan besar. Privasi dan keamanan data menjadi kekhawatiran utama bagi 48% responden, disusul oleh tingginya biaya implementasi (42%) serta keterbatasan keahlian internal (37%). Selain itu, regulasi dan kepatuhan etika menjadi hambatan serius bagi sektor dengan aturan ketat seperti industri keuangan, pendidikan, dan sektor publik.
Riset ini juga menggarisbawahi kebutuhan mendesak akan solusi AI full-stack yang aman dan terintegrasi langsung dengan ekosistem cloud (45%). Integrasi ini dinilai mempermudah tata kelola data, menyelaraskan kebijakan keamanan, dan memberikan kejelasan biaya operasional. Kendala lain yang ditemukan adalah ketersediaan dukungan bahasa lokal.
Di pasar seperti Jepang, Korea Selatan, Indonesia, dan Thailand, model AI yang fasih berbahasa lokal sangat dibutuhkan karena hanya separuh responden yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama pada solusi AI mereka.
Menjawab tantangan tersebut, Alibaba Group berkomitmen menginvestasikan sedikitnya RMB380 miliar (sekitar Rp1.012,1 triliun) dalam tiga tahun ke depan guna memperluas infrastruktur komputasi awan dan kapabilitas AI full-stack global mereka, termasuk pengembangan keluarga model bahasa besar Qwen yang mendukung lebih dari 200 bahasa.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan