Perusahaan Asia Pasifik meningkatkan investasi AI, dari proyek pilot menuju produksi.
Perusahaan Asia Pasifik meningkatkan investasi AI, dari proyek pilot menuju produksi.

Akamai: Investasi AI Asia Pasifik Makin Besar

Lufthi Anggraeni • 21 Agustus 2026 09:14
Ringkasnya gini..
  • Perusahaan Asia Pasifik mengalihkan investasi AI dari proyek pilot menuju penerapan produksi berskala penuh.
  • AI mulai digunakan untuk transformasi bisnis, termasuk gaming dan ecommerce, bukan sekadar meningkatkan produktivitas.
  • Akamai memperkuat kemitraan dengan NVIDIA untuk membangun infrastruktur AI terdistribusi.
Jakarta: Perusahaan di kawasan Asia Pasifik mulai mengubah cara mereka memandang investasi kecerdasan artifisial (AI). Infrastruktur AI tidak lagi ditempatkan semata sebagai kebutuhan teknis departemen IT, tetapi mulai masuk ke pembahasan strategis perusahaan hingga tingkat direksi.
 
Perubahan tersebut terlihat dari pergeseran alokasi anggaran AI. Perusahaan mulai mengarahkan investasi dari tahap proyek percontohan dan proof of concept menuju penerapan AI dalam lingkungan produksi berskala penuh. Pada saat sama, perusahaan semakin menuntut hasil bisnis yang dapat diukur dari investasi tersebut. 
 
“Kami melihat semakin banyak perusahaan mengalokasikan anggaran dalam jumlah besar ke proyek AI yang ditanamkan langsung pada lingkungan produksi. Ini berarti ada banyak pengawasan ketat," ujar Managing Director Akamai Asia Pasifik Sean Li. 

Li menambahkan bahwa pemilik bisnis kini menuntut dampak lebih terukur dari setiap investasi AI.

AI Bergeser dari Efisiensi ke Transformasi Bisnis

Perubahan berikutnya terlihat dari tujuan perusahaan dalam memanfaatkan AI. Teknologi tersebut mulai digunakan bukan hanya untuk meningkatkan efisiensi atau produktivitas, tetapi juga untuk menciptakan model bisnis dan sumber pertumbuhan baru.
 
Sean Li mencontohkan penerapan AI pada industri gaming. Salah satu pelanggan Akamai menggunakan teknologi tersebut untuk menciptakan karakter virtual personal atau non-player character (NPC) dengan tujuan memperpanjang interaksi pemain dengan game.
 
Penerapan lain ditemukan di sektor ecommerce. Pelanggan Akamai memanfaatkan AI berbasis foto selfie untuk memberikan rekomendasi gaya kepada konsumen. Teknologi tersebut digunakan sebagai bagian dari pengalaman belanja sekaligus diarahkan untuk mendorong transaksi. 
 
Perubahan tersebut menunjukkan perusahaan mulai melihat AI sebagai bagian dari strategi pertumbuhan. Fokusnya tidak lagi berhenti pada pertanyaan mengenai cara AI dapat membantu pekerjaan menjadi lebih cepat, tetapi juga cara teknologi tersebut dapat menghasilkan pengalaman baru bagi pelanggan dan membuka peluang bisnis.
 
Dengan meningkatnya skala penerapan, kebutuhan terhadap infrastruktur pendukung juga ikut berubah. Sistem AI yang digunakan dalam lingkungan produksi membutuhkan fondasi teknologi yang dapat menjaga keamanan, tata kelola, keandalan, dan keberlanjutan sepanjang siklus penggunaannya.
 
Akamai: Investasi AI Asia Pasifik Makin Besar

Infrastruktur AI Masuk Agenda Direksi

Infrastruktur menjadi salah satu aspek utama dalam perubahan strategi AI perusahaan Asia Pasifik. Akamai melihat investasi jangka panjang pada infrastruktur tidak lagi hanya berkaitan dengan pemilihan model AI atau menentukan bagian bisnis yang akan menggunakan teknologi tersebut.
 
Perusahaan perlu mempertimbangkan kemampuan infrastruktur dalam mendukung seluruh siklus hidup AI. Aspek keamanan, tata kelola, keandalan, dan keberlanjutan menjadi bagian dari pertimbangan ketika perusahaan menentukan investasi. 
 
Pergeseran tersebut juga memperlihatkan meningkatnya posisi AI dalam struktur organisasi perusahaan. Pembahasan mengenai infrastruktur dan penerapan AI mulai bergerak dari ranah teknis menuju pengambilan keputusan tingkat atas.
 
Akamai mencatat sejumlah perubahan lain yang turut membentuk infrastruktur AI. Salah satunya adalah peralihan dari sistem pendukung berbasis co-pilot menuju kemampuan melakukan tindakan secara otonom.
 
Kebutuhan komputasi juga terus meningkat seiring sistem AI digunakan sepanjang waktu. Pada saat bersamaan, sejumlah perusahaan mulai melakukan reorganisasi dengan menunjuk Chief AI Officer yang melapor langsung kepada CEO. 
 
Perubahan tersebut menunjukkan AI mulai memengaruhi struktur organisasi sekaligus kebutuhan teknologi perusahaan. Infrastruktur harus mampu mengikuti perkembangan beban kerja AI yang semakin besar dan rumit.

Beban Kerja AI Ungkap Keterbatasan IT Tradisional

Peningkatan penggunaan AI juga memperlihatkan keterbatasan infrastruktur IT konvensional. Menurut Li, kebutuhan terhadap infrastruktur terdistribusi sebenarnya telah muncul selama bertahun-tahun, tetapi beban kerja AI membuat risikonya menjadi jauh lebih tinggi.
 
Lingkungan IT tradisional, jelas Li, tidak dirancang untuk menghadapi seluruh karakteristik beban kerja AI. Akibatnya, perusahaan perlu menyesuaikan infrastruktur agar mampu menangani kebutuhan komputasi serta operasional AI dalam skala lebih besar. 
 
Perubahan tersebut turut meningkatkan kebutuhan terhadap sistem terdistribusi. Ketika AI digunakan untuk menjalankan berbagai proses secara berkelanjutan, perusahaan membutuhkan infrastruktur yang mampu menempatkan komputasi dan model di lokasi sesuai kebutuhan.
 
Akamai kemudian memperkuat kemitraannya dengan NVIDIA untuk mendukung pendekatan tersebut. CTO Cloud Computing Akamai Jay Jenkins menjelaskan bahwa kolaborasi kedua perusahaan diarahkan pada konsep *distributed cloud*, bukan sekadar hubungan antara pelanggan dan vendor GPU. 

Akamai Perkuat Kolaborasi dengan NVIDIA

Dalam pengembangan infrastruktur terdistribusi, Akamai memanfaatkan sejumlah teknologi NVIDIA. Jay Jenkins menyebut NVIDIA memperkenalkan AI Grid sebagai kerangka kerja untuk menerapkan AI secara terdistribusi secara global.
 
Akamai menjadi organisasi pertama yang menerapkan kerangka kerja tersebut. Pendekatan ini memungkinkan komputasi dan model AI dijalankan di lokasi tempat kebutuhan muncul. Akamai juga menghadirkan GPU NVIDIA Blackwell, termasuk RTX Pro 6000, pada Akamai Cloud. Infrastruktur tersebut ditujukan untuk kebutuhan post-training serta operasional AI dalam skala besar.
 
Selain itu, teknologi NVIDIA BlueField digunakan pada produk segmentasi untuk mendukung orkestrasi secara lebih cerdas. Penggunaan teknologi tersebut menjadi bagian dari upaya Akamai membangun infrastruktur yang dapat menangani kebutuhan AI terdistribusi. 
 
Perkembangan tersebut menunjukkan investasi AI di Asia Pasifik mulai memasuki tahap lebih matang. Perusahaan tidak hanya berfokus pada pengembangan model atau eksperimen teknologi, tetapi juga memikirkan bagaimana AI dapat dijalankan dalam lingkungan produksi dan memberikan dampak bisnis.
 
Dengan meningkatnya kebutuhan komputasi, keamanan, tata kelola, serta keandalan, infrastruktur AI berpotensi menjadi bagian semakin penting dalam strategi perusahaan. Perubahan posisi tersebut juga membuat keputusan mengenai infrastruktur tidak lagi terbatas pada departemen IT, tetapi mulai menjadi agenda tingkat manajemen.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA