Ilustrasi: Akamai
Ilustrasi: Akamai

Hampir Separuh Penggunaan AI Gak Kepantau, Hati-Hati Shadow AI

Mohamad Mamduh • 17 Agustus 2026 13:28
Ringkasnya gini..
  • Laporan ini menyoroti lonjakan adopsi kecerdasan buatan (AI) di sektor korporasi yang sangat pesat.
  • Akamai menyusun lima panduan taktis bagi Chief Information Security Officer (CISO) pada tahun 2026.
  • Para peneliti Akamai berhasil mengidentifikasi tiga metode ancaman siber baru sepanjang tahun 2026.
Jakarta: Akamai Technologies, perusahaan keamanan siber dan komputasi cloud global, resmi merilis laporan keamanan terbaru State of the Internet (SOTI): The Enterprise AI Usage Risk Report 2026.
 
Laporan ini menyoroti lonjakan adopsi kecerdasan buatan (AI) di sektor korporasi yang sangat pesat, namun tidak diimbangi dengan sistem pengawasan keamanan yang memadai. Akibatnya, muncul fenomena Shadow AI, yaitu penggunaan aplikasi AI yang tidak dikelola dan berjalan tanpa terdeteksi oleh tim keamanan perusahaan.
 
Or Eshed, Vice President Enterprise Security Product dan Engineering Akamai, mengungkapkan bahwa integrasi AI telah bergeser dari sekadar alat produktivitas menjadi rekan kerja digital yang memiliki akses langsung ke aset paling berharga milik perusahaan.

"Solusi pencegahan kebocoran data konvensional (DLP) dirancang untuk era perpindahan file dan email tradisional. Saat ini, data sensitif perusahaan tersebar secara sistematis melalui jutaan prompt yang terus berubah, akun pribadi yang tidak dikelola, serta agen AI otonom," jelas Or Eshed.
 
Ia mendesak para pemimpin keamanan untuk mengubah strategi dari memblokir AI menjadi mengelola bagaimana AI beroperasi secara real-time.
 

Risiko dan Dominasi Shadow AI

Riset Akamai menemukan bahwa meskipun AI digunakan di seluruh fungsi bisnis, risiko siber sebenarnya sangat terkonsentrasi pada kelompok kecil pengguna ahli yang sangat aktif. Kelompok yang mencakup sekitar 5% karyawan ini menjadi pendorong utama sebagian besar paparan risiko AI di perusahaan.
 
Di sisi lain, tim keamanan menghadapi tantangan visibilitas yang serius. Fokus keamanan saat ini terlalu tertuju pada platform AI yang telah disetujui secara resmi, sementara sejumlah besar aplikasi tidak resmi aktif digunakan oleh karyawan di balik layar tanpa pengawasan khusus.
 

Tiga Vektor Serangan Berbasis AI Baru di Tahun 2026

Para peneliti Akamai berhasil mengidentifikasi tiga metode ancaman siber baru sepanjang tahun 2026 yang terbukti mampu menembus perimeter pertahanan konvensional:
 

Vibe Hacking

Peretas memanipulasi file instruksi markdown lokal pada lingkungan kerja pengembang secara halus. Hal ini menipu asisten pemrograman AI untuk menghasilkan kode berbahaya atau melakukan tindakan tidak sah.
 

CursorJacking

Memanfaatkan ekstensi peramban (browser) berbahaya dengan izin akses luas untuk mencuri kunci API, basis kode perusahaan, dan riwayat percakapan dari asisten pemrograman populer seperti Cursor.
 

CometJacking

Penyerang menyisipkan instruksi berbahaya pada halaman web publik menggunakan teknik indirect prompt injection. Metode ini memanipulasi agen AI lokal pengguna (seperti Comet AI dari Perplexity) untuk mengirimkan file lokal, email, dan kredensial sesi tanpa izin.
 

Rekomendasi Strategi untuk CISO

Guna memitigasi risiko tersebut, Akamai menyusun lima panduan taktis bagi Chief Information Security Officer (CISO) pada tahun 2026:
 
1. Fokus pada Pengguna Tingkat Lanjut: Mengarahkan pemantauan dan pelatihan khusus pada 5% karyawan dengan interaksi prompt AI tertinggi.
 
2. Eliminasi Shadow AI: Mengintegrasikan platform AI resmi dengan sistem Single Sign-On (SSO) perusahaan untuk mempermudah pelacakan aplikasi SaaS.
 
3. Analisis Lapisan Interaksi: Beralih ke pengawasan kontekstual real-time terhadap aktivitas copy/paste, prompt, dan unggahan dokumen.
 
4. Audit Ekstensi Browser & IDE: Memperketat izin akses ekstensi, mengingat hampir 75% ekstensi AI meminta akses tingkat tinggi dan 16,3% di antaranya mengandung kerentanan keamanan (CVE) aktif.
 
5. Proteksi Agen AI: Menerapkan prinsip hak akses minimum (least privilege) bagi agen AI otonom yang bekerja atas nama karyawan.
 
Melalui laporan SOTI tahun ke-12 ini, Akamai menegaskan pentingnya adaptasi cepat dari para pemimpin keamanan global demi mengoptimalkan manfaat ekonomi AI tanpa mengorbankan integritas data penting perusahaan.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA