Berdasarkan laporan terbaru, Google menyetujui pembayaran sebesar USD135 juta atau sekitar Rp2,3 triliun sebagai bagian dari penyelesaian kasus class action. Gugatan tersebut menuding sistem Android mengirimkan data pengguna secara diam-diam, bahkan saat perangkat tidak aktif digunakan, sehingga menguras kuota data seluler tanpa sepengetahuan pengguna.
Kasus ini berawal dari gugatan yang diajukan pada tahun 2020, saat penggugat menilai praktik pengumpulan data oleh Android tidak transparan. Kendati tidak mengakui adanya pelanggaran, Google memilih menyelesaikan perkara melalui kesepakatan hukum yang kini membuka peluang kompensasi bagi pengguna yang memenuhi syarat.
Dana kompensasi tersebut diperkirakan akan dibagikan kepada sekitar 100 juta pengguna Android di Amerika Serikat. Namun, jumlah yang diterima setiap individu tidak akan sama, karena bergantung pada jumlah klaim yang masuk serta potongan biaya administrasi dan hukum.
Sementara itu, nilai maksimal yang bisa diterima per pengguna diperkirakan mencapai USD100 atau sekitar Rp1,6 juta. Meski demikian, dalam praktiknya nominal yang diterima berpeluang jauh lebih kecil karena dana akan dibagi ke banyak penerima.
Sebagai bagian dari kesepakatan, Google juga diwajibkan melakukan perubahan pada kebijakan privasi dan transparansi sistem Android. Perubahan ini mencakup penjelasan lebih jelas terkait penggunaan data latar belakang, permintaan persetujuan pengguna saat pengaturan perangkat, serta opsi penghentian pengumpulan data jika fitur tertentu dinonaktifkan.
Sebagai informasi, kompensasi ini hanya berlaku untuk pengguna Android di Amerika Serikat yang memenuhi kriteria tertentu, termasuk periode penggunaan perangkat sejak tahun 2017. Proses klaim dilakukan melalui situs resmi penyelesaian gugatan, dengan jadwal persetujuan akhir pengadilan yang masih menunggu keputusan.
Langkah ini menjadi salah satu contoh tekanan regulasi terhadap perusahaan teknologi global dalam hal perlindungan data pengguna. Kasus tersebut juga menyoroti pentingnya transparansi dalam pengelolaan data di era digital yang kian rumit.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News