Kombinasi unik antara pertumbuhan ekonomi yang tinggi, kelimpahan talenta muda cerdas digital atau digital native, serta dinamika perdagangan regional menjadikan kawasan ini sebagai lahan subur bagi transformasi digital berbasis AI.
President and Managing Director SAP Southeast Asia Liher Urbizu, menegaskan bahwa Asia Tenggara memiliki posisi yang sangat unik dibandingkan wilayah lain di dunia dalam hal kesiapan dan kecepatan adopsi AI. Hal tersebut dipaparkannya di sela-sela ajang SAP Now AI Tour Southeast Asia 2026.
"Jika kita melihat lanskap makroekonomi, PDB secara umum di negara-negara Asia Tenggara seperti Indonesia, Vietnam, dan Filipina berada di kisaran 5 persen. Ini mencerminkan adanya perkembangan bisnis yang sangat pesat dan dinamis," ungkap Liher.
Menurut Liher, laju pertumbuhan ekonomi tersebut melahirkan kompleksitas operasional yang semakin tinggi bagi perusahaan-perusahaan di kawasan. Di saat yang sama, Asia Tenggara diberkahi dengan bonus demografi berupa populasi muda yang adaptif, siap belajar, dan terbuka terhadap adopsi teknologi baru.
"Di satu sisi, Anda memiliki akses luar biasa ke talenta muda yang digital native. Di sisi lain, Anda memiliki perusahaan-perusahaan yang terus berkembang dan membutuhkan teknologi untuk mengatasi kompleksitas bisnis. Ketika kedua faktor ini menyatu, hasilnya adalah akselerasi adopsi AI yang sangat luar biasa," terangnya.
Dinamika Makro dan Integrasi Kawasan
Selain faktor internal demografi, pesatnya adopsi AI juga didorong oleh perubahan profil ekonomi makro di kawasan. Integrasi perdagangan antarnegara anggota ASEAN, serta meningkatnya aktivitas bisnis antara Asia Tenggara dengan raksasa ekonomi seperti India dan China, menuntut efisiensi rantai pasok dan operasional yang jauh lebih tinggi.Studi terbaru bersama Oxford Economics menunjukkan bahwa dampak nyata AI sudah mulai terakselerasi di kawasan ini. Di Singapura, misalnya, sekitar 25 persen proses bisnis kini telah disokong oleh AI, dengan Return on Investment (ROI) yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Selain itu, hampir 9 dari 10 pelaku bisnis percaya bahwa AI akan mengubah lanskap industri mereka secara mendasar.
Untuk merespons kebutuhan tersebut, pendekatan adopsi AI di Asia Tenggara tidak hanya berfokus pada korporasi besar, melainkan juga menyasar sektor Usaha Kecil dan Menengah (UKM/SMB) melalui prinsip demokratisasi AI.
Liher menjelaskan bahwa pelaku usaha skala menengah di negara-negara seperti Indonesia, Thailand, hingga Filipina kini dapat langsung menikmati manfaat AI melalui aplikasi standar berbasis cloud tanpa harus memiliki departemen IT berskala besar atau investasi infrastruktur rumit dari nol.
"Bagi perusahaan menengah yang tidak memiliki kemampuan membangun model AI sendiri, mengonsumsi aplikasi standar terintegrasi memungkinkan mereka mendapatkan nilai bisnis (business value) secara jauh lebih cepat dan efisien. Inilah alasan mengapa adopsi solusi ERP Public Cloud berkembang pesat di seluruh kawasan," pungkas Liher.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda