Mengutip Gizmochina, kelima negara tersebut adalah Kenya, Filipina, Arab Saudi, Turki, dan Brasil. Setiap peserta akan memiliki satu potret beserta kisah personalnya, dengan fokus pada pengalaman individu, bukan menjadikan seseorang sebagai representasi suatu negara, budaya, generasi, atau kelompok sosial tertentu.
Proyek ini mengeksplorasi seseorang mendefinisikan dirinya melalui pilihan, pengalaman, perubahan, dan proses perkembangan dalam kehidupannya. Tecno dan Dass juga mengangkat pembahasan mengenai peran teknologi dan kecerdasan buatan (AI) dalam fotografi, pengenalan wajah, representasi, serta kategorisasi manusia.
Perluas Konsep Representasi Lewat Fotografi
100 Portraits of Becoming melanjutkan upaya TECNO dalam menghadirkan teknologi pencitraan lebih inklusif melalui Universal Tone. Teknologi tersebut dikembangkan untuk merepresentasikan berbagai warna kulit secara lebih natural.Melalui proyek terbaru ini, fokus representasi diperluas dari aspek warna kulit menuju cerita personal di balik setiap gambar. Tecno dan Dass ingin mengeksplorasi identitas manusia di luar label sosial, ekspektasi budaya, stereotip, dan kategori tertentu.
Dalam proses pemotretan, Dass menggunakan smartphone Tecno untuk mengabadikan para peserta. Pendekatan yang digunakan tidak hanya berfokus pada aspek teknis fotografi, tetapi juga proses membangun hubungan dengan subjek.
Dass menempatkan proses mendengarkan, membangun kepercayaan, dan memahami pengalaman seseorang sebagai bagian dari proses pembuatan potret. Menurut pendekatan tersebut, kamera berfungsi sebagai alat untuk membagikan pengalaman serta pertemuan antara fotografer dan subjek.

Kenya Jadi Bab Pertama Proyek
Kenya menjadi negara pertama dalam rangkaian 100 Portraits of Becoming. Bab pembuka ini menampilkan 20 orang beserta kisah personal mereka. Cerita yang diangkat mencakup kesuksesan, pilihan karier, peluang, komunitas, rasa memiliki, hingga perkembangan diri.Salah satu peserta adalah Alex Mutua Muli, yang melihat petani di komunitasnya kesulitan memperoleh pasar untuk hasil pertanian. Alih-alih pindah ke kota besar untuk mencari peluang, ia memilih tetap berada di komunitasnya dan ikut mendirikan Goshen Farm Exporters.
Perusahaan tersebut menghubungkan petani lokal dengan pasar lebih luas. Kisah lainnya datang dari Alexander Odhiambo, bersama teman-temannya membangun perusahaan software dari apartemen kecil di Nairobi.
Kemudian, perusahaan tersebut berkembang ke pasar Afrika sekaligus menciptakan peluang bagi talenta lokal. Sementara itu, Jelimo Cheboi memulai aktivitas skateboard pada tahun 2022. Setelah melihat terbatasnya ruang bagi perempuan dalam komunitas tersebut, Cheboi ikut mendirikan GirlSkate Nairobi.
Komunitas yang awalnya bermula dari grup WhatsApp tersebut kemudian berkembang menjadi ruang bagi perempuan dan anak perempuan untuk bermain skateboard, berinteraksi, dan mengekspresikan diri.
Ketiga cerita tersebut menjadi bagian dari 20 kisah pada bab Kenya. Proyek ini menempatkan setiap individu sebagai cerita tersendiri, bukan sebagai representasi dari kelompok atau wilayah tertentu.
Filipina Jadi Bab Berikutnya
Setelah Kenya, 100 Portraits of Becoming akan berlanjut ke Filipina melalui bab bertajuk Beyond Many Labels. Bab ini akan menampilkan 20 individu, termasuk ibu tunggal yang bekerja serta sejumlah orang dengan pengalaman yang berkaitan dengan kehidupan sebagai orang tua tunggal.Cerita dalam bab tersebut akan mengeksplorasi kehidupan di luar label seperti single mother, breadwinner, dan strong woman. Pembahasannya mencakup perkembangan diri, hubungan, ambisi, keluarga, pekerjaan, serta pilihan dalam kehidupan sehari-hari.
Proyek tersebut juga mengangkat konsep diskarte, yaitu kemampuan untuk beradaptasi, mengambil keputusan praktis, dan mencari jalan keluar dalam menghadapi berbagai tantangan sehari-hari. Setelah Filipina, proyek akan berlanjut ke Arab Saudi pada akhir tahun 2026, kemudian Turki dan Brasil pada tahun 2027.
Secara keseluruhan, Tecno dan Angélica Dass menargetkan 100 potret dari 100 individu dengan 100 cerita berbeda selama proyek berlangsung selama dua tahun. Bab Kenya dalam proyek ini dipotret menggunakan Tecno Camon 50 Ultra 5G, sedangkan bab Filipina akan berkaitan dengan Tecno Camon Slim 5G.