Melalui unggahan di media sosial X, Cheng membagikan infografik yang menyebut sekitar 90% lalu lintas internet internasional Indonesia melewati Singapura. Dalam unggahan pada tanggal 25 Oktober 2026, Cheng menyertakan pertanyaan singkat, Cut? atau Potong?.
Unggahan tersebut memunculkan perhatian karena muncul saat pemerintah Indonesia mengurangi pasokan gas alam ke Singapura untuk memprioritaskan kebutuhan domestik. Cheng kemudian menegaskan bahwa Singapura merupakan negara yang taat hukum dan tidak akan melakukan tindakan pemutusan konektivitas tersebut.
Dengan demikian, unggahan itu tidak dapat diartikan sebagai pengumuman kebijakan resmi Singapura untuk memutus akses internet Indonesia. Isu ini menyoroti keterkaitan antara infrastruktur digital dan hubungan ekonomi kedua negara.
Singapura merupakan salah satu pusat konektivitas digital utama di Asia Tenggara, sedangkan Indonesia masih berupaya memperluas jalur alternatif agar lalu lintas datanya tidak terlalu bergantung pada satu titik koneksi internasional.
Cut ? https://t.co/cjVaet4Y4V
— Calvin Cheng (@calvinelcheng) October 25, 2026
Ketergantungan Internet Indonesia Jadi Sorotan
Infografik yang dibagikan Cheng mengangkat posisi Singapura sebagai jalur utama bagi lalu lintas internet internasional Indonesia. Angka ketergantungan sekitar 90% tersebut juga pernah disampaikan oleh Direktur Strategi dan Kebijakan Infrastruktur Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) Denny Setiawan pada bulan Juni 2026.Denny menyebut sebagian besar lalu lintas data Indonesia masih bergantung pada jalur konektivitas yang melewati Singapura. Ia menilai kondisi tersebut menjadi tantangan bagi Indonesia saat kebutuhan konektivitas meningkat seiring perkembangan ekonomi digital dan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Ketergantungan pada satu koridor konektivitas dapat meningkatkan risiko apabila terjadi gangguan pada infrastruktur yang menjadi jalur utama pertukaran data. Karena itu, Indonesia perlu memperluas pilihan rute agar koneksi internasional tetap tersedia saat salah satu jalur mengalami masalah.
Sebagai informasi, infrastruktur kabel bawah laut menjadi bagian penting dalam persoalan ini. Kabel serat optik bawah laut membawa sebagian besar komunikasi data internasional, termasuk akses situs web, surat elektronik, dan panggilan video.
Singapura memiliki posisi strategis sebagai pusat jaringan regional dengan jaringan kabel bawah laut, pusat data, serta layanan cloud internasional. Namun, besarnya ketergantungan tersebut tidak berarti seluruh konektivitas internet Indonesia dapat diputus hanya melalui satu tindakan.
Infrastruktur digital melibatkan berbagai kabel, titik pendaratan, operator jaringan, dan penyedia layanan. Risiko aktual bergantung pada jalur yang digunakan serta ketersediaan koneksi alternatif.
Pemerintah Dorong Diversifikasi Jalur Digital
Pemerintah Indonesia telah menyoroti perlunya diversifikasi konektivitas untuk mengurangi ketergantungan terhadap Singapura. Langkah tersebut mencakup pengembangan jalur kabel bawah laut dan koneksi darat alternatif, serta penguatan infrastruktur digital di berbagai wilayah Indonesia.Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid juga menanggapi perdebatan mengenai posisi Singapura dalam jaringan internet Indonesia. Melalui unggahan di Instagram pada tanggal 27 Oktober 2026, Meutya menyampaikan bahwa sebagian besar jalur kabel bawah laut yang mendarat di Singapura melewati perairan Indonesia.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa posisi geografis Indonesia juga memiliki peran penting dalam jaringan kabel bawah laut regional. Namun, keberadaan kabel yang melewati perairan Indonesia tidak dengan sendirinya berarti Indonesia memiliki kendali penuh atas seluruh kabel, titik pendaratan, atau lalu lintas data yang menggunakan infrastruktur tersebut.
Upaya mengurangi ketergantungan membutuhkan investasi besar karena Indonesia merupakan negara kepulauan dengan wilayah geografis luas. Pembangunan jaringan alternatif memerlukan kabel bawah laut tambahan, fasilitas pendaratan kabel, koneksi antarpulau, serta dukungan operator dan penyedia infrastruktur.
Selain itu, ketahanan digital tidak hanya bergantung pada kabel bawah laut. Ketergantungan terhadap pusat data, layanan cloud, dan penyedia teknologi juga perlu dipetakan untuk mengetahui titik kegagalan yang dapat mengganggu layanan penting.
Karena itu, diversifikasi jaringan tidak harus dimaknai sebagai upaya memutus hubungan digital dengan Singapura. Langkah ini bertujuan untuk memperbanyak jalur alternatif dan mengurangi risiko ketika terjadi gangguan pada satu koridor konektivitas.
Pengurangan Pasokan Gas Memicu Perhatian
Sorotan Cheng terhadap konektivitas internet muncul di tengah keputusan Indonesia mengurangi pasokan gas alam melalui pipa ke Singapura. Kebijakan tersebut mulai berlaku pada tanggal 24 Oktober 2026, dengan pengurangan sekitar 31 miliar British thermal unit per hari (BBTUD).Pemerintah Indonesia menyatakan langkah tersebut berkaitan dengan kebutuhan energi domestik, termasuk untuk mendukung pasokan listrik dan kegiatan industri di dalam negeri. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengatakan pengurangan tersebut masih berada dalam batas minimum pasokan yang diatur dalam perjanjian jual beli gas antara kedua negara.
Menurut Bahlil, pemerintah memangkas sekitar 8% dari volume pasokan gas yang dikirimkan ke Singapura. Ia menyebut ketentuan kontrak menetapkan batas minimum pasokan pada kisaran 91% hingga 92% dari volume yang disepakati. Karena itu, pemerintah menilai pengurangan tersebut belum melanggar perjanjian yang berlaku.
Di sisi lain, Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong sebelumnya meminta seluruh pihak menghormati komitmen komersial yang telah disepakati. Pemerintah Singapura juga menyatakan akan melindungi hak dan kepentingannya berdasarkan kontrak pasokan gas.
Kendati kedua isu muncul dalam periode yang sama, belum ada bukti bahwa pengurangan pasokan gas dan pembahasan mengenai konektivitas internet merupakan bagian dari kebijakan saling membalas secara resmi.
Unggahan Cheng lebih tepat dipahami sebagai komentar mengenai posisi strategis Singapura dalam infrastruktur digital regional di tengah ketegangan terkait pasokan energi. Peristiwa ini memperlihatkan pentingnya ketahanan infrastruktur bagi kedua negara.
Indonesia perlu memperkuat jalur konektivitas digital alternatif, sedangkan hubungan perdagangan energi dan layanan lintas batas tetap membutuhkan kepastian kontrak serta kerja sama regional.