Ilustrasi: Kaspersky
Ilustrasi: Kaspersky

Bukan Windows, Pengguna macOS Malah Lebih Sering Jadi Korban Serangan Siber

Mohamad Mamduh • 18 Agustus 2026 14:57
Ringkasnya gini..
  • Stereotip lama dalam dunia teknologi menyebutkan bahwa perangkat berbasis macOS jauh lebih aman daripada Windows.
  • Mereka juga aktif menggunakan teknik rekayasa sosial seperti phishing serta serangan rantai pasok.
  • Penggunaan aplikasi pengelola kata sandi (password manager) yang mendukung sinkronisasi passkey juga menjadi langkah strategis
Jakarta: Survei global yang dirilis pada Agustus 2026 mengungkapkan fakta bahwa pengguna macOS justru lebih banyak menjadi korban infeksi malware dan serangan siber dalam satu tahun terakhir dibandingkan dengan pengguna Windows.
 
Stereotip lama dalam dunia teknologi menyebutkan bahwa perangkat berbasis macOS jauh lebih aman daripada Windows karena memiliki sistem pertahanan bawaan yang kokoh serta basis pengguna yang lebih kecil. Namun, temuan terbaru dari raksasa keamanan siber Kaspersky mematahkan anggapan tersebut.
 
Berdasarkan studi yang melibatkan 7.200 responden dari 18 negara, termasuk Indonesia, tercatat bahwa 12% pengguna macOS melaporkan perangkat mereka telah terinfeksi malware. Angka ini lebih tinggi dibandingkan pengguna Windows yang hanya berada di angka 9%. Ironisnya, di tengah tingginya ancaman ini, kesadaran proteksi pengguna macOS tergolong sangat rendah. Hanya 35% pemilik Mac yang menginstal perangkat lunak keamanan tambahan khusus, sementara pengguna Windows yang memasang proteksi digital mencapai 42%.

Pakar keamanan siber Kaspersky, Sergey Puzan, menjelaskan bahwa lanskap ancaman siber telah berevolusi secara drastis. Penjahat siber saat ini tidak lagi hanya mengandalkan kelemahan sistem operasi. Mereka juga aktif menggunakan teknik rekayasa sosial seperti phishing serta serangan rantai pasok yang dapat menyerang platform apa pun dalam satu kampanye massal. Sergey menegaskan bahwa malware khusus Mac bukan lagi hal langka, dan terdapat banyak jenis payload berbahaya yang dirancang eksklusif untuk menargetkan ekosistem Apple.
 
Data survei secara mendetail menunjukkan kesenjangan kebiasaan keamanan yang cukup lebar. Dalam hal kewaspadaan dasar seperti menghindari pembukaan email atau tautan mencurigakan, 62% pengguna Windows sudah menerapkannya, sedangkan pengguna macOS hanya berada di angka 51%.
 
Kecerobohan ini berdampak pada tingginya angka penipuan yang dialami pengguna Mac. Selama setahun terakhir, pengguna macOS lebih banyak menghadapi insiden phishing (12% berbanding 9%), penipuan investasi umum (16% berbanding 13%), pelanggaran privasi (11% berbanding 8%), hingga pencurian data pribadi (12% berbanding 7%).
 
Tidak hanya dalam menghadapi infeksi luar, pengguna Windows juga terbukti lebih disiplin dalam pengelolaan kredensial akun. Pengguna Windows mengungguli pengguna macOS dalam hal pembuatan kata sandi yang kompleks (52% berbanding 45%), penggunaan kata sandi unik untuk setiap akun yang berbeda (38% berbanding 35%), serta penerapan fitur autentikasi dua faktor atau multifaktor (51% berbanding 46%).
 
Kaspersky mengingatkan bahwa mengandalkan perlindungan bawaan perangkat saja tidak lagi cukup di era digital saat ini. Solusi perlindungan anti-malware dan anti-phishing pihak ketiga yang andal untuk macOS sangat krusial untuk memberikan lapisan deteksi real-time.
 
Selain itu, penggunaan aplikasi pengelola kata sandi (password manager) yang mendukung sinkronisasi passkey juga menjadi langkah strategis untuk mengamankan brankas data pribadi dari ancaman kebocoran massal di internet.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA