Ilustrasi: BRIN
Ilustrasi: BRIN

BRIN Kembangkan Antena untuk Teknologi 6G

Mohamad Mamduh • 23 Februari 2026 16:09
Ringkasnya gini..
  • Selain itu, lanjut dia, dalam satu perangkat terdapat beberapa antena, seperti antena seluler, wifi, bluetooth, dan antena lainnya.
  • Selain penelitian antena untuk perangkat seluler, Yohanes dan tim mengembangkan antena untuk komunikasi satelit (SATCOM).
  • Selain laboratorium tematik, PRT BRIN juga dilengkapi dengan near-field anechoic chamber yang digunakan untuk pengujian dan karakterisasi antena.
Pesatnya perkembangan teknologi global mendorong Indonesia untuk terus berinovasi agar tidak tertinggal dari negara lain. Salah satu teknologi yang saat ini menjadi perhatian dunia adalah jaringan komunikasi generasi keenam atau 6G.
 
Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Telekomunikasi (PRT) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yohanes Galih Adhiyoga, mengatakan fokus riset yang tengah dikembangkan saat ini adalah antena mikrostrip single layer dan multilayer untuk teknologi 6G. Antena tersebut dirancang dengan dimensi yang sangat kecil agar dapat diintegrasikan ke dalam perangkat telepon seluler.
 
“Kita tidak mungkin memiliki antena yang dimensinya melebihi ukuran telepon seluler itu sendiri. Oleh karena itu, antena harus dirancang sekecil mungkin agar dapat ditempatkan di dalam perangkat,” katanya, di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Samaun Samadikun, Bandung, Rabu (4/2).

Selain itu, lanjut dia, dalam satu perangkat terdapat beberapa antena, seperti antena seluler, wifi, bluetooth, dan antena lainnya. “Sehingga, desainnya harus benar-benar dipertimbangkan,” ujar Yohanes.
 
Ia memaparkan seluruh proses penelitian dilakukan dengan beberapa tahapan proses, mulai dari simulasi, optimasi, fabrikasi, hingga pengukuran yang dilakukan di laboratorium. “Makanya, kita kemarin ada pengadaan di 110 GHz. Jadi, antena-antena itu nanti diuji sampai frekuensi setinggi itu,” jelasnya.
 
“Kita juga telah lakukan beberapa pengukuran, seperti s-parameter, pola radiasi, dan karakteristik lainnya. Hal ini menjadi studi awal pengembangan teknologi 6G yang ke depan berpotensi digunakan pada frekuensi millimeter-wave di Indonesia,” tambah Yohanes.
 
Selain penelitian antena untuk perangkat seluler, Yohanes dan tim mengembangkan antena untuk komunikasi satelit (SATCOM). Pengembangan ini dilakukan melalui pembuatan prototipe antena untuk memastikan komunikasi tetap dapat terjalin antara satelit yang berada pada orbit geostasioner dengan ground station di Bumi.
 
Untuk mendukung hal itu, tim riset PRT BRIN sedang mengembangkan phased array system dengan mengadopsi konsep yang digunakan pada teknologi Starlink. Sistem ini memungkinkan beam antena dikendalikan secara elektronik tanpa adanya pergerakan mekanis.
 
“Antena secara fisik tetap diam, namun dari sudut pandang elektromagnetik, arah pancaran sinyalnya dapat bergerak. Hal ini penting karena satelit orbit rendah memiliki pergerakan yang cepat, sehingga antena juga harus mampu mengikuti pergerakan satelit tersebut,” terangnya.
 
Untuk mendukung kegiatan riset tersebut, PRT BRIN didukung infrastruktur laboratorium, seperti Communication and Signal Processing (CSP) Laboratory; RF, Microwave, Acoustic, and Photonic (RFMAP) Laboratory; Antenna and Propagation (AP) Laboratory; Advanced Network Protocol (ANP) Laboratory; serta Audio Visual Transmission Laboratory.
 
Selain laboratorium tematik, PRT BRIN juga dilengkapi dengan near-field anechoic chamber yang digunakan untuk pengujian dan karakterisasi antena secara presisi. Dari sisi peralatan, tersedia network analyzer dengan kemampuan pengukuran hingga 110 GHz, serta LPKF protolaser H4 yang mendukung proses fabrikasi prototipe perangkat elektronik berpresisi tinggi.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA