LinkedIn dilaporkan mengalami kebocoran data sebanyak 500 juta pengguna platform miliknya.
LinkedIn dilaporkan mengalami kebocoran data sebanyak 500 juta pengguna platform miliknya.

500 Juta Data Pengguna LinkedIn Dilelang

Teknologi teknologi
Lufthi Anggraeni • 12 April 2021 11:16
Jakarta: LinkedIn dilaporkan mengalami kebocoran data, dan sebagai akibatnya, sebanyak 500 juta data pengguna berisi profil pengguna jejaring sosial untuk profesional ini dilelang oleh peretas di forum.
 
Insiden ini terjadi beberapa hari setelah Facebook juga mengalami kebocoran besar. Informasi yang beredar menyebut 500 juta data profil LinkedIn yang mengalami kebocoran berisi informasi pribadi termasuk nama lengkap, alamat email, nomor telepon, informasi tempat kerja, dan lainnya.
 
Untuk membuktikan keabsahan informasi ini, pelaku memasukan dua juta data pengguna LinkedIn sebagai sampel, dan pengguna di forum peretas ini dapat memperoleh akses untuk melihat data sampel tersebut dengan membayarkan biaya sebesar USD2 (Rp29.000).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pelaku juga melelang 500 juta data pengguna dengan harga cukup besar, mencapai empat digit diyakini dalam bentuk mata uang digital, bitcoin. Selain itu, pelaku pelelangan juga menegaskan bahwa data tersebut memang diambil dari LinkedIn.
 
Tim investigasi Cybernews telah mengonfirmasi pernyataan pelaku, bahwa data sampel tersebut sah. Hingga saat ini, tim investigasi Cybernews mengaku tidak dapat menemukan data yang sangat sensitif seperti detail kartu kredit atau dokumen hukum lain.
 
Hanya berisi informasi profil, bukan berarti kebocoran data LinkedIn ini tidak berbahaya. Kebocoran data ini tetap berbahaya karena dengan menggabungkan sejumlah informasi yang didapatkan peretas, pelaku dapat melakukan serangan phising dan rekayasa sosial, berpotensi merugikan berbagai pihak.
 
Pengguna platform LinkedIn disarankan untuk mengubah kata sandi atau password akun LinkedIn dan kata sandi email terkait sebagai langkah penanggulangan kebocoran data ini. Selain itu, password juga disarankan memiliki kekuatan tinggi, acak dan unik.
 
Pengguna juga disarankan untuk mengaktifkan fitur keamanan two-factor authentication (2FA), tidak hanya di LinkedIn, namun juga seluruh media sosial. Selain itu, pengguna juga disarankan untuk lebih waspada terhadap pesan LinkedIn dan permintaan koneksi dari pihak yang tidak dikenal.
 
Potensi phising yang mengintai setiap kebocoran data dari platform jejaring sosial, termasuk LinkedIn, mengharuskan pengguna internet untuk waspada dan tidak sembarang membuka tautan yang dikirimkan oleh alamat email tidak dikenal atau mencurigakan.
 
(MMI)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif