Huawei memperkenalkan integrasi layanan, jaringan, dan komputasi di MWC Shanghai 2026 untuk membantu operator telekomunikasi memonetisasi token dan layanan AI.
Huawei memperkenalkan integrasi layanan, jaringan, dan komputasi di MWC Shanghai 2026 untuk membantu operator telekomunikasi memonetisasi token dan layanan AI.

Huawei Dorong Monetisasi Token Operator via Integrasi Jaringan dan Komputasi

Lufthi Anggraeni • 25 Juni 2026 08:29
Ringkasnya gini..
  • Huawei memperkenalkan strategi integrasi layanan, jaringan, dan komputasi untuk membantu operator telekomunikasi memperoleh pendapatan baru dari layanan AI dan ekonomi token.
  • Perusahaan meluncurkan konsep AI-Centric Target Network yang menggabungkan jaringan komunikasi, jaringan komputasi, dan infrastruktur AI guna mendukung monetisasi bytes maupun token.
  • Huawei menyebut jumlah pengguna 5G-A global telah melampaui 100 juta dan memperkirakan pertumbuhan AI agent akan mendorong kebutuhan jaringan berkecepatan tinggi dengan latensi rendah serta kemampuan uplink lebih besar.
Shanghai: Huawei memanfaatkan ajang MWC Shanghai 2026 untuk memperkenalkan berbagai inovasi yang mengintegrasikan layanan, jaringan, dan komputasi guna membantu operator telekomunikasi global menciptakan sumber pendapatan baru dari ekonomi berbasis AI dan token. 
 
Langkah ini ditujukan untuk membantu industri telekomunikasi memanfaatkan pertumbuhan pesat model AI dan AI agent yang kian banyak digunakan di berbagai sektor. Dalam pidato utamanya di MWC Shanghai 2026, David Wang, Wakil Ketua dan Rotating Chairman Huawei, menjelaskan bahwa industri komunikasi seluler tengah memasuki era kecerdasan (intelligence era).
 
Menurutnya, transformasi yang didorong AI akan menjadi fondasi pertumbuhan industri telekomunikasi selama satu dekade ke depan. Wang menegaskan bahwa selama 40 tahun terakhir, setiap generasi teknologi seluler telah berhasil meningkatkan efisiensi spektrum, performa jaringan, serta membuka peluang layanan baru.

“Arsitektur jaringan secara bertahap menjadi lebih datar, dengan munculnya berbagai skenario aplikasi dan layanan baru di mana-mana. Hal ini secara konsisten memperluas batasan komunikasi, membantu operator menerjemahkan kemampuan jaringan menjadi nilai komersial,” ujar Wang.
 
Wang menyebut kini AI menjadi katalis berikutnya yang dapat mengubah cara operator mengelola jaringan sekaligus memonetisasi kapabilitas mereka. Huawei mengidentifikasi enam prioritas utama untuk mendukung pertumbuhan industri telekomunikasi di era AI.
 
Prioritas tersebut mencakup pengembangan layanan dan kemampuan baru untuk sistem komunikasi masa depan, integrasi AI ke dalam jaringan seluler, pembangunan arsitektur komunikasi satelit-terestrial terintegrasi, perencanaan spektrum berkelanjutan, pengembangan jaringan inti berbasis AI-native, serta eksplorasi model bisnis baru untuk layanan seluler.
 
Pada sisi layanan, Huawei bersama tiga operator telekomunikasi terbesar di Tiongkok memperkenalkan inovasi terkait monetisasi pengalaman, layanan 5G-Advanced (5G-A) dengan kemampuan uplink tinggi, transformasi bisnis berbasis AI, serta monetisasi token.
 
Menurut Huawei, model bisnis berbasis token akan menjadi salah satu peluang pendapatan baru bagi operator seiring meningkatnya penggunaan layanan AI di perangkat konsumen maupun sektor industri. Untuk mendukung strategi tersebut, Huawei meluncurkan konsep AI-Centric Target Network.
 
Lebih lanjut Huawei menjelaskan bahwa AI-Centric Target Network merupakan arsitektur jaringan yang dirancang agar operator mampu memperoleh nilai bisnis tidak hanya dari lalu lintas data (bytes), tetapi juga dari konsumsi layanan AI dan token digital.
 
Infrastruktur ini mencakup jaringan komunikasi, jaringan komputasi, serta infrastruktur komputasi AI yang saling terintegrasi. Huawei turut menjelaskan bahwa jaringan komunikasi masa depan akan bergeser dari pendekatan yang berfokus pada lalu lintas data menuju jaringan yang mendukung interaksi real-time dengan kualitas layanan terjamin.
 
Sementara itu, jaringan komputasi akan berevolusi dari sekadar transportasi data menjadi sistem yang mampu menjadwalkan dan menyediakan sumber daya komputasi secara menyeluruh. Dalam konsep tersebut, terhubung ke jaringan pada dasarnya setara dengan memperoleh akses ke sumber daya komputasi.
 
Huawei juga menyoroti meningkatnya kebutuhan uplink akibat perkembangan AI agent dan perangkat berbasis AI. Huawei menyebut kacamata AI generasi terbaru, misalnya, membutuhkan kecepatan uplink sekitar 20Mbps untuk mendukung interaksi multimodal secara real-time seperti penerjemahan dan pemrosesan visual.
 
Karena itu, operator mulai mengeksplorasi layanan komersial berbasis high-uplink yang menawarkan jaminan kecepatan, latensi, dan kualitas koneksi. Huawei memperkirakan ledakan penggunaan AI agent akan mendorong pertumbuhan layanan berbasis token secara signifikan. 
 
Untuk mendukung kebutuhan tersebut, operator memerlukan jaringan ultra-broadband dengan karakteristik uplink tinggi, latensi rendah, dan reliabilitas tinggi. Huawei menilai pita frekuensi Upper 6 GHz (U6 GHz) akan menjadi salah satu fondasi penting bagi jaringan generasi berikutnya yang mendukung layanan AI dan ekonomi token atau token economy.
 
Menurut Huawei, jumlah pengguna 5G-A secara global kini telah melampaui 100 juta. Huawei saat ini bekerja sama dengan berbagai operator di dunia untuk memperluas monetisasi pengalaman 5G-A, meningkatkan retensi pelanggan premium, serta mendorong pertumbuhan pendapatan rata-rata per pengguna (ARPU).
 
Ke depan, Huawei berencana memperluas kolaborasi dengan operator untuk menghadirkan layanan AI bagi segmen konsumen maupun perusahaan. Integrasi jaringan dan komputasi diharapkan dapat membuka peluang bisnis baru melalui asisten rumah pintar, asisten komunikasi pribadi, layanan AI enterprise, hingga penyediaan kapasitas komputasi berbasis jaringan.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(MMI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA