Dalam survei terbarunya, Cisco menemukan fakta bahwa meski 85% perusahaan sedang bereksperimen dengan agen AI, hanya 5% yang benar-benar telah menerapkannya secara penuh.
Jeetu Patel, President dan Chief Product Officer Cisco, menekankan bahwa agen AI bukan sekadar alat bantu, melainkan "tenaga kerja baru" yang mampu melakukan tindakan nyata, bukan hanya menjawab pertanyaan. Oleh karena itu, memastikan keamanan tenaga kerja agentic ini sangat krusial untuk membangun kepercayaan organisasi.
Strategi Cisco berfokus pada tiga perlindungan utama: melindungi dunia dari tindakan agen yang tidak semestinya, melindungi agen dari manipulasi pihak luar, serta mendeteksi insiden AI dengan kecepatan mesin. Untuk mencapai hal ini, Cisco memperluas konsep Zero Trust Access ke ranah agen AI.
Melalui fitur baru di Duo IAM, perusahaan kini dapat memberikan identitas terverifikasi pada setiap agen dan menghubungkannya dengan penanggung jawab manusia. Dengan integrasi Model Context Protocol (MCP) di Cisco Secure Access, organisasi bisa menerapkan kontrol akses yang sangat spesifik, memastikan agen hanya memiliki izin untuk tugas tertentu dalam waktu terbatas.
Cisco juga meluncurkan Cisco AI Defense: Explorer Edition, sebuah solusi mandiri bagi pengembang untuk melakukan red teaming atau uji coba serangan terhadap model AI sebelum diluncurkan.
Alat ini membantu mengidentifikasi kerentanan seperti prompt injection dan jailbreak. Selain itu, diperkenalkan pula DefenseClaw, sebuah kerangka kerja open source yang mengotomatisasi inventarisasi aset AI dan keamanan saat runtime melalui integrasi dengan NVIDIA OpenShell.
Di sisi operasional, Splunk (bagian dari Cisco) memperkenalkan inovasi untuk mengubah Pusat Operasi Keamanan (SOC) dari reaktif menjadi proaktif. Dengan Agentic SOC, berbagai agen AI khusus seperti Agen Triage dan Agen Respons Terpandu akan membantu analis mengotomatisasi alur kerja, sehingga tim keamanan dapat merespons ancaman secepat pergerakan musuh.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News